Bayangan di Tengah Angin Laut
Angin selatan berhembus kencang di malam hari di Pantai Parangtritis. Udara asin bercampur lembap, menciptakan suasana yang dingin menusuk tulang. Ombak menggulung ganas, menampar batu karang dan memecah keheningan malam.
Di antara desir angin itu, terselip suara lirih perempuan menangis. Sebagian warga percaya, itu suara wewe gombel — makhluk halus perempuan yang kehilangan jiwanya karena dendam dan kesepian.
Malam itu, Raka, seorang jurnalis muda, datang untuk menulis kisah tentang legenda urban Parangtritis. Ia tak percaya dengan cerita mistis. Namun, semua berubah ketika angin membawa aroma bunga kamboja dan bisikan yang terdengar jelas memanggil namanya.
“Raka…”
Suara itu melayang lembut, tapi membuat bulu kuduk berdiri.
Legenda yang Tak Pernah Padam
Menurut cerita penduduk lokal, wewe gombel dulunya adalah seorang perempuan yang meninggal tragis di masa lampau. Ia kehilangan anaknya dan jiwanya tak pernah tenang. Arwahnya gentayangan, menculik anak-anak yang ditinggal orang tuanya, merawat mereka di dunia gaib — bukan karena jahat, tetapi karena kesepian.
Namun, legenda Parangtritis memiliki versi yang lebih kelam. Dikatakan bahwa makhluk itu bukan sekadar perawat arwah anak-anak, tetapi penjaga gerbang dunia roh di pantai selatan. Ia muncul ketika malam berkabut dan angin laut terasa aneh, seperti membawa napas seseorang yang tak terlihat.
Pak Mardi, nelayan tua yang ditemui Raka di warung pinggir pantai, menatap laut sambil menyalakan rokoknya.
“Kalau kamu dengar suara tangisan perempuan di malam Parangtritis, jangan lihat ke belakang,” katanya.
Raka tertawa kecil, mencoba menepis rasa takut. “Kenapa begitu, Pak?”
“Karena kalau kau lihat, kau akan melihat matanya. Dan kalau kau menatap matanya, dia akan mengikuti sampai kau kembali ke rumah.”
Raka menganggap itu hanya mitos pengantar malam, hingga suara tangisan itu benar-benar ia dengar sendiri.
Malam di Parangtritis: Panggilan dari Laut
Pukul sebelas malam, Raka menyalakan perekam suara dan berdiri di bibir pantai. Ombak besar menggulung di bawah cahaya bulan separuh. Pasir di kakinya dingin dan lembap.
Ia menekan tombol rekam dan berbicara pelan:
“Ini Raka, merekam suasana malam Parangtritis untuk laporan tentang legenda wewe gombel…”
Namun tiba-tiba, udara di sekitarnya berubah. Suara jangkrik hilang. Angin berhenti. Laut terasa diam — terlalu diam.
Lalu dari arah kanan, terdengar suara langkah pelan di atas pasir, seperti seseorang berjalan tanpa alas kaki.
“Raka…”
Ia memutar tubuh cepat. Tak ada siapa-siapa. Hanya kabut tipis yang mulai turun dari perbukitan, melingkupi area pantai. Dalam kabut itu, samar-samar tampak sosok tinggi dengan rambut panjang terurai.
“Siapa di sana?” seru Raka, suaranya bergetar.
Sosok itu tidak menjawab. Hanya berdiri, diam, menatapnya. Lalu perlahan, tangan pucatnya terangkat menunjuk ke arah laut.
Angin kembali berhembus, kali ini membawa aroma busuk bercampur melati. Suara tawa lirih perempuan terdengar bersamaan dengan ombak yang tiba-tiba pecah keras.
Pertemuan Pertama dengan Wewe Gombel
Raka berlari ke arah penginapan, namun langkahnya seperti berat. Pasir seakan menarik tubuhnya ke bawah.
Ketika ia menoleh, sosok perempuan itu kini berada di belakangnya. Rambutnya menjuntai panjang, wajahnya pucat dengan mata kosong seperti kaca, dan mulutnya tersenyum lebar hingga ke pipi.
“Kau ingin menulis tentangku?” katanya dengan suara parau namun jelas.
“Maka tulislah… kisahku.”
Raka terdiam. Sosok itu melangkah mendekat, namun tubuhnya seperti kabut yang bergulung. Ia berhenti tepat di depan Raka, lalu menunjuk ke arah laut.
“Aku ada di antara dua dunia… laut dan langit. Aku menunggu mereka yang melupakan anaknya.”
Raka tak sanggup bicara. Tubuhnya gemetar. Sosok itu lalu memutar wajahnya — 180 derajat ke belakang — dan menghilang bersama hembusan angin kencang.
Ketika Raka sadar, ia sudah terbaring di depan penginapan, tubuhnya penuh pasir. Di tangannya, perekam suara masih menyala. Tapi suara yang terekam bukan ombak, melainkan tangisan anak kecil disusul tawa lirih seorang perempuan.
Jejak Kutukan di Pantai Selatan
Keesokan harinya, Raka menemui Bu Darmi, penjaga warung yang dikenal tahu banyak kisah mistis. Begitu mendengar cerita Raka, wajah wanita tua itu langsung pucat.
“Kalau kau mendengar tawa dan tangisan, berarti dia sudah memilihmu,” katanya lirih.
“Memilih?”
“Ya. Wewe gombel memilihmu untuk mendengar kisahnya. Kalau kau abaikan, dia akan menemuimu lagi sampai kau menuliskannya. Tapi kalau kau menulis tanpa izin… dia akan menjemput.”
Raka terdiam lama. Ia merasa semua itu hanya sugesti, tapi malam berikutnya mimpi buruk datang bertubi-tubi. Dalam mimpinya, ia berdiri di tepi tebing Parangtritis, melihat anak-anak berlari di bawah cahaya bulan — semuanya tanpa wajah, hanya sosok bayangan.
Dari belakang, suara perempuan terdengar lagi:
“Tulis kisahku, atau aku akan membuatmu menjadi bagianku.”
Kisah yang Harus Ditulis
Raka akhirnya memutuskan menulis kisah itu. Ia kembali ke pantai dengan buku catatan dan dupa melati, sesuai saran Bu Darmi. Di tempat ia pertama kali melihat sosok itu, ia menulis dengan tangan gemetar:
“Dulu ada seorang ibu kehilangan anaknya karena dibawa ombak Parangtritis. Ia mencari siang dan malam hingga ajal menjemput di bawah batu karang. Arwahnya tidak tenang. Ia menjadi penunggu di antara daratan dan laut, meresapi setiap napas manusia yang lupa bahwa laut bukan tempat bermain bagi anak-anak.”
Angin tiba-tiba berembus pelan, membawa suara seperti desahan lega. Raka merasakan sesuatu menyentuh pundaknya — lembut, dingin.
“Terima kasih,” bisik suara itu.
Ia menutup buku cepat dan berlari pulang. Tapi ketika ia membuka catatannya keesokan hari, di halaman terakhir tertulis kalimat baru yang bukan tulisannya:
“Sekarang kau telah menulis kisahku, maka kau bagian dari laut.”
Kehilangan dan Bisikan
Beberapa hari setelah kembali ke kota, Raka mulai berubah. Tubuhnya lemah, sering terbangun tengah malam karena mendengar suara tawa perempuan dari luar jendela.
Rekan kantornya, Sinta, menemukan Raka di meja kerjanya dengan tatapan kosong mengarah ke layar laptop. Di layar, ada naskah baru berjudul:
“Aku, Wewe Gombel dari Parangtritis.”
Ketika dibuka, seluruh tulisan di dalamnya berisi huruf-huruf acak, tapi di baris terakhir tertulis jelas:
“Jangan lupakan aku, karena aku selalu meresapi udara di sekitarmu.”
Sejak hari itu, Raka menghilang. Tak ada yang tahu ke mana ia pergi. Tapi setiap kali malam di Parangtritis berkabut, pengunjung mengaku melihat sosok lelaki muda berdiri di tepi pantai, menatap laut sambil menulis di buku catatan.
Epilog: Nafas dari Laut Selatan
Warga Parangtritis percaya bahwa legenda wewe gombel bukan hanya kisah masa lalu. Mereka berkata bahwa arwah itu kini bergentayangan bersama roh para penulis yang berani menuliskan kisahnya.
Bagi mereka yang peka, ketika udara laut tiba-tiba terasa berat dan aroma melati menyeruak di antara hembusan angin, itu tandanya wewe gombel sedang berjalan di sepanjang pantai, mencari jiwa baru untuk menulis kisahnya yang belum selesai.
Dan di malam-malam tertentu, ketika bulan separuh menggantung di atas ombak, suara perempuan terdengar samar:
“Aku masih di sini… meresapi udara pantai ini…”
Teknologi & Digital : Anak Muda Kuasai Teknologi, Tapi Lemah Dalam Literasi Data