Topeng Kayu Menangis di Pasar Seni Gianyar Terlarang

Topeng Kayu Menangis di Pasar Seni Gianyar Terlarang post thumbnail image

Awal dari Bisikan Malam

Di tengah jantung Gianyar, Bali, berdiri sebuah pasar seni tua yang kini sunyi dan terlupakan. Dahulu, tempat itu menjadi pusat kehidupan para pemahat dan pelukis. Namun sejak sebuah tragedi menimpa salah satu pengrajin, suasananya berubah mencekam. Sejak saat itu, pasar yang dulu ramai justru menjadi tempat orang berbisik ketakutan.

Suatu sore, Dini—seorang mahasiswi seni rupa dari Denpasar—memutuskan datang ke sana. Ia ingin meneliti estetika topeng kayu kuno Bali untuk tugas akhirnya. Walau banyak warga memperingatkan agar ia tidak ke pasar itu saat malam, rasa ingin tahunya justru tumbuh lebih besar. Karena itu, ia berangkat menjelang senja, berharap bisa menangkap suasana otentik pasar yang konon angker itu.

Ketika ia sampai, langit mulai berwarna jingga keunguan. Udara lembap, aroma dupa dan kayu tua bercampur menjadi bau khas yang menekan dada. Walaupun sebagian kios sudah roboh, beberapa masih berdiri, menyimpan bayangan masa lalu yang kelam.


Pertemuan dengan Pedagang Misterius

Saat Dini melangkah lebih dalam, suara serak terdengar dari balik kios yang gelap.
“Cari topeng?” tanya seseorang pelan namun jelas.

Ia menoleh, lalu melihat pria tua berkulit keriput dengan mata cekung dan tangan bergetar. Meskipun terlihat rapuh, auranya aneh dan kuat. Karena penasaran, Dini mengangguk perlahan.

“Kalau begitu, ikut aku,” ujar pria itu sambil berjalan perlahan ke arah kios paling belakang. “Namun ingat, yang akan kau lihat bukan untuk dijual.”

Karena rasa ingin tahunya semakin membuncah, Dini menuruti langkahnya. Mereka berjalan melewati lorong sempit yang dipenuhi patung dan ukiran berdebu. Ketika pria itu menyingkap kain hitam yang menutupi rak, hawa dingin langsung menyelimuti ruangan.


Tatapan dari Topeng Menangis

Di depan Dini, tampak sebuah topeng kayu berwarna gelap dengan ekspresi wajah aneh. Satu sisi tersenyum, sementara sisi lainnya menangis. Ukirannya begitu detail hingga tampak seperti hidup. Meskipun ia mencoba bersikap tenang, hawa di sekelilingnya terasa menekan, seolah udara menjadi berat.

“Ini topeng yang tidak boleh dijual,” kata pria tua itu. “Kayunya berasal dari pohon beringin tempat seorang pemahat gantung diri. Sejak itu, setiap ukiran yang lahir darinya membawa kesedihan dan kutukan.”

Walaupun merasa takut, Dini justru terpikat. Matanya tak bisa lepas dari tatapan topeng itu. Saat pandangannya terkunci, ia melihat seolah mata topeng itu bergerak sedikit, dan dari sudut matanya menetes cairan bening.

Terkejut, Dini mundur selangkah. “Apakah itu air?”

“Tidak,” jawab pria itu pelan, “itu air mata.”


Bayangan yang Mengikuti

Setelah berpamitan, Dini berjalan cepat meninggalkan pasar. Namun sepanjang jalan, ia merasa diikuti. Bayangan panjang terus membayang di belakangnya, meski setiap kali menoleh, tak ada siapa pun di sana. Karena ketakutan, ia berlari hingga sampai ke penginapan kecil tempatnya bermalam.

Malam itu, meski tubuhnya lelah, pikirannya sulit tenang. Sementara angin dari jendela meniup tirai perlahan, suara lirih terdengar seperti bisikan. Awalnya samar, namun lama-kelamaan berubah menjadi tangisan lembut.

Ketika Dini membuka mata, ia terkejut melihat sesuatu tergantung di sudut kamar—topeng kayu yang tadi dilihatnya di pasar. Padahal ia tak pernah membawanya pulang.

Lalu, dari arah topeng itu terdengar suara lirih.
“Kenapa kau membangunkanku?”

Tubuhnya langsung membeku. Ia ingin berteriak, tetapi suaranya lenyap. Seketika lampu kamar padam, dan dunia menjadi hitam total.


Rahasia Leluhur yang Terkubur

Keesokan paginya, pemilik penginapan menemukannya pingsan di lantai. Di dinding kamar, terlihat simbol-simbol kuno dari arang hitam. Di tengahnya tertulis aksara Bali: baliang — yang berarti penukar jiwa.

Setelah sadar, Dini memutuskan kembali menemui pria tua itu untuk mencari penjelasan. Namun ketika ia sampai di pasar, suasananya berbeda. Udara lebih pekat, dan aroma dupa terasa lebih menyengat.

Pria tua itu akhirnya mengaku bahwa topeng kayu tersebut dibuat oleh leluhurnya sendiri, I Wayan Patra, pemahat terkenal yang hidup pada abad lalu. Dulu, Wayan kehilangan istri dan anaknya karena wabah. Dalam keputusasaan, ia mencoba ritual kuno agar roh keluarganya bisa hidup dalam ukiran. Akan tetapi, upacara itu gagal dan justru memerangkap arwah mereka di dalam serat kayu.

“Sejak itu,” ucapnya dengan mata sendu, “topeng itu menangis setiap bulan purnama. Ia bukan sekadar benda seni, tapi wadah roh yang tak bisa kembali.”


Bulan Purnama dan Air Mata Darah

Meskipun Dini berusaha melupakan kejadian itu, setiap malam purnama ia selalu bermimpi. Dalam mimpinya, topeng-topeng di kios tua tertawa, sementara topeng menangis menatapnya dengan sedih.
“Gantikan aku,” suara itu bergema di kepalanya.

Saat terbangun, wajahnya basah oleh cairan merah gelap seperti darah. Walaupun ia mencuci berkali-kali, cairan itu terus mengalir. Panik, ia memutuskan kembali ke pasar untuk mengakhiri semuanya.

Ketika ia tiba, suasana pasar sunyi. Angin berembus membawa suara lirih. Sementara itu, dari arah lorong terdengar langkah-langkah kaki yang berat. Pria tua penjaga pasar muncul lagi, namun kali ini wajahnya lebih pucat.

“Sudah terlambat,” katanya dingin. “Topeng itu telah memilihmu.”


Ritual Penebusan

Dini membawa dupa dan bunga, berharap bisa menenangkan arwah yang terjebak. Namun begitu dupa dinyalakan, semua topeng di kios bergetar. Aroma dupa berubah menjadi bau busuk seperti kayu terbakar.

Seketika, topeng menangis itu melayang dari rak dan menempel di wajahnya. Dini berteriak histeris sambil berusaha melepaskannya, namun permukaan kayu itu justru menempel lebih kuat. Dalam sekejap, matanya berubah kaku, dan dari celah bibirnya keluar cairan hitam.

Ketika pria tua itu mencoba mendekat, tubuh Dini sudah membatu. Wajahnya kini separuh kayu, separuh manusia, dengan air mata yang terus mengalir deras.

“Sekarang kau penjaganya,” bisik suara yang entah berasal dari mana.


Kutukan yang Tak Pernah Padam

Sejak malam itu, tak ada lagi yang berani mendekati Pasar Seni Gianyar. Namun setiap kali bulan purnama tiba, beberapa orang mengaku mendengar tangisan di antara kios kosong. Kadang-kadang, terlihat sosok perempuan berwajah kayu berjalan pelan di bawah cahaya rembulan.

Sementara itu, kios tua di ujung pasar kini dijaga oleh seorang perempuan muda berkulit pucat. Ia duduk diam sambil memegang sebuah topeng kayu hitam. Setiap pengunjung yang lewat selalu ia panggil dengan suara lembut:
“Mau lihat topeng menangis?”

Dan siapa pun yang menjawab “ya,” keesokan harinya ditemukan duduk di depan kios yang sama—dengan wajah separuh manusia, separuh kayu.

Food & Traveling : Liburan Akhir Pekan Hemat ala Pelajar dan Mahasiswa

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post