Kedatangan di Penginapan Tua
Ketika aku menginjakkan kaki di depan “Penginapan Rimba Senja”, suasana redup menggelayuti. Lokasi terpencil di tepi hutan pinus membuat angin berdesir menembus kayu tua bangunan. Sesudah memarkir motor, aku menyeret koper menuju kamar nomor tujuh di lantai dua, di mana plang kayu bergantung miring. Fokus keyphrase televisi menyala sendiri melintas di pikiran—kisah tamu sebelumnya tentang layar gaib sudah beredar. Namun, lelah setelah perjalanan panjang membuatku mengabaikannya.
Penampakan Layar Gaib
Selanjutnya, saat malam semakin larut, aku menyalakan lampu meja untuk membaca peta perjalanan esok pagi. Tepat ketika jam dinding berdentum pukul sepuluh, televisi kotak di sudut kamar tiba-tiba menyala, menampilkan statis putih-hitam tanpa suara. Jantungku tercekat; kabel di dinding pun sudah terlepas. Tatkala aku mencoba mematikan dengan tombol fisik, layar berganti menampilkan lorong gelap yang menyerupai bangunan ini—namun pada ujung terlihat sosok samar melangkah mendekat.
Ketika kupencet lagi, layar menjadi gelap, tapi hanya sekejap: kembali hidup dengan menampakkan wajah seorang wanita berkain tua, menatap kosong lurus ke arah penonton. Tubuhku membeku. Suara desahan tipis terdengar, seperti bisikan gaib yang meluncur keluar dari speaker rusak. Aku menutup telepon genggam, berharap cahaya layar padam—namun tidak ada satu pun saklar merespons, seakan arwah layar itu telah mengambil kendali.
Bisikan di Kegelapan
Kemudian, lampu kamar satu per satu padam, meninggalkan kegelapan pekat. Hanya senter ponsel yang menyorot layar televisi—gambar wanita itu kini menampakkan dinding berdarah dan lantai berantakan. Tiba-tiba, gelombang bisikan bergema: “Jangan tinggalkan aku… jangan…” Suara mendesah semakin keras, menyergap telinga hingga terasa nyeri. Dalam kalut, aku coba menjangkau lilin di meja, namun tubuhku terasa berat, merapat ke kasur seperti tertahan sebuah kekuatan gaib.
Terdengar derit pintu berturut-turut dalam lorong, seakan langkah seseorang mendekat tanpa kehadiran fisik. Suara tikkan jam tiba-tiba berhenti, lalu kembali dengan ritme tidak beraturan, seolah napas arwah yang putus-nyambung. Ketika kupalingkan sorot senter, sosok laki-laki berwajah pucat menampakkan diri di balik tirai, lalu menghilang begitu cepat. Panik, aku menjerit, tapi suaraku hilang dalam bisikan gaib yang semakin menggila.
Jejak Sejarah Maut di Loteng Berdebu
Padahal, persediaan lilin habis, dan aku terpaksa menggunakan senter seadanya. Pada fajar, aku memutuskan naik ke loteng mencari petunjuk. Di antara tumpukan kertas dan foto usang, kulihat catatan pemilik terdahulu—seorang penjaga malam yang ditemukan tewas di kamarku bertahun lalu. Ia mengungkapkan bahwa televisi itu awalnya milik keluarga pemilik pertama, yang mati misterius saat menonton berita jam 12 malam. Mereka percaya arwah anggota keluarga yang terbunuh terus menghantui layar sebagai dendam.
Dalam selembar catatan, tertulis pula ritual kuno untuk menenangkan arwah: menyalakan lilin mawar, menuliskan nama korban sebagai penebusan, lalu memecahkan cermin kecil di depan televisi agar bayangan gaib terperangkap di kaca. Informasi ini semakin memicu ketakutan. Fokus keyphrase televisi menyala sendiri kini menjadi kunci kutukan kamar, dan aku tahu malam ke depan akan menentukan nasib jiwaku.
Persiapan Ritual dan Malam Duka
Selanjutnya, aku menyiapkan ritual malam tersebut: membeli lilin mawar dari toko bunga terdekat, menggali tanah untuk memasukkan tanah kuburan pada pot bunga mau. Sesudah adzan Maghrib berkumandang, aku menata lilin dan menggores nama “Mawar” di lembar kertas—nama wanita pemilik asli yang mati tragis. Lalu, aku memecahkan cermin kecil di atas televisi, memecah pantulan ruang jadi serpihan.
Dengan gemetar, aku menyalakan lilin, mengucapkan doa:
“Arwah yang terperangkap, nyalakan mawar dalam gelap,
Biarkan dendammu pergi, dan damai datang pula…”
Ketika lafaz ketiga selesai, ruangan bergoncang hebat. Televisi meledak menjadi potongan kaca, menebar kilatan cahaya setajam beling. Api lilin berkedip kacau, dan bisikan gaib melonjak jadi jeritan menggema. Dari atas kasur, sosok wanita berkain lusuh melayang, rambutnya terurai menutupi muka. Matanya yang kosong memancarkan Wejangan kelam: “Jangan… tinggalkan…” Suara jeritan memuncak, lalu berubah menjadi bisikan sisa amarah.
Teror Puncak di Tengah Malam
Padahal, aku berusaha mundur, namun kaki bagai tertanam. Tiba-tiba, kamar dipenuhi bayangan hitam tanpa bentuk, bergulung-gulung seperti kabut pekat. Lilin mawar padam satu per satu, meninggalkan cahaya sarung kasur yang terbakar seakan sendirinya. Aku mencoba teriak memanggil sekuriti penginapan, tetapi suaraku hancur teredam guncangan kayu lantai.
Kala itulah, seolah jam berhenti berdetak, dan tiba-tiba semua lenyap: aku terlempar ke sudut kamar, kepalaku nyaris menghantam lantai. Saat perlahan sadar, aku menoleh ke arah televisi—hanya puing kaca tersusun rapi, menunggu kunjungan malam berikutnya. Pintu kamar mendadak terkunci tanpa upaya. Tubuhku berkeringat dingin, sementara suara ritme jantungku menggema nyaring di telinga. Aku menggigil menahan panik.
Pelarian Menuju Pagi yang Menenangkan
Tak ingin menunggu maut kembali, aku berhasil meraih gagang pintu, menekannya sekuat tenaga. Detik berikutnya, pintu terbuka sempurna, seakan pintu itu menolak kehadiranku lagi. Aku terhuyung ke lorong sempit, disambut kilatan cahaya mentari pagi yang mulai menembus pepohonan. Napas terengah, gemetar, aku bergantian menatap kaca pecahan di saku—seolah sadar bahwa layar televisi dapat menyala kapan saja bahkan setelah pecah.
Tanpa ragu, aku meninggalkan kunci kamar di meja resepsionis, menolak tawaran diskon untuk tetap menginap. Saat menghemat napas di halaman penginapan, kutengok sekali lagi ke jendela—bayangan kabur di balik kaca seakan menatap jauh, menyiratkan kutukan belum sepenuhnya musnah.
Epilog: Jejak Kutukan yang Tak Pernah Padam
Akhirnya, saat pagi semakin terang, aku meninggalkan “Penginapan Rimba Senja” dengan langkah terburu-buru. Namun, satu hal pasti: televisi menyala sendiri bukan sekadar legenda murahan, melainkan gerbang neraka kecil yang menunggu para tamu tak waspada. Setiap kali malam tiba, aku masih mendengar darah-dingin desisan: “Datanglah kembali…” Mengusirku dari gang rumah, menggiringku ke mimpi buruk yang abadi