Senja di Balik Rak: Kedatangan yang Terlambat
Sore merunduk di Parepare, sementara langit menggelap pelan di atas gedung perpustakaan kota yang bergaya kolonial. Karena jadwal kuliah padat, Arum—mahasiswa tingkat akhir—baru sempat tiba menjelang tutup. Namun ia tetap masuk, sebab proyek katalog naskah tua harus rampung sebelum evaluasi komunitas literasi. Selain itu, penjaga malam sudah mengenalnya; Pak Tamrin selalu mempersilakan siapa pun yang mau merapikan arsip.
Begitu melewati pintu utama, debur AC yang karatan bercampur bau kertas lembap menyambutnya. Kemudian lampu neon berkelip, memantulkan cahaya pucat pada lantai teraso. Selanjutnya ia menyapa singkat petugas piket, lantas menuruni lorong menuju ruang arsip. Walau jam dinding hampir menunjukkan pukul tujuh, semangatnya belum surut, sebab ia hanya perlu menyelesaikan penomoran empat bundel majalah kuno.
Arum menaruh tas, menyalakan lampu meja, lalu menata kartu katalog. Namun dari ujung ruangan, sesuatu merayap di kulit tengkuk: seperti hawa dingin yang datang dari sela rak. Pada saat yang sama, sebuah desas-desus yang pernah ia dengar melintas kembali—konon ada tangan gaib yang suka menepuk bahu orang di perpustakaan ini.
Desas-Desus Kota: Bisik-Bisik tentang Penunggu
Konon, sebelum renovasi, ruang arsip merupakan gudang majalah bekas yang dikelola oleh seorang pustakawan tua bernama Bu Noor. Menurut cerita karyawan lama, perempuan itu menghilang pada suatu malam badai ketika tetap lembur sendirian. Walaupun polisi sempat memeriksa, hasilnya nihil, sedangkan berkas inventaris yang ia pegang pun tidak ditemukan. Karena itu, warga menyebut gudang itu “ruang yang menyimpan orang”.
Kabar lain berembus dari generasi muda yang suka nongkrong di halaman. Sering kali, setelah lampu dimatikan, jendela lantai dua memantulkan siluet seseorang yang sedang menulis. Kadang-kadang, ketika penjaga keliling, bunyi ketukan mesin tik menggema dari kantor lama. Meski mesin tik sudah dibawa ke museum, bunyi itu kerap kembali pada jam-jam sepi.
Arum menepis pikiran buruk, sebab ia rasional dan terbiasa bekerja sendiri. Namun, ia tetap menoleh dua kali setiap kali melewati rak paling belakang. Selain itu, ia memilih duduk menghadap pintu agar mudah melihat siapa pun yang datang. Meskipun begitu, hawa dingin tadi seakan tidak mau pergi; sensasinya menempel seperti kabut tipis di kulit.
Rak Tua yang Mengerat: Halus, Lalu Mengguncang
Ketika Arum membuka bundel pertama, kertas tua mengerut pelan. Kemudian jarinya menyusuri spasi tanggal terbit, menyalin angka dengan telaten. Selanjutnya ia menumpuk tiga bundel di kiri meja, mengosongkan ruang di kanan agar kartu katalog tidak berdesakan. Sementara itu, detik jam terasa lamban, seolah ruangan menahan napas.
Tiba-tiba rak ketiga dari belakang berderit tanpa sebab. Karena kaget, Arum berdiri, menatap celah rak yang gelap. Namun tidak ada siapa pun di sana. Selain itu, laci katalog nomor 12 meluncur sendiri setengah ruas, lalu berhenti mendadak. Walau napasnya memburu, ia menutup laci perlahan, mengunci dengan kunci kecil.
Ia kembali duduk dan berpura-pura tenang. Kemudian ia berkata pelan, “Saya cuma kerja sebentar, Bu,” seolah bicara pada udara. Selanjutnya ia menekuni majalah kedua, memaksakan diri fokus, sebab tenggat tidak bisa dinegosiasikan. Meskipun begitu, ekor matanya menempel pada pantulan kaca lemari; ia sekadar ingin memastikan bahwa tak ada bayangan asing.
Ketukan Tak Terlihat: Punggung, Bahu, dan Nafas yang Dekat
Pukul tujuh lewat lima belas, AC mendesah lalu berhenti. Karena ruangan terasa panas, Arum membuka sedikit jendela kecil di atas lemari. Namun udara malam tidak meringankan; bau hujan dan tanah basah justru menebalkan kesunyian. Selain itu, dari koridor depan, suara kursi digeser terdengar pelan, kemudian hilang. Selanjutnya lampu gantung berkedip dua kali, lalu stabil kembali.
Pada detik yang hampa itulah sesuatu menyentuh bahunya—ringan, tetapi jelas seperti telapak. Arum membeku. Sementara jantungnya seperti memukul tulang rusuk, sentuhannya datang lagi, kali ini disertai tiga ketukan pelan di tulang belikat. Kemudian hawa dingin menyusupi tengkuk, lantas mengendap di telinga kiri, seolah seseorang berdiri terlalu dekat.
Ia menoleh cepat ke kanan. Namun tidak ada manusia. Walau begitu, di kaca lemari terlihat redup sebuah siluet, seperti lengan menggantung setengah. Selain itu, sebuah senandung nyaris tak terdengar merayap dari sela rak. Selanjutnya kulitnya merinding, sementara matanya basah oleh takut yang tiba-tiba.
“Bu Noor?” tanyanya lirih. Kemudian ruangan menjawab dengan bunyi kertas terbalik oleh angin yang tidak ada. Selanjutnya sebuah kartu katalog meluncur dari tumpukan, jatuh tepat di bawah meja. Sementara Arum jongkok mengambilnya, sesuatu kembali menepuk bahu—kali ini lebih tegas, seolah menuntun.
Petunjuk Kartu: Nomor Hilang yang Mencuat
Kartu yang jatuh memuat tulisan tangan tua: “Inventaris—Majalah Pendidikan Sulawesi 1973—Rak L3.” Karena penasaran, Arum bangkit lalu melangkah ke rak L3. Selain itu, ia menyorot celah-celah rak dengan senter ponsel. Selanjutnya ia menemukan bundel tidak berlabel terselip di belakang. Walau ada larangan mengubah susunan tanpa formulir, ia menariknya perlahan.
Begitu dibuka, halaman pertama berisi editorial; halaman kedua kosong; halaman ketiga… menyimpan lembar tambahan: catatan inventaris manual. Kemudian sebuah nama terpampang di sudut bawah: “Noor—shift malam—pindah ke ruang bawah.” Selanjutnya catatan tanggal menunjukkan malam yang sama ketika kabarnya menghilang.
Arum merasakan gemetar kecil di telapak tangan. Meskipun ia tak pernah suka rumor hantu, bukti ini menautkan rumor dengan arsip nyata. Karena itu, ia mencari “ruang bawah” yang dimaksud. Selain itu, ia mengingat tangga kecil di ujung lorong, tepat di sebelah ruang administrasi lama. Selanjutnya ia mengambil kartu, memasukkan ke saku, dan meraih senter yang lebih terang dari laci.
Tangga Ke Bawah: Aroma Lembap, Langkah yang Mengekor
Pintu besi di ujung lorong awalnya macet. Namun setelah ia dorong dua kali, bibir pintu terkuak. Kemudian tangga sempit turun dengan sudut curam, sementara dindingnya lembap. Selanjutnya Arum menapaki satu per satu anak tangga, menjaga napas agar tidak pecah. Walau tak ada angin, lampu neon di langit-langit berkedip dan mati, sehingga senter menjadi satu-satunya cahaya.
Pada anak tangga kelima, suara tapak lain menyahut langkahnya—setengah beat lebih lambat, seolah meniru. Karena curiga, Arum berhenti. Selain itu, jejak bayang di tembok ikut berhenti. Selanjutnya ketika ia lanjut menuruni tangga, suara meniru kembali. Walaupun logikanya menolak, tubuhnya tahu ia tidak sendiri.
Di dasar tangga, koridor pendek mengarah ke ruangan kecil berjeruji—ruang barang sitaan. Kemudian gembok tampak berkarat, tetapi pintu tetap terbuka setengah. Selanjutnya dari dalam, harum kapur barus berduet dengan bau jamur. Sementara Arum melangkah, senter memantulkan debu bercahaya seperti hujan tipis.
Ruang Bawah: Kotak Kayu, Label yang Tersobek, dan Beban Sunyi
Di sudut ruangan, sebuah kotak kayu tua bertuliskan “Kliping & Majalah Lama” setengah teronggok. Karena ingin tahu, Arum menyeka debu, lalu membuka kunci kecilnya. Kemudian tutup kotak berderit, dan halaman-halaman rapuh tampak menunggu. Selanjutnya ia menemukan map cokelat dengan label sobek: “No—r (malam).” Walau hurufnya terputus, maknanya sudah cukup jelas.
Sementara itu, senter menyingkap benda lain yang tak tercatat: topi kecil putih, seperti milik perawat. Kemudian sebuah pulpen fountain pen tergeletak di samping map, tintanya kering menempel pada kain. Selanjutnya ada secarik kertas setengah terbakar: “Jam 20.15—ketukan di bahu—rasa dingin—suara: ‘jangan naik—selesaikan di sini’.”
Arum merasakan aliran dingin di tulang punggung. Selain itu, ia sadar pola gangguan sama persis dengan yang ia alami barusan. Selanjutnya ia membalik kertas; di belakang tertulis lebih kecil: “Jika kau menemukan catatan ini, tolong teruskan katalog. Jangan biarkan mereka menghilangkan namaku.”
Ketukan Ketiga: Peringatan, Permintaan, dan Geretan di Beton
Tiba-tiba tiga ketukan membelah ruangan. Karena takut, Arum memeluk map, tetapi ia menegakkan punggung. “Saya akan menuliskan nama Ibu,” ujarnya tegas. Namun ketukan berlanjut, bergeser dari dinding sisi kanan ke dinding kiri. Selain itu, sesuatu seperti kuku panjang menggeret beton pelan, menoreh garis-garis seukuran jari.
Selanjutnya jari-jari dingin—tak terlihat, tak berkulit—menepuk bahunya lagi. Walau ketukan itu ringan, maksudnya jelas: cepat. Karena memahami, Arum menata isi map, memasukkan pulpen, lalu menutup kotak. Selain itu, ia menandai rak L3 pada peta kecil di ingatan, supaya pengembalian berkas nanti akurat. Selanjutnya ia berbalik, tetapi senter menangkap bayangan tubuh yang seharusnya tidak ada, berdiri tepat di anak tangga pertama.
Bayangan itu tak memiliki kepala. Namun lengan kanannya terentang setengah, seperti orang yang hendak menepuk untuk mengarahkan jalan. Meskipun nalar Arum menjerit, kakinya menaati komando; ia melewati bayangan itu sambil memegang erat map. Karena langkahnya cepat, hembus napasnya pecah-pecah.
Mengejar Waktu: Katalog Terakhir dan Nama yang Kembali
Begitu tiba di ruang arsip, Arum meletakkan map di meja, lalu menyalakan kembali lampu. Kemudian ia membuka halaman kosong katalog, dan menulis: “Noor—Pustakawan Arsip Malam—Inventaris Kliping & Majalah Lama, L3.” Selanjutnya ia menambahkan tanggal terakhir dalam catatan: “20.15—menyelesaikan susun ulang.” Meskipun tangannya bergetar, huruf-hurufnya rapi.
Pada saat yang sama, laci nomor 12 meluncur—kali ini seolah menyambut. Karena itu, Arum memasukkan kartu katalog baru ke deretannya. Selain itu, ia mengoreksi tiga kartu lama yang meniadakan nama petugas. Selanjutnya, begitu kartu masuk, ruangan berdesah seolah menurunkan beban. Walau AC masih mati, hawa dingin berubah lebih lembut, seperti angin sore dari laut.
Kemudian sesuatu berdiri di belakangnya lagi—sunyi namun penuh. Selanjutnya ketukan terakhir mendarat di bahu, bukan lagi sebagai perintah, melainkan sebagai ucapan terima kasih. Karena lega, Arum menutup mata sejenak. Selain itu, ia berkata, “Nama Ibu sudah kembali.”
Tengah Malam: Hujan, Listrik, dan Rak yang Menutup
Pukul delapan kurang lima, lampu utama seluruh gedung sempat padam. Namun genset menyala, dan cahaya pulih setahap. Selanjutnya Pak Tamrin memanggil dari koridor, menanyakan apakah Arum akan pulang. Karena semua inti sudah selesai, ia mengangguk sambil merapikan meja. Selain itu, ia menyampul map cokelat, menaruh kembali ke kotak, lalu mengunci ruang bawah sebelum pergi.
Saat melewati rak L3, sesuatu membuatnya berhenti. Kemudian selipan tipis muncul di sela majalah—kertas kecil dengan tulisan yang ia kenali dari catatan: “Terima kasih. Jangan datang sendiri lagi.” Selanjutnya ia menatap sekeliling. Walau ruangan kosong, rasa diawasi telah hilang. Meskipun begitu, ia tetap menyelipkan kertas itu ke saku, karena pesan seperti ini tak boleh diabaikan.
Di pintu keluar, hujan memantulkan lampu jalan seperti serpih kaca. Selain itu, halaman licin oleh genangan. Selanjutnya Arum membuka payung dan berpamitan. Sementara itu, dari jendela lantai dua, pantulan samar terlihat—seseorang duduk menulis, lalu berdiri untuk merapikan rak. Meskipun ada dorongan untuk menatap lebih lama, ia memilih melangkah.
Kembali Beberapa Hari Kemudian: Saran, Ritual, dan Paku Kecil
Dua hari berselang, Arum kembali bersama dua kawan komunitas literasi—Rai dan Dita. Karena pengalaman terakhir, ia memutuskan tidak datang sendirian. Selain itu, ia membawa bunga melati kecil dalam plastik; ibunya bilang, melati disukai roh yang tenang. Selanjutnya mereka meletakkan melati di sudut rak L3, tepat di bawah kartu katalog yang memulihkan nama.
Rai—yang gemar membaca manuskrip—mendapati paku kecil menonjol dari sisi rak. Kemudian ia menekannya agar tak melukai siapa pun yang lewat. Selanjutnya Dita mengganti label pudar di kotak “Kliping & Majalah Lama” dengan tulisan baru yang bersih. Meskipun mereka tidak percaya takhayul, tindakan kecil seperti ini terasa sopan.
Tiba-tiba angin sepoi masuk dari jendela atas, membawa wangi melati, lalu menutup laci nomor 12 dengan halus. Karena suasana damai, mereka tertawa ringan. Selain itu, pekerjaan katalog berjalan cepat; tiga bundel rampung sebelum magrib. Selanjutnya Pak Tamrin mengantar mereka sampai depan, menyalakan lampu halaman, dan mengunci.
Epilog: Nama di Papan, Tangan yang Tidak Lagi Menepuk
Sebulan kemudian, program komunitas meresmikan papan kecil di ruang arsip: “Sudut Noor—Inventaris Malam.” Karena acara sederhana, hanya beberapa orang hadir, namun maknanya dalam. Selain itu, Arum membacakan singkat kisah penataan ulang katalog—tanpa menyebut kejadian menegangkan—lalu berterima kasih pada semua pihak yang membantu.
Sejak papan kecil itu terpasang, gangguan mereda. Kemudian AC bekerja normal, rak berhenti berderit tanpa sebab, dan laci nomor 12 hanya bergerak saat ditarik tangan manusia. Selanjutnya, para relawan bekerja dengan hati ringan. Walaupun sesekali, pada malam yang sangat sepi, seseorang merasa bahunya disentuh pelan, ketukannya kini seperti salam. Karena itu, mereka menjawab dalam hati: “Kami akan menjaga.”
Perlahan, perpustakaan kota menjadi tempat yang tidak hanya menyimpan buku, melainkan juga memulihkan nama. Selain itu, tradisi literasi berjalan—kelas membaca berlanjut, pameran kliping makin rapi, dan anak-anak sekolah kembali betah duduk lama di ruang koleksi. Selanjutnya, legenda tangan gaib berubah dari ancaman menjadi pengingat halus: arsip harus jujur, katalog harus adil, dan setiap nama berhak pulang ke tempatnya.
Pada akhirnya, malam-malam Parepare tetap turun dengan hujan yang rajin. Namun, perpustakaan menyala tenang. Karena nama yang dihilangkan telah kembali, langkah-langkah di lorong terdengar biasa saja. Selain itu, bahu-bahu para perawat arsip tak lagi bergetar oleh takut yang liar. Selanjutnya, bila ada ketukan pelan datang dari balik punggung, itu hanya cara lama untuk berkata, “Teruskan—sebab pengetahuan, dan juga kenangan, tak boleh padam.”
Teknologi & Digital : Bahasa Pemrograman Baru Bermunculan di Tahun 2025