Rumah Dokter di Tengah Kota Sunyi
Di tepi jalan utama Baturaja berdiri rumah besar bergaya kolonial yang kini tampak tua dan kusam. Catnya mengelupas, jendela kayunya berdebu, dan di halaman depan masih tertancap papan nama tua bertuliskan “dr. Mulyadi, Sp.B”.
Warga sekitar percaya rumah itu berhantu. Setiap malam, terutama menjelang tengah malam, mereka sering mendengar suara langkah kaki dan suara tarikan napas dari kamar atas.
Mereka bilang, jika kau tidur di kamar itu, akan terasa ada tangan dingin yang perlahan menarik selimutmu di tengah malam.
Dokter Arif dan Rumah Warisan
Suatu sore, Dokter Arif — keponakan mendiang dr. Mulyadi — datang dari Palembang untuk menempati rumah peninggalan pamannya. Ia baru pindah kerja ke rumah sakit daerah, dan rumah itu dianggap tempat tinggal sementara yang nyaman.
Seorang tetangga, Bu Nani, sempat menegurnya. “Kalau malam, jangan buka jendela belakang, Nak. Angin di situ beda.”
Arif tersenyum sopan, menanggapinya dengan logika medis. “Mungkin arah anginnya dari sungai, Bu.”
Namun saat malam turun, hawa di dalam rumah berubah. Bau obat antiseptik samar-samar tercium, dan di salah satu kamar, lampu gantung berayun sendiri meski tak ada angin.
Malam Pertama: Tarikan di Kaki
Pukul dua dini hari, Arif terbangun. Selimutnya terseret ke bawah kaki, padahal ia tidur sendirian. Ia mengira itu ulah angin dari jendela, tapi saat menarik selimut kembali, ada sesuatu yang menahan — seperti tangan manusia.
Ia berhenti seketika. Jantungnya berdetak keras. Ujung selimut perlahan bergeser lagi, seolah ada yang menarik dari bawah ranjang.
Dengan berani, ia menyalakan senter ponsel dan mengintip ke bawah tempat tidur. Kosong. Tapi lantai ubin tampak basah, seperti ada jejak tangan dingin yang baru saja menapak di sana.
Catatan Medis Lama
Keesokan harinya, Arif membersihkan ruang kerja pamannya di lantai bawah. Di antara tumpukan buku kedokteran, ia menemukan sebuah catatan pasien dalam map lusuh.
Di lembar depan tertulis:
Nama: Rini
Usia: 24 tahun
Status: Pasien percobaan anestesi — meninggal dunia
Di bawahnya ada catatan tambahan dengan tinta berbeda:
“Dia tidak mau pergi. Ia masih menunggu operasi selesai.”
Arif merinding. Ia tahu pamannya dulu dikenal sebagai dokter bedah eksperimen yang kontroversial di masa 80-an. Banyak kabar bahwa beberapa pasiennya meninggal di ruang praktik bawah rumah itu.
Ruang Operasi di Bawah Tanah
Rasa penasaran membuat Arif menelusuri tangga menuju ruang bawah tanah. Lampu di sana masih berfungsi sebagian. Di tengah ruangan terdapat meja operasi tua dengan noda gelap yang tak pernah hilang.
Ia mendekat, menyalakan senter, dan menemukan benda kecil di atas meja: potongan rambut perempuan terikat karet. Di dinding, ada tulisan dengan kapur:
“Aku tidak tidur. Aku masih menunggu dokter.”
Udara di ruangan itu berubah dingin. Arif merasa seperti ada yang mengawasinya. Ia buru-buru naik ke atas, tapi langkahnya terasa berat — seperti ada tangan dingin yang menahan pergelangan kakinya dari bawah tangga.
Bisikan dari Kamar Belakang
Malam berikutnya, suara langkah kaki terdengar di lantai atas. Arif keluar dari kamar, lampu koridor berkelap-kelip. Dari kamar belakang terdengar suara seseorang memanggil lirih,
“Dokter… jangan tinggalkan aku.”
Arif menelan ludah, mendekat perlahan. Ia membuka pintu. Di kamar itu hanya ada tempat tidur tua dengan kasur robek. Di atasnya tergantung foto hitam putih seorang perempuan muda memakai gaun rumah sakit.
Wajahnya pucat. Tatapannya lurus ke depan, seolah menatap langsung pada orang yang membuka pintu.
Mimpi Operasi
Malam itu, Arif tertidur di ruang tamu karena tak berani naik ke atas. Dalam tidurnya ia bermimpi berdiri di ruang operasi bawah tanah. Di sekelilingnya, lampu gantung redup berayun-ayun.
Seseorang berbaring di meja operasi — perempuan dengan wajah yang sama seperti di foto. Ia menatap Arif dan berkata dengan suara serak,
“Aku belum sadar… kau biarkan aku membeku.”
Arif tersentak bangun dengan tubuh dingin dan keringat bercucuran. Tapi selimutnya lagi-lagi hilang, terseret ke lantai, dan kali ini ia melihat jelas — jejak tangan basah menempel di ujungnya.
Pagi yang Tak Wajar
Saat matahari terbit, Arif memutuskan pergi ke rumah sakit. Ia bercerita pada rekannya, Dokter Mira, tentang kejadian itu. Mira, yang juga penduduk asli Baturaja, terlihat kaget.
“Rini?” katanya lirih. “Nama itu pernah disebut ibuku. Dulu ada pasien yang meninggal di rumah pamamu. Katanya tubuhnya membeku sebelum sempat diangkat ke kamar mayat.”
Arif terdiam. Ia mulai berpikir, mungkin arwah pasien itu masih terjebak di rumah, masih merasa operasi belum selesai.
Malam Terakhir: Selimut Berdarah
Hujan deras turun malam itu. Listrik padam, rumah hanya diterangi cahaya petir. Arif duduk di ruang tengah dengan senter di tangan.
Tepat pukul dua, suhu ruangan turun drastis. Nafasnya membentuk uap putih. Dari arah kamar belakang terdengar langkah pelan, disusul bunyi pintu terbuka.
Ia menatap ke tangga — dan melihat bayangan perempuan berdiri di puncak. Rambut panjangnya menutupi wajah, baju rumah sakitnya basah meneteskan air. Ia berjalan menuruni tangga perlahan, setiap langkahnya meninggalkan noda air di lantai.
Saat perempuan itu sampai di depan Arif, ia berhenti, menatapnya dengan wajah membeku. Tangannya terulur ke arah selimut yang menutupi kaki Arif.
“Dokter… tolong aku…”
Tangannya dingin luar biasa, menusuk kulit. Selimut itu ditarik kuat hingga terlepas dari genggaman Arif. Ia berteriak, tapi tubuhnya kaku, seolah dibekukan udara yang keluar dari tubuh perempuan itu.
Bayangan Pagi
Saat fajar datang, Bu Nani mengetuk pintu rumah. Tak ada jawaban. Ia memanggil beberapa warga untuk membantu membuka.
Arif ditemukan pingsan di ruang tamu dengan tubuh menggigil hebat, seperti mengalami hipotermia. Selimutnya tergeletak di lantai, basah dan berlumur bercak darah kecil di ujungnya.
Di dinding belakang sofa, terlihat bekas telapak tangan, jelas namun dingin — seperti es yang baru mencair.
Setelah Peristiwa Itu
Arif pulih beberapa hari kemudian, tapi menolak kembali ke rumah itu. Ia pindah ke rumah dinas dekat rumah sakit.
Beberapa minggu kemudian, rumah tua itu dijual kepada keluarga lain. Namun tak lama setelah pindah, penghuni baru melapor mendengar suara langkah kaki dan selimut mereka sering terseret di malam hari.
Mereka akhirnya meninggalkan rumah tanpa sempat mengemasi barang.
Cerita yang Tertinggal
Kini rumah dokter di Baturaja dibiarkan kosong. Rumput tumbuh tinggi di halaman, dan papan nama tua masih tergantung miring di pagar.
Warga masih melihat lampu kamar atas kadang menyala sendiri di tengah malam. Bila seseorang nekat melongok lewat jendela, mereka akan melihat bayangan perempuan duduk di tempat tidur, memegangi selimut putih.
Dan bila kau berdiam terlalu lama, kau akan merasakan sesuatu yang menyentuh pergelangan kaki — tangan dingin yang perlahan menarik selimutmu, seolah mengajakmu bergabung dalam tidurnya yang abadi.
Kesehatan : Bahaya Sering Menahan Buang Air Kecil untuk Ginjal