Kedatangan di Hotel Tua
Ketika malam semakin pekat, aku tiba di hotel tua itu. Sosok gelap dalam cermin menyambutku dengan dingin — sebuah pertanda aneh yang membuat jantungku berdebar. Awalnya, aku hanya menganggap itu pantulan lampu remang, namun semakin lama, bayangan itu bergerak sendiri, seakan memperhatikan setiap gerakku.
Pertama Kali Melihat Bayangan
Kemudian, di lorong yang remang, kulihat bayangan tungkai kaki di sudut cermin besar. Setelah itu, langkahku terhenti, meskipun aku berusaha menepis rasa takut. Sementara itu, suara desir angin seolah mengerang dari balik pintu-pintu kamar. Bahkan resepsionis menghindar ketika kuceritakan penampakan itu; wajahnya memucat, dan ia hanya berbisik, “Jangan menatap terlalu lama.”
Bisikan di Balik Kaca
Lebih dari itu, suara bisikan mulai terdengar. Ketika kupatung di depan cermin, bisikan itu memanggil namaku perlahan, membuat bulu kuduk meremang. Namun pandanganku terfokus pada sosok gelap—matanya kosong, senyumnya kaku, menantang keberanianku. Kamarku tiba-tiba dingin, dan napasku membeku di tenggorokan.
Teror di Malam Kedua
Pada malam kedua, ketakutan memuncak. Setelah lampu padam, aku terbangun oleh dentingan halus. Sementara aku mencari saklar di kegelapan, pantulan cermin di ujung lorong menampakkan sosok gelap yang kian mendekat. Aku berlari, namun setiap langkah justru membawaku semakin dekat ke cermin yang seperti hidup.
Jejak Kaki Berdarah
Kemudian, kulihat jejak kaki berdarah di karpet tua. Meski berusaha menahan napas, aroma logam menusuk hidung. Sementara aku mengikuti jejak itu, koridor hotel berubah memanjang tak berujung. Bahkan pintu-pintu yang kulihat beberapa menit lalu kini berbeda—setiap pintu terbuka menampakkan kegelapan tanpa dasar.
Konfrontasi dalam Cermin
Akhirnya, aku berdiri di depan cermin raksasa di ujung lorong. Sosok gelap muncul dari balik kaca, merentangkan tangan kerangka. Namun aku memutuskan untuk menghadapi ketakutan ini secara langsung. Meski tanganku gemetar, aku menatap matanya—dua lubang hitam tak berjiwa—dan berteriak menantang.
Melarikan Diri yang Mengejar
Setelah teriakan itu, cermin bergetar dan retak menyebar, namun sosok gelap mencuat keluar. Aku berlari tanpa henti, lorong berubah menjadi labirin tak berujung. Bahkan ketika aku melewati sudut yang aku kenal, suara desir menuntunku kembali ke cermin—seolah ia berkejaran.
Akhir yang Tak Pernah Berhenti
Namun, ketika kukira semua berakhir, aku terbangun di resepsionis hotel—pada hari pertama kedatanganku. Lebih menakutkan lagi, di meja resepsionis tergeletak kunci kamar dengan namaku terukir di punggungnya. Sejak itu, aku terus melihat sosok gelap dalam cermin—di setiap cermin, di setiap pantulan—menandakan bahwa teror ini tak akan pernah berhenti.
Sosial Budaya : Kidung dan Kemenyan: Budaya dan Spiritualitas Mistis