Awal Malam di TMII
Malam itu, kompleks TMII yang biasanya ramai dengan kunjungan wisatawan justru tampak sunyi. Lampu jalan menyala redup, dan hanya beberapa titik yang benar-benar terang. Bagi orang kebanyakan, TMII adalah taman budaya dengan bangunan megah dan patung-patung indah. Namun, di balik itu semua, tersimpan kisah menyeramkan yang tak semua orang tahu.
Arif, seorang mahasiswa seni rupa, bersama dua temannya, Maya dan Dimas, sengaja datang ke TMII setelah jam tutup. Mereka mendengar cerita tentang sebuah patung tua yang jarang disentuh pengunjung. Patung itu konon memiliki rongga mulut gelap yang menghisap iman siapa pun yang berani menatapnya terlalu lama.
Di awal, mereka menganggapnya hanya cerita rakyat belaka. Tetapi ketika kaki mereka menapaki area sunyi di sudut taman, hawa aneh langsung menyelimuti tubuh. Angin berhenti, suara jangkrik lenyap, seolah seluruh alam menunggu kehadiran mereka.
Patung dengan Rongga Mulut Gelap
Patung itu berdiri megah di tengah plaza yang sepi. Wujudnya menyerupai sosok raksasa penjaga, dengan mata melotot dan gigi tajam. Namun yang paling mencolok adalah rongga mulutnya. Gelap pekat, seakan tak berujung, meski cahaya lampu taman menerpa dari berbagai arah.
“Seperti lubang tak ada dasarnya,” bisik Maya, merinding.
Arif justru merasa tertarik. Sebagai seniman, ia ingin tahu bagaimana rongga mulut itu bisa terlihat begitu nyata. Ia mendekat, menyalakan senter, dan mengarahkan cahaya ke dalam. Anehnya, cahaya itu lenyap begitu saja. Seakan ditelan oleh kegelapan di dalam patung.
Dimas mundur selangkah. “Aku nggak suka ini. Ada sesuatu di dalamnya.”
Bisikan dari Dalam Patung
Saat mereka terus menatap, terdengar bisikan lirih dari rongga mulut patung. Suara itu terdengar berbeda bagi masing-masing orang. Arif mendengar suara ayahnya yang sudah meninggal. Maya mendengar suara ibunya yang selalu melarang keluar malam. Sedangkan Dimas mendengar suara anak kecil yang tak ia kenal, menangis memanggil namanya.
Bisikan itu semakin keras, hingga menembus ke dalam kepala mereka. Bukan hanya suara, tetapi juga perasaan: rasa bersalah, penyesalan, dan ketakutan terdalam yang mereka simpan.
Arif terhuyung. “Ini… seakan mulut itu menghisap imanku…” katanya lirih.
Maya menutup telinganya, namun suara tetap mengalir langsung ke dalam pikirannya.
Dimas mulai gemetar, keringat dingin bercucuran di dahinya.
Jejak Masa Lalu Patung
Keesokan harinya, mereka mencari tahu asal-usul patung itu. Dari seorang penjaga tua TMII, mereka mendengar kisah menyeramkan. Patung tersebut dulunya dibuat oleh seorang pemahat terkenal, namun ia menggunakan ritual gaib saat membuatnya. Ia memasukkan mantra-mantra kuno ke dalam rongga mulut patung agar terlihat lebih hidup.
Namun, ritual itu justru membuka pintu lain: sebuah jalur gaib yang menghubungkan dunia manusia dengan dunia entitas lapar akan iman manusia. Sejak saat itu, banyak pekerja proyek yang jatuh sakit, beberapa bahkan meninggal misterius. Akhirnya, patung itu ditinggalkan, tetapi tetap dibiarkan berdiri karena dianggap bagian dari seni budaya.
Malam Kedua: Godaan yang Mengikat
Meski sudah diperingatkan, Arif tidak bisa menahan rasa penasarannya. Malam berikutnya, ia kembali ke lokasi patung, kali ini sendirian. Rongga mulut itu seakan memanggilnya, menjerat pikirannya siang dan malam.
Saat berdiri di depan patung, ia merasa seluruh tubuhnya ditarik ke depan. Suara-suara bisikan kembali muncul, kali ini lebih jelas. “Masuklah… lepaskan imanmu… dan kau akan melihat kebenaran…”
Arif melawan, namun kakinya bergerak sendiri. Ia merasakan jantungnya berdegup kencang, seolah iman yang ia genggam mulai runtuh sedikit demi sedikit.
Maya dan Dimas Menyusul
Maya dan Dimas yang khawatir akhirnya menyusul. Mereka menemukan Arif berdiri tepat di depan mulut patung dengan mata kosong. Bibirnya bergetar, seakan sedang mengucapkan doa terbalik.
Maya mencoba menariknya, tapi tubuh Arif terasa berat, seolah tertanam di tanah. Dimas lalu berteriak, “Arif! Jangan dengarkan!” Tapi suara mereka kalah oleh bisikan yang semakin menggema dari dalam rongga mulut.
Dari kegelapan itu, muncul tangan hitam panjang yang menjulur keluar, berusaha meraih tubuh Arif. Maya menjerit, dan mereka berdua berusaha keras menarik Arif mundur.
Kesadaran yang Runtuh
Saat mereka berhasil menariknya, Arif pingsan dengan wajah pucat. Bibirnya masih bergerak, melantunkan kata-kata aneh. Maya menempelkan telinganya, mendengar kalimat yang membuat darahnya beku: doa-doa terbalik, seakan membalikkan iman yang ia miliki.
Sejak malam itu, Arif tak lagi sama. Ia jarang bicara, tatapannya kosong, dan kadang tersenyum sendiri di tengah malam. Setiap kali mereka bertanya, ia hanya menjawab lirih:
“Mulut itu belum selesai dengan kita…”
Akhir yang Tak Terhindarkan
Beberapa minggu kemudian, Maya bermimpi buruk berulang kali. Dalam mimpinya, ia melihat rongga mulut patung semakin besar, menelan langit TMII, menelan dirinya, menelan semua orang. Dimas pun merasakan hal sama, bahkan mulai mendengar bisikan itu meski ia tidak lagi mendekati patung.
Suatu malam, Arif menghilang. Maya dan Dimas mencarinya di seluruh area, dan benar saja—mereka menemukannya berlutut di depan patung itu. Kali ini, Arif tidak menolak. Ia merangkak masuk ke dalam rongga mulut yang gelap, dan tubuhnya lenyap begitu saja.
Maya menjerit, sementara Dimas berusaha masuk untuk menariknya. Namun rongga itu menutup kembali, menyisakan hanya patung dingin dengan senyum menyeramkan.
Hingga kini, sebagian orang percaya bahwa iman Arif telah benar-benar digerogoti oleh mulut patung itu. Dan siapa pun yang mendekat, terutama di malam hari, akan mendengar bisikan samar dari dalam: suara-suara yang memanggil, menguji, dan perlahan meruntuhkan kepercayaan terdalam mereka.
Di balik keindahan TMII, ada kegelapan yang tak bisa diabaikan.
Kesehatan : Bahaya Mager: Gaya Hidup Pasif Bisa Memicu Kematian