Kegelapan Menjelma
Sejak senja merundung cakrawala, rintihan angker di pasar beringharjo kian bergema di lorong-lorong sempit. Para pedagang pulang lebih awal, meninggalkan kios berbaris sepi dengan tenda usang yang bergelombang diterpa angin. Namun demikian, Meski lampu gantung menyala remang, hawa di antara deretan gerai terasa beku, seolah ada napas panjang tak kasat mata menahan udara. Saat itu pula, langkah pertama para penjelajah urban legend mulai terombang antara rasa penasaran dan ketakutan.
Mimpi yang Terulang di Lorong Gelap
Selain suara desir kain tenda, beberapa saksi melaporkan bermimpi serupa: suara isakan pelan menembus lubang lubang genteng. Lebih jauh, mimpi itu menampilkan bayangan putih menderak di ujung lorong, membelakangi bulan. Padahal, saat terjaga, tidak ada apa pun kecuali gerbang besi tertutup rapat. Maka dari itu, rumor tentang rintihan angker di pasar beringharjo tumbuh bak api kecil, menyebar dari warung kopi hingga postingan media sosial.
Saksi Bisikan dari Pedagang Tua
Selanjutnya, seorang pedagang batik tua, Pak Manto, bercerita bahwa ia pernah mendengar bisikan namanya saat membereskan gerai. “Awalnya aku kira angin,” ujarnya, “tapi bisikan itu memanggil dengan nada meratap.” Selain itu, kain batik yang terlipat rapi mendadak terhempas, memperlihatkan motif yang tampak seperti wajah menjerit. Oleh karena itu, Pak Manto memilih mematikan lampu gerai lebih cepat dan mengunci pintu ganda, memastikan tidak ada yang tersisa di balik deretan kain.
Jejak Kaki Berdarah di Lantai Marmer
Lebih jauh, setelah pedagang pulang, sepasang petugas kebersihan memasuki area bersih-bersih. Mereka menemukan jejak kaki bercak merah di lantai marmer utara, menelusuri lorong menuju gudang. Anehnya, titik darah itu hilang begitu tiba di pintu gudang, seolah makhluk lain berjalan mundur. Ketika lampu senter diarahkan, noda itu semakin tampak segar—padahal gudang itu kosong dan tidak ada kegiatan malam hari. Semakin membuat penasaran, bisikan halus seakan mengerem langkah mereka mengusik rasa ngeri.
Bayangan Kelam di Antara Tenda
Kemudian, Romi, fotografer urban explorer, menginap di dekat tenda buah kering. Pada tengah malam, ia merekam video time‑lapse hingga lampu lampion merekah ungu. Namun, saat diputar ulang, terlihat sesekali bayangan kelam melintas di belakang gerai—tanpa bentuk pasti. Bahkan, bayangan itu tidak menabrak keranjang buah, menembusnya seolah bercampur kabut. Pada pagi harinya, Romi menjelaskan bahwa pada rekaman audio, terdengar rintihan lirih seakan ada ribuan mulut memekik bersama.
Nafas yang Membeku
Selanjutnya, seorang turis asing bernama Emily nekat mengunjungi pasar pada dini hari demi berburu foto lanskap unik. Namun, tak lama setelah tiba, ia merasakan sesak di dada—napasnya tertahan. Setiap kali ia menarik napas dalam, muncul rasa dingin menusuk hingga ke tulang rusuk. Lebih aneh, suara detak jantungnya berpadu dengan irama rintihan yang makin keras, memperlebar celah antara logika dan ketakutan. Akhirnya, Emily memutuskan kembali ke penginapan, menggigil dalam sisa mimpi buruk yang membekas.
Teriakan Gema di Lorong Bawah Tanah
Tidak berhenti di situ, seorang mekanik lampu pasar, Jaka, pernah menjelajahi lorong bawah tanah untuk memeriksa instalasi kabel. Saat memasuki ruang kontrol, biru senter menyapu panel listrik, lalu padam seketika. Dalam kegelapan, terdengar teriakan panjang—seperti jeritan minta tolong—bertujuan memahami rintihan angker di pasar beringharjo. Ketika lampu kembali nyala, ia melihat di lantai tumpukan batu bata retak, membentuk pola silang. Sejak itu, Jaka menolak memasuki lorong itu sendiri.
Pelarian Menuju Gerbang Utama
Kemudian, sekelompok wisatawan malam yang tergabung dalam komunitas ghost hunting berencana menelusuri seluruh sudut pasar. Mereka membekali diri dengan peralatan EVP (Electronic Voice Phenomena) dan kamera inframerah. Namun, ketika jumlah mereka mencapai sepuluh orang, kilatan cahaya hijau menerpa koridor barat—menghalangi jalan keluar. Satu per satu, terasa beban mental menahan mereka untuk tetap tenang. Hingga akhirnya, bisikan gaib semakin keras: “Pulangkan kami… bawa kami pergi…” Mereka berlari, tergopoh‑gopoh melewati gerbang besi, tak menyisakan jejak.
Epilog: Teror yang Tak Pernah Usai
Sejak malam itu, cerita rintihan angker di pasar beringharjo menjadi legenda yang diwariskan para pelancong urban legend. Meskipun dagangan kembali ramai di siang hari, setiap malam paraga semu terus berkumpul, mendengar isakan tersembunyi. Pasar Beringharjo tak lagi sekadar pusat perdagangan batik—ia berubah menjadi panggung bagi panggilan arwah yang tak kunjung tenang. Dan bagi siapa pun yang mendengar rintihan dini, ingatlah: setiap nafas di lorong itu mungkin menjadi napas terakhir yang menahan rahasia jiwa tak beristirahat.
Food & Traveling : Wisata Religi: Jejak Ziarah dan Sejarah Warisan Nusantara