Penyesalan Sundel Bolong Menitik di Teras Lembang Bandung

Penyesalan Sundel Bolong Menitik di Teras Lembang Bandung post thumbnail image

Prolog: Gerimis di Teras Lembang

Hujan gerimis perlahan mereda, meninggalkan genangan tipis di halaman rumah tua di tepi Lembang. Di teras kayu berlumut, terdengar lirih penyesalan sundel bolong—bisikan perempuan yang meratap pilu. Sarah, fotografer amatir, berdiri terpaku dengan kamera di tangan. Ia tidak menyangka, kunjungan malam ini akan mengantarnya pada kengerian yang tak pernah diceritakan turis mana pun.


Bisikan di Hening Malam

Setelah memutar tombol power pada lampu senter, Sarah menuruni tiga anak tangga yang berderit. Setiap langkahnya bergema, namun di antara gemerisik dedaunan—suara ratapan perempuan terdengar. Ia menempelkan telinga ke palang kayu teras. “Tolong… pulangkan aku…” suara itu begitu sendu, menembus dingin udara. Sarah menggigil, sadar bahwa ini bukan sekadar legenda penyesalan sundel bolong, melainkan panggilan arwah yang terluka.


Jejak Darah di Pijakan Kayu

Bergerak dengan hati-hati, Sarah menelusuri dasar teras. Cahaya senter memantul pada noda merah samar di papan kayu. Darah kental—tiga tetes besar—mengalir pelan menuju celah papan. Tanpa sengaja, kakinya terpeleset, lalu ia merasakan sentuhan dingin di pergelangan kaki. Saat menoleh, tidak ada siapa pun. Namun di permukaan genangan, tampak telapak kaki perempuan berpola ukiran batik lama—menegaskan bahwa penyesalan sundel bolong telah menorehkan jejak di sana.


Legenda Sundel Bolong Lembang

Menurut cerita warga, puluhan tahun lalu seorang biduan panggung bertubuh anggun—Dewi Ayu—menjadi korban pembunuhan keji di Lembang. Ia diusir dari panggung karena tuduhan maksiat, lalu diperkosa sekelompok pria berpesta arak. Ditemukan tewas di teras rumah itu. Sejak kematiannya, arwahnya bergentayangan, suaranya meratap penyesalan sepanjang malam. Tubuhnya muncul hanya sebagai bayangan merah dengan lubang di punggung—sundel bolong—menuntut keadilan yang tak kunjung tiba.


Panggung Tua dan Semburat Merah

Malam berikutnya, Sarah kembali bersama dua temannya: Rian dan Tika. Mereka membawa kamera infra-merah dan mikrofon perekam suara. Tepat pukul dua, mereka menyalakan lampu di halaman. Di kejauhan, bekas panggung kayu tua berkayu lapuk terlihat. Tika menatap ke belakang panggung dan menjerit saat melihat semburat merah seperti kain panjang terbang di udara. Rian menyorot lampu sorot ke arah itu—hanya kosong, kecuali bayangan gelap yang menempel di sebuah tiang.


Rekaman Ratapan yang Membeku

Mereka memainkan rekaman audio di dalam mobil. Awalnya hanya deru angin, lalu terdengar suara lirih:

“Mengapa kalian biarkan aku… terbuang…”
Nada itu membuat darah ketiga remaja itu membeku. Suara penyesalan sundel bolong kini tak hanya danai teras, tetapi juga menuntut untuk didengar hingga ujung dunia.


Konfrontasi di Teras Berlumut

Dengan nekat, mereka kembali ke teras. Senter Rian berkedip, lalu padam. Kegelapan pekat menyelimuti. Tiba-tiba, lampu teras utama menyala sendiri, menyorot satu sosok perempuan bersawah merah. Lubang punggungnya menganga. Dewi Ayu melangkah pelan mendekat, menunduk sambil meratap.
“Kenapa kau biarkan aku menunggu?” Suaranya menggema, memecah kesunyian.
Sarah yang paling berani memanggil: “Kami… menunggu penjelasanmu.”
Dewi Ayu menatap kosong, lalu terisak. “Aku… tak tahu harus ke mana…”
Rian gemetar saat bayangan merah itu meraba bahunya. Dingin menggigil di seluruh tubuh.


Ritual Penebusan Duka

Keesokan paginya, mereka menemui sesepuh desa, Pak Hasan. Dia menyerahkan kitab kuno berisi instruksi: bunga kenanga, asap kemenyan, dan doa pengampunan. Malam itu, ketiganya menata sesajen di teras, mengelilingi genangan darah yang telah dibersihkan. Tika membacakan doa, suara lembut bergema.
Dewi Ayu muncul lagi, kali ini menatap penuh harap. Tetesan air mata merah menetes di pipinya. Ia menunduk dan mengucapkan satu kalimat terakhir: “Terima kasih…”
Sekilas cahaya putih menyelimuti sang arwah, lalu ia menghilang dalam bisikan lembut:

“Bebaskan aku… dari penyesalan.”


Epilog: Teras Kini Tenang

Sejak malam ritual itu, penyesalan sundel bolong menghilang dari teras Lembang. Lorong itu kembali damai; hanya desir angin dan pijakan sepatu para penikmat alam Lembang. Sarah, Rian, dan Tika pulang membawa kisah mistis yang kini mereka abadikan dalam film pendek dokumenter—sebuah peringatan bahwa penyesalan tak tertuntaskan bisa menjadi jeratan abadi.

Inspirasi & Motivasi : Dari Petani ke Inovator: Transformasi Tak Terduga Digital

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post