Kabut di Danau Beratan
Kabut turun perlahan di atas permukaan Danau Beratan, menutupi Pura Ulun Danu Beratan dengan selimut putih yang pekat. Udara malam terasa lembap, dan suara serangga dari hutan sekitar bersahutan dengan desiran angin yang berhembus dari gunung. Di tengah keheningan itulah, muncul sosok nenek tua berambut putih yang sering dilihat menangis di tepi air, menatap ke arah pura yang terapung di atas danau.
Kisah tentang nenek itu sudah lama beredar di kalangan warga sekitar Bedugul. Namun tidak ada yang tahu siapa dia sebenarnya. Sebagian mengatakan ia penjaga pura yang mati tenggelam, sebagian lagi percaya ia arwah penunggu yang menyesali dosa masa lalunya.
Dan malam itu, seorang fotografer bernama Raka memutuskan untuk mencari kebenarannya.
Niat Awal yang Sederhana
Raka datang ke Bedugul untuk proyek dokumentasi wisata budaya. Ia ingin mengabadikan Pura Ulun Danu Beratan di malam hari, ketika cahaya bulan jatuh di permukaan air dan menciptakan pemandangan magis. Bersama seorang pemandu lokal bernama Bima, ia tiba menjelang senja, membawa kamera dan tripod.
“Kalau mau motret malam, hati-hati,” ujar Bima, menatap danau dengan ekspresi tegang. “Ada kisah lama tentang nenek tua berambut putih yang sering muncul di sini.”
Raka tertawa kecil. “Hantu? Ah, itu kan cuma cerita rakyat. Mungkin kabut saja yang bikin orang salah lihat.”
Bima tak menjawab, hanya menatap ke arah pura yang mulai diselimuti kabut.
Suara Tangisan di Tengah Kabut
Pukul sebelas malam, kabut semakin tebal. Angin bertiup kencang, membawa aroma bunga dan dupa dari arah pura. Raka mulai menyiapkan kameranya di tepi danau. Ia ingin menangkap bayangan pura dengan refleksi air yang tenang.
Namun tiba-tiba, terdengar suara pelan — seperti seseorang menangis lirih. Suara itu datang dari balik kabut, mendayu-dayu, membuat bulu kuduk berdiri.
“Bima, kamu dengar itu?” tanya Raka.
Bima menatap ke arah kabut. “Itu dia… nenek itu.”
Samar-samar, terlihat siluet seorang wanita tua dengan rambut putih panjang menjuntai hingga pinggang. Ia berdiri membungkuk di pinggir air, menangis sambil memegang kain putih basah. Raka, yang awalnya skeptis, tiba-tiba merasa dadanya sesak.
Cahaya bulan menyorot wajah wanita itu — keriput, pucat, dengan mata kosong yang memancarkan kesedihan mendalam.
Bisikan dari Air
Raka menyalakan kamera dan mencoba merekam sosok itu, tapi layar hanya menunjukkan kabut putih. Ia melangkah perlahan mendekat, sementara suara tangisan berubah menjadi bisikan samar.
“Anakku… kembalikan anakku…”
Suara itu datang dari berbagai arah, seolah berasal dari dalam air. Bima menarik lengan Raka. “Jangan dekat-dekat! Dulu, ada perempuan tua kehilangan anaknya di danau ini. Sejak itu, setiap malam berkabut, dia muncul mencari jasad anaknya yang tak pernah ditemukan.”
Namun rasa penasaran mengalahkan rasa takut. Raka terus melangkah, meski langkahnya terasa berat. Ia berhenti tepat di tepi air. Di sana, terlihat sesuatu bergerak di permukaan — seolah tangan kecil muncul lalu tenggelam lagi.
Nenek tua itu kini menatap langsung ke arahnya. Air mata mengalir di pipinya yang pucat, lalu ia berkata dengan suara retak,
“Kau… mirip dia…”
Rahasia di Bawah Danau
Keesokan paginya, Raka terbangun dengan pakaian basah dan tubuh menggigil. Ia ditemukan Bima di pinggir pura, tak sadarkan diri. Kamera dan tasnya hilang.
“Semalam kau jatuh ke danau,” kata Bima setelah membantunya duduk. “Aku sempat lihat kau seperti ditarik ke air. Tapi tak ada siapa-siapa di sana.”
Raka hanya diam. Dalam ingatannya samar, ia melihat tangan nenek itu menariknya, lalu wajah seorang anak kecil muncul dari dasar air, menatapnya dengan mata kosong.
Ketika Raka dan Bima melapor ke penjaga pura, seorang tetua desa datang menghampiri mereka. “Kau lihat nenek tua berambut putih, ya?” tanyanya pelan.
Ia kemudian bercerita bahwa puluhan tahun lalu, seorang wanita bernama Ni Luh Sri kehilangan anaknya karena tenggelam di danau itu. Ia mencari siang dan malam, hingga suatu malam tubuhnya ditemukan terapung di tepi air, rambutnya memutih karena duka mendalam. Sejak itu, arwahnya dipercaya menjadi penjaga danau — menangis setiap kali kabut turun, menyesali kehilangan yang tak berakhir.
Malam Kedua: Kembalinya Tangisan
Malam berikutnya, Raka memutuskan untuk kembali. Ia ingin mengambil gambar untuk membuktikan kejadian itu nyata. Meski Bima menolak ikut, Raka tetap berangkat sendirian dengan senter dan kamera cadangan.
Ketika sampai di tepi danau, suasana terasa lebih berat dari sebelumnya. Angin berhenti bertiup. Kabut turun lebih cepat, menyelimuti seluruh area pura.
Di tengah kabut itu, ia mendengar suara langkah kaki di belakangnya. Saat menoleh, tak ada siapa pun. Namun di pantulan air, tampak sosok wanita tua berdiri di belakangnya, menatap langsung ke arah kamera.
Raka membeku. Sosok itu melangkah perlahan, membawa kain putih yang basah, lalu berkata dengan lirih,
“Dia belum kembali… bantu aku menemukannya.”
Sebelum Raka sempat menjawab, suara gemuruh terdengar dari arah danau. Permukaan air bergolak, membentuk pusaran. Dari dalamnya, muncul tangan kecil yang menggenggam bunga melati layu.
Nenek itu berlutut, menangis sambil memeluk udara kosong.
Ketika Kamera Menangkap Kegelapan
Raka menekan tombol rekam, tapi kamera bergetar hebat. Gambar menjadi buram, lalu muncul wajah nenek itu menatap langsung ke lensa. Di layar, matanya memancarkan cahaya putih menyilaukan.
“Aku tidak tenang…”
Suara itu bergema, membuat seluruh tubuh Raka merinding. Ia mundur, tapi kakinya terpeleset ke air. Saat berusaha bangkit, sesuatu memegang pergelangan kakinya dari bawah — dingin, kuat, dan bergetar seperti tangan manusia.
Ia menjerit, menarik kakinya dengan sekuat tenaga, dan berhasil naik ke tepi. Namun begitu ia menoleh ke belakang, sosok nenek tua berambut putih itu sudah lenyap.
Yang tersisa hanyalah kain putih terapung di air, dengan bercak darah di ujungnya.
Pertanda dari Langit
Pagi hari, langit Bedugul diselimuti awan gelap. Petir menyambar di kejauhan. Penduduk desa bergegas menutup pura, menganggap kejadian malam sebelumnya sebagai pertanda buruk.
Raka menunjukkan hasil rekaman pada Bima dan tetua desa. Dalam video, terlihat jelas bayangan nenek tua menangis di tepi danau, tapi saat kamera mendekat, wujudnya menghilang, digantikan oleh siluet anak kecil yang tenggelam perlahan.
Tetua desa menunduk. “Dia masih mencari anaknya. Arwahnya belum bisa tenang. Kalau kau kembali, jangan bawa kamera. Bawa bunga dan doa.”
Raka menurut. Malam itu, ia datang membawa sesajen sederhana: bunga melati dan dupa. Ia menaruhnya di tepi air, lalu berdoa agar arwah ibu dan anak itu bisa bersatu di alam lain.
Ketika dupa terbakar, angin lembut bertiup, membawa aroma wangi ke arah danau. Dalam kabut yang menipis, Raka sempat melihat sosok nenek itu berdiri jauh di tengah pura. Ia tersenyum — untuk pertama kalinya.
Kemudian sosoknya perlahan memudar, menyatu dengan kabut pagi.
Arwah yang Akhirnya Tenang
Beberapa minggu kemudian, suasana di Pura Ulun Danu Beratan terasa lebih damai. Tidak ada lagi tangisan di tengah malam, tidak ada kabut pekat yang muncul mendadak. Warga percaya bahwa arwah nenek tua berambut putih itu akhirnya menemukan kedamaian setelah puluhan tahun menunggu.
Namun misteri belum berakhir.
Suatu pagi, penjaga pura menemukan kamera Raka yang hilang — terdampar di tepi air. Ketika diperiksa, di antara ratusan foto pura, ada satu gambar yang menampilkan sosok wanita tua dan seorang anak kecil berdiri berdampingan, menghadap matahari terbit.
Keduanya tampak damai. Tapi di sudut bawah foto, ada tulisan samar, seolah tergores dari dalam lensa:
“Terima kasih, Nak.”
Senandung Kabut di Danau
Kini, setiap kali kabut turun di Pura Ulun Danu Beratan, sebagian warga masih menyalakan dupa dan menaruh bunga di tepi danau. Mereka percaya, itu bentuk penghormatan bagi arwah penjaga lama yang pernah menangis di sana.
Wisatawan yang berkunjung di malam hari kadang merasa angin berhembus pelan di telinga, membawa suara lembut seperti doa.
Dan bila mereka cukup peka, mungkin bisa mendengar bisikan samar dari balik kabut:
“Jagalah danau ini, karena airnya menyimpan kenangan.”
Begitulah kisah tentang nenek tua berambut putih yang menangis di Pura Ulun Danu Beratan — kisah sedih seorang ibu yang terjebak antara cinta dan kematian, antara dunia manusia dan dunia arwah.
Sejarah & Budaya : Arca dan Relief Candi Sebagai Sumber Cerita Leluhur