Sebuah Bangunan yang Terlupakan
Tahun 2024, Nadya—mahasiswi sejarah Universitas Diponegoro—memilih meneliti arsitektur kolonial Semarang sebagai bahan skripsinya. Ia tertarik dengan satu bangunan yang tidak banyak tercatat: sebuah perpustakaan tua tersembunyi di gang sempit kawasan Kota Lama. Warga sekitar menyebutnya “Gudang Opium”.
Dulu, bangunan itu adalah tempat penyimpanan dan konsumsi opium pada era kolonial. Setelah Jepang masuk, tempat itu diubah menjadi arsip dan perpustakaan pribadi milik tentara. Sekarang? Tak ada yang berani masuk. Semua bilang tempat itu “bicara di malam hari”.
Langkah Pertama: Menembus Debu dan Duka
Dengan izin dari kantor warisan budaya, Nadya masuk bangunan itu untuk pertama kali. Pintu kayunya rapuh, namun berat. Begitu terbuka, udara di dalam terasa dingin dan lembap. Cahaya senja menyelinap dari jendela kaca patri yang retak, menerangi debu-debu yang beterbangan.
Rak-rak tua masih berjejer. Beberapa buku terbuka sendiri, seperti baru saja dibaca. Di bagian belakang ruangan, ada tangga spiral menuju ruang bawah tanah. Di sinilah—menurut catatan tentara Jepang—dulu dilakukan pencatatan dan penyimpanan catatan tahanan.
Malam Pertama: Suara dari Rak Buku
Nadya memutuskan merekam semua penelitiannya dengan kamera dan alat perekam suara. Ia bermalam di bangunan itu dengan perlengkapan seadanya. Pada tengah malam, terdengar suara buku jatuh. Saat dicek, salah satu buku terbuka di halaman bertuliskan huruf Kanji dan ejaan Belanda kuno.
Ia menutupnya. Namun sebelum kembali ke tikar tidurnya, ia mendengar suara lirih. Seperti gumaman. Lalu… bisikan. Bahasa yang tak ia mengerti. Ia pasang headset ke alat perekam—dan di sana terdengar lebih jelas: “Buku ini tak boleh dibaca… pergi…”
Hari Kedua: Penemuan yang Terpendam
Pagi harinya, Nadya menemukan sebuah panel tersembunyi di balik rak. Saat dibuka, di dalamnya ada peti logam kecil berisi surat-surat tua, opium kering yang menghitam, dan foto hitam-putih. Salah satu foto menunjukkan sekelompok pria Belanda bersama dua wanita pribumi—semua mengenakan pakaian pesta—dengan latar belakang ruangan yang sama dengan perpustakaan itu.
Wajah wanita di pojok foto tampak pudar, nyaris terhapus. Tapi sorot matanya seperti mengikuti Nadya. Ia menyimpan temuan itu untuk diteliti malam nanti.
Malam Kedua: Tangga Menuju Bawah Tanah
Sekitar pukul 2 dini hari, suara ketukan terdengar dari bawah. Nadya menyalakan senter dan turun ke ruang bawah tanah melalui tangga spiral. Di sana, ruangannya lebih lapang dari dugaan, dengan lantai bata merah yang licin dan bau besi berkarat.
Tiba-tiba, lampu senternya mati. Tapi saat itu pula, lampu gantung tua di langit-langit menyala dengan cahaya kekuningan. Di sekelilingnya, dinding-dinding penuh coretan. Beberapa bertuliskan tanggal, nama tahanan, dan simbol opium.
Dan di tengah ruangan: satu meja panjang… dengan kursi berjejer, seperti untuk rapat. Salah satunya bergerak sedikit.
Suara dari Masa Lalu
Dari alat rekaman, muncul lagi suara bisikan. Kali ini, berbeda. Lebih intens. “Dia belum dibebaskan… kami terperangkap… kami tak bisa tidur…”
Seketika lampu gantung berayun sendiri. Dari sudut ruang, asap tipis muncul, membentuk siluet seorang perempuan. Rambutnya panjang, gaunnya lusuh, dan ia membawa buku kecil dalam genggaman. Wajahnya setengah terbakar.
Suaranya berat: “Opium bukan candu. Ia adalah sumpah. Dan aku pengawalnya.”
Kembali ke Permukaan: Tidak Bisa Keluar
Pagi datang. Nadya panik. Saat ingin keluar, pintu utama tidak bisa dibuka. Jendela terkunci dari dalam. Jam tangannya berhenti pukul 03.14. HP mati, baterai rusak.
Ia menunggu di bawah cahaya remang. Tapi rak-rak buku kini tidak sama. Buku-buku pindah posisi. Beberapa halaman terbalik sendiri. Suara langkah kaki terdengar di lantai atas, padahal ia sendirian. Tangga spiral mengeluarkan suara… seolah ada yang naik perlahan.
Upacara Opium Terakhir
Dalam catatan yang ia temukan sebelumnya, disebutkan bahwa pada 1944, seorang perwira Jepang melakukan “ritual peluruhan dosa” dengan membakar opium dan mengorbankan nyawa wanita pribumi. Sejak itu, perpustakaan menjadi tempat “mengunci roh”.
Nadya membacakan ulang catatan Latin di salah satu surat. Lalu memercikkan air bunga dan membakar dupa. Sesosok tubuh muncul di meja panjang ruang bawah—duduk di kursi paling tengah. Wanita dalam foto itu. Kini wajahnya utuh… dan menangis.
Ia berkata, “Jika tak ada yang membuka lembar terakhir, semua akan terulang…”
Pagi Terakhir: Dosa yang Belum Ditutup
Pagi benar-benar datang. Cahaya matahari masuk perlahan. Jendela bisa dibuka. Pintu juga terbuka sendiri. Nadya keluar dengan langkah gontai, membawa hanya satu buku kecil bersampul merah.
Ia menyerahkannya ke dinas budaya dan memilih tidak meneliti tempat itu lagi. Namun sejak hari itu, ia mulai tidur sambil membaca. Dan kadang, ia membisikkan nama-nama dari dinding ruang bawah tanah itu. Nama yang tidak pernah dia tahu sebelumnya.
Penutup: Lembaran yang Tak Pernah Benar-Benar Tertutup
Seminggu kemudian, bangunan itu direnovasi. Tapi pekerja bangunan melapor: alat-alat sering rusak, suara tangisan terdengar saat malam, dan jejak kaki selalu muncul di debu rak.
Perpustakaan opium Kota Lama kini tidak dibuka untuk umum. Tapi kadang-kadang, pada malam hari, seorang perempuan terlihat duduk di dalam. Membaca buku merah… dan menatap ke arah jendela.