Dingin yang Tidak Wajar
Tarakan, kota pesisir di Kalimantan Utara, terkenal dengan pabrik ikannya. Namun di salah satu pabrik tua yang berada di tepi pelabuhan, para pekerja sering bercerita tentang sesuatu yang tak dapat dijelaskan — suara ketukan dari dalam ruang pendingin dan bau amis yang muncul bahkan ketika semua mesin dimatikan.
Rumor paling menakutkan muncul setelah ditemukannya mayat hidup di dalam peti es pada malam yang diselimuti badai besar. Peristiwa itu mengubah pabrik yang semula ramai menjadi bangunan sunyi yang kini hanya diisi suara laut dan deru angin asin.
Ditemukannya Peti Es
Malam itu, Rizal, kepala shift pabrik, sedang melakukan pemeriksaan rutin. Ia memperhatikan satu peti es di ujung ruangan yang tertutup rapat dan berembun tebal. Padahal pabrik sudah berhenti beroperasi sejak sore.
Ketika ia mencoba membukanya, kunci peti terasa beku, seolah baru saja disegel dari dalam. Dengan bantuan linggis, ia akhirnya berhasil membuka penutupnya. Asap dingin keluar perlahan, dan di dalamnya terlihat tubuh seseorang — pucat, membiru, tapi matanya terbuka.
“Ya Tuhan… ini bukan ikan,” gumam Rizal pelan.
Tubuh itu mengenakan seragam pabrik dengan nama yang masih terbaca: Arman. Yang aneh, catatan kehadiran menunjukkan bahwa Arman sudah meninggal tiga bulan sebelumnya dalam kecelakaan kapal.
Namun bibir mayat itu bergerak pelan, mengeluarkan suara lirih yang membuat darah Rizal membeku:
“Dingin… terlalu dingin…”
Arman yang Kembali
Keesokan harinya, berita itu menyebar cepat. Polisi datang, tapi ketika mereka membuka peti itu lagi, tubuh Arman sudah tidak ada. Hanya air beku yang menggenang di dasar peti.
Beberapa pekerja mengaku melihat sosok pria berjalan di area pabrik malam sebelumnya, basah kuyup, dengan langkah berat dan mata kosong. Salah satu saksi, Tasya, berkata, “Aku lihat dia lewat di depan freezer utama… bajunya masih meneteskan air, tapi waktu kucoba panggil, dia malah senyum dan bilang, ‘Aku belum selesai bekerja.’”
Setelah itu, Tasya tidak pernah masuk lagi ke pabrik.
Rahasia Laut Tarakan
Penyelidikan mendalam mengungkap sesuatu yang mengerikan. Kapal yang ditumpangi Arman sebelum ia dinyatakan meninggal ternyata tenggelam di tengah badai besar karena menabrak karang tua yang disebut warga sebagai Batu Nenek Laut. Legenda lokal mengatakan, karang itu adalah tempat bersemayam arwah perempuan penjaga laut yang dendam pada manusia karena jasadnya tak pernah dikuburkan dengan layak.
Beberapa nelayan percaya bahwa mereka yang meninggal di laut akan terus mencari kehangatan — bahkan jika itu berarti mengambil alih tubuh orang lain.
Sejak malam ditemukannya mayat hidup, es di pabrik sering mencair tiba-tiba. Airnya berbau amis dan meninggalkan noda gelap seperti darah.
Suhu yang Turun
Seminggu setelah kejadian, Rizal dan dua teknisi lain diminta memeriksa sistem pendingin. Mereka masuk ke ruang pembeku utama, membawa senter. Suhu di ruangan itu turun drastis tanpa alasan, mencapai minus 30 derajat.
“Seperti ada sesuatu yang menyerap panas di sini,” kata salah satu teknisi.
Tiba-tiba, lampu ruangan padam. Dari kegelapan, terdengar suara langkah kaki berderak di atas es. Ketika Rizal menyorotkan senter, mereka melihat jejak kaki basah menuju peti besar di ujung ruangan — peti yang sama yang dulu berisi Arman.
Peti itu bergerak sendiri, berguncang keras, diikuti suara ketukan dari dalam. Tok… tok… tok. Lalu dari celah penutupnya, keluar tangan biru pucat mencengkeram sisi peti.
Teknisi berteriak, tapi sebelum mereka sempat lari, pintu ruang pendingin menutup dengan keras.
Teriakan dari Dalam
Keesokan paginya, petugas keamanan menemukan ruang pendingin terkunci dari dalam. Ketika pintu berhasil dibuka, ruangan itu kosong. Tak ada Rizal atau teknisi. Hanya uap dingin dan air mencair yang membentuk bekas kaki menuju drainase pembuangan.
Di dekat peti es, seseorang menulis dengan jari di dinding berembun:
“Jangan bekukan laut.”
Setelah insiden itu, pabrik resmi ditutup. Namun warga sekitar pelabuhan sering mendengar suara ketukan dari arah gedung kosong itu, diikuti teriakan yang menggema seperti seseorang yang tenggelam di bawah air.
Penelusuran Wartawan
Beberapa tahun kemudian, seorang wartawan muda bernama Nina datang ke Tarakan untuk membuat liputan tentang kisah misterius tersebut. Ia berhasil menyelinap masuk ke dalam pabrik yang kini sudah dipenuhi lumut dan karat.
Di dalam ruang pendingin, ia menemukan sesuatu yang tak dilaporkan sebelumnya: catatan kerja lama milik Arman. Dalam halaman terakhir tertulis,
“Suhu ruang -25. Ada suara dari dalam es. Sepertinya bukan hewan.”
Nina menatap dinding yang penuh bercak hitam beku. Saat ia mengeluarkan kameranya untuk mengambil gambar, lensanya mulai berembun. Dalam pantulan layar kamera, ia melihat seseorang berdiri di belakangnya — tubuh membeku, dengan wajah penuh retakan es dan mata mayat hidup yang kosong.
Ia berbalik, tapi tak ada siapa pun. Hanya udara dingin yang menampar kulitnya. Ketika ia memutar balik rekaman kamera, terdengar suara laki-laki berbisik:
“Aku masih di sini…”
Arwah dari Laut
Keesokan harinya, Nina menemui nelayan tua yang dulu bekerja bersama Arman. Lelaki itu bercerita bahwa saat kapal mereka tenggelam, Arman mencoba menyelamatkan peti berisi hasil tangkapan. Namun peti itu justru menariknya ke dasar laut.
“Tuhan tahu, kami semua dengar teriakannya sebelum dia hilang,” kata si nelayan. “Tapi setelah badai reda, peti itu hanyut dan ditemukan di dermaga — kosong.”
Nina terdiam. Ia kembali ke pabrik untuk mengambil footage tambahan, tapi ketika masuk, semua pintu membeku tertutup. Dalam gelap, ia mendengar suara air menetes, diikuti langkah kaki dari belakang.
Suara itu mendekat, dan dalam cahaya ponselnya, ia melihat mayat hidup berdiri di ujung lorong, tubuhnya beku tapi matanya bergerak.
“Kau menulis tentangku, ya?”
Pembalasan
Arman — atau apapun yang menyerupainya — mendekat perlahan. Setiap langkah membuat udara semakin dingin. Nina berusaha melarikan diri, tapi lantai licin tertutup es. Tiba-tiba, dari dinding pabrik keluar semburan air laut yang membeku, membentuk rantai es yang melilit tubuhnya.
Sebelum pingsan, ia sempat melihat cermin es di dinding yang memperlihatkan sesuatu aneh: bayangannya bukan dirinya sendiri, melainkan wajah Arman yang tersenyum dingin.
Beberapa hari kemudian, tim pencari menemukan ponselnya di dalam peti es pabrik yang tertutup rapat. Di dalam galeri video, terdapat rekaman terakhir berdurasi dua menit: ruangan gelap, uap dingin memenuhi layar, lalu muncul tulisan berembun di lensa kamera —
“Aku masih hidup di dalam es.”
Epilog: Pabrik Beku
Kini, pabrik ikan Tarakan berdiri sunyi di tepi laut. Pemerintah setempat melarang siapa pun masuk, tapi para nelayan bersumpah bahwa setiap kali badai datang, lampu-lampu di dalamnya menyala sendiri.
Dari dermaga, terkadang terdengar ketukan ritmis dari arah freezer besar, seperti seseorang yang berusaha keluar. Dan di pagi hari setelah badai, es di sekitar pelabuhan selalu mencair lebih lambat dari biasanya.
Beberapa orang bilang, itu karena roh mayat hidup Arman masih bekerja, menjaga peti es tempat ia dikurung selamanya.
Jika kau lewat sana malam-malam, jangan menatap terlalu lama ke arah jendela pabrik, sebab di balik kaca yang berembun, ada sepasang mata biru pucat yang mungkin sedang menatap balik — menunggu tubuh lain untuk menggantikan dinginnya.
Kesehatan : Bahaya Sering Menahan Buang Air Kecil untuk Ginjal