Lilin Menyala Sendiri Di Kamar Kos Pontianak Basah Malam

Lilin Menyala Sendiri Di Kamar Kos Pontianak Basah Malam post thumbnail image

Kamar Kos Basah di Pinggir Pontianak

Malam di Pontianak selalu lembap, namun malam ketika lilin menyala sendiri di kamar kos itu terasa jauh lebih berat dari biasanya. Hujan baru saja reda, sehingga tembok kusam masih meneteskan air, dan lantai koridor digenangi sisa hujan yang masuk lewat celah atap. Raka berdiri di depan pintu kamar barunya, memegang kunci dengan ragu, sementara suara motor di jalan perlahan menghilang ditelan gelap.

Kamar kos itu murah sekali, karena lokasinya agak masuk ke gang dan selalu basah akibat atap bocor. Meskipun begitu, Raka tetap menerimanya, sebab gajinya sebagai pegawai toko tidak memungkinkan ia memilih tempat lain. Pemilik kos hanya berpesan singkat, bahwa jangan tidur terlalu malam dan sebaiknya jangan menyalakan lilin, kecuali listrik padam lama. Akan tetapi, peringatan itu terdengar aneh, karena di meja kayu kamar justru sudah tersedia sebuah lilin kecil berwarna putih kusam di atas piring seng berkarat.

Walaupun firasatnya tidak enak, Raka akhirnya membuka pintu dan melangkah masuk ke kamar sempit penuh lembap, tanpa tahu bahwa sejak malam itu, suara tetesan air bukan lagi satu-satunya yang akan menemaninya.


Suasana Lembap dan Bayangan di Dinding

Begitu lampu neon menyala, kamar itu memperlihatkan dirinya apa adanya. Tembok penuh bercak hitam jamur, kasur busa tipis di sudut kanan, dan jendela kecil yang menghadap tembok rumah sebelah. Selain itu, udara di dalam kamar terasa lebih dingin dibandingkan koridor, seolah AC tak terlihat menyala di sudut ruangan.

Raka menaruh tas di lantai, lalu duduk di tepian kasur. Sementara itu, ia menatap lilin di atas meja. Sumbu lilin sudah menghitam, seakan sering dipakai, meski kamar ini menurut pemilik kos sudah kosong berbulan-bulan. Bayangan lilin yang belum menyala itu memanjang di dinding, dan anehnya, ujung bayangan tampak bergetar pelan seperti tertiup angin, padahal jendela tertutup rapat.

Ia mengabaikannya, kemudian mulai merapikan pakaian seadanya ke dalam lemari kecil. Meskipun begitu, setiap kali menoleh tanpa sengaja, ia merasa bayangan lilin itu berubah posisi sedikit demi sedikit, makin dekat ke kasur, seolah merayap mengikuti gerak tubuhnya.


Tetangga Kos dan Peringatan yang Terlambat

Menjelang larut, suara televisi dari kamar depan masih terdengar samar. Raka memutuskan keluar sebentar untuk mandi di kamar mandi bersama di ujung lorong. Di sana, ia berpapasan dengan seorang pemuda berkacamata yang sedang menggosok gigi sambil menguap lebar.

“Baru masuk ya?” tanya pemuda itu, suaranya datar namun matanya meneliti.

“Iya, Mas. Kamar paling ujung,” jawab Raka. “Yang dekat tembok gang.”

Pemuda itu berhenti menggosok gigi sejenak, lalu menatap Raka lama. Setelah itu, ia mendekat sedikit dan berbisik, meskipun tidak ada orang lain di sekitar. Ia bilang, kamar ujung itu dulu pernah dihuni seorang mahasiswi yang suka menyalakan lilin tiap malam, padahal listrik jarang padam. Suatu malam, tetangga kos mencium bau hangus bercampur amis, tetapi ketika pintu kamar didobrak, mereka hanya menemukan lilin yang hampir habis, kasur basah, dan jejak hitam di dinding yang bentuknya mirip tubuh manusia berlutut.

“Kalau listrik padam, mending keluar saja ke teras,” tambahnya. “Jangan tinggal sendirian di kamar. Apalagi kalau ada lilin menyala.”

Raka tertawa kaku, namun kata-kata pemuda itu menempel di kepalanya lebih lama daripada yang ia akui.


Listrik Padam dan Lilin Pertama

Malam pertama seharusnya berjalan biasa, tetapi Pontianak ternyata tidak berbaik hati. Menjelang tengah malam, hujan kembali turun deras, angin mengetuk-ngetuk kaca jendela, dan tak lama kemudian, listrik padam sepenuhnya. Kamar jatuh ke dalam gelap, hanya menyisakan suara air menetes dari sudut atap yang bocor.

Raka memegang ponsel dan menyalakan flashlight. Sementara itu, ia melirik ke arah lilin di meja. Meskipun pemilik kos menyarankan untuk tidak menyalakannya, keadaan gelap total membuatnya ragu. Akhirnya, ia berdiri, meraba laci meja, dan menemukan korek api kecil. Dengan gerakan cepat, ia menggesek korek dan mendekatkannya ke sumbu lilin.

Api kecil menyala, dan ruangan langsung dipenuhi cahaya kuning redup. Namun, bayangan yang dihasilkan lilin di dinding tampak jauh lebih besar daripada sumber cahayanya. Siluet tubuh Raka dan perabot kamar memanjang tidak wajar, menempel di langit-langit seolah ingin jatuh menimpa. Walaupun demikian, lilin membuat kamar tidak terlalu mengerikan, sehingga ia kembali ke kasur dan mencoba memejamkan mata.


Nyala Lilin yang Tak Mau Padam

Beberapa waktu kemudian, Raka terbangun. Ia tidak tahu jam berapa, karena ponselnya kehabisan baterai. Namun, lilin di meja masih menyala, padahal ia yakin nyalanya hampir habis ketika ia tertidur tadi. Anehya, tinggi lilin itu seolah tidak berkurang, dan tetesan lilinnya mengumpul di piring seng membentuk pola melingkar tidak teratur.

Ia bangkit, mendekat, dan mencoba memadamkan lilin dengan meniup pelan. Api bergoyang, merendah, tetapi tidak benar-benar padam. Setelah itu, ia meniup lebih keras sampai pipinya pegal, namun nyala kecil itu justru mengecil sebentar kemudian kembali tinggi seperti semula. Sementara udara di sekitarnya makin dingin, bulu kuduknya meremang.

Di tengah keheranannya, terdengar bunyi air menetes bukan hanya dari sudut atap, melainkan dari bawah kasur. Tetesannya lambat namun berat, seolah air bercampur sesuatu yang lebih kental. Raka menelan ludah, lalu menoleh perlahan. Di bawah kasur, lantai tampak mengilap, basah, dengan noda gelap yang merambat sedikit demi sedikit ke arah kaki meja tempat lilin menyala itu diletakkan.


Bau Amis dari Bawah Kasur

Walaupun takut, rasa penasaran memaksa Raka berjongkok di sisi kasur. Ia mengangkat selimut yang menjuntai dan menyorot bagian bawah dengan cahaya lilin. Di sana, lantai yang basah bukan hanya air hujan, melainkan cairan keruh yang berwarna kehitaman di beberapa bagian. Selain itu, bau amis kuat menyergap hidungnya, mirip bau darah yang sudah bercampur air terlalu lama.

Ia mundur spontan, hampir terjatuh. Namun, saat itu juga, tetesan dari atap berhenti seketika, digantikan suara “plip… plip…” yang kini jelas berasal dari bawah kasur, bukan dari mana pun lagi. Setiap tetes yang jatuh, lilin bergetar kecil, seperti ada napas berat yang menghembuskan api dari arah lantai.

Raka memutuskan untuk keluar kamar dan tidur di mushala kecil dekat pintu kos. Akan tetapi, ketika ia memegang gagang pintu, ada sesuatu yang dingin menyentuh pergelangan kakinya, seolah tangan basah meraih dengan putus asa. Seketika, lilin berkedip-kedip, dan bayangan di dinding menunjukkan sosok lain yang berjongkok di bawah kasur, padahal mata Raka tidak melihat siapa pun ketika menengok ke sana.


Cerita Pemilik Kos tentang Penghuni Sebelumnya

Pagi harinya, meski tubuhnya lemas karena hampir tidak tidur, Raka memberanikan diri mendatangi rumah pemilik kos di bagian depan. Rumah itu kering dan rapi, sangat berbeda dengan lorong basah menuju kamarnya. Pemilik kos, ibu paruh baya berkerudung lusuh, menyambut dengan senyum kaku.

Setelah beberapa basa-basi, Raka menceritakan kejadian semalam, meskipun ia sengaja mengurangi detail agar tidak terdengar seperti orang paranoid. Namun, begitu ia menyebut lilin yang tidak mau padam dan lantai basah berbau amis, wajah ibu kos itu berubah pucat. Tangannya yang memegang gelas teh bergetar halus.

Ia pun akhirnya bercerita, bahwa kamar ujung itu dulunya dihuni mahasiswi perantau yang sering mengeluh sulit tidur. Gadis itu selalu menyalakan lilin kecil setiap malam, katanya karena suara hujan membuatnya gelisah dan bayangan lampu kos terlalu tajam. Pada suatu malam, tetangga kos mencium bau hangus dan amis menyatu, tetapi ketika pintu didobrak, gadis itu sudah tergeletak di lantai, tubuhnya setengah terendam air karena bocor. Lilin di sampingnya tetap menyala, meski sudah penuh tercelup dalam genangan.

Sejak itu, kamar dibiarkan kosong, namun kadang-kadang, saat listrik padam, beberapa penghuni kos mengaku melihat cahaya kecil dari celah pintu kamar tersebut. Cahaya lilin menyala yang tidak pernah mereka hidupkan sendiri.


Malam Kedua: Listrik Tidak Padam, Lilin Tetap Menyala

Malam berikutnya, cuaca justru cerah, walaupun udara masih lembap. Langit Pontianak bersih dari hujan, dan listrik tidak padam sama sekali. Meskipun begitu, rasa waswas di dada Raka tidak berkurang. Ia kembali ke kamar kos dengan langkah berat, berharap hanya bisa tidur cepat dan pagi segera datang.

Begitu membuka pintu, ia tertegun. Lilin di atas meja masih berada di tempat yang sama, dengan tinggi yang sama, dan sumbunya menghitam seperti setelah digunakan. Namun, kali ini, lampu neon berkedip-kedip tanpa alasan. Raka menyalakan lampu, lalu sengaja mematikan lilin dengan menjepit sumbu menggunakan jari yang dibasahi air. Api padam, dan kamar kembali hanya diterangi neon pucat.

Ia mencoba fokus pada ponsel, menonton video acak untuk mengalihkan perhatian. Namun, perlahan, hawa kamar menjadi dingin, meski jendela tertutup rapat. Kemudian, tanpa angin dan tanpa gangguan listrik, lilin yang sebelumnya padam tiba-tiba menyala sendiri. Api kecil berkedip pelan di sudut meja, meski sumbu tidak disentuh siapa pun.


Suara Air dan Sosok Perempuan di Sudut Ruang

Api lilin menyala perlahan lebih terang, membuat sudut kamar yang tadinya tenggelam dalam gelap kini terlihat. Raka memandang dengan mulut sedikit terbuka, sementara suara air kembali terdengar. Air kali ini bukan hanya tetesan, melainkan seperti ada seseorang yang baru saja bangkit dari genangan dan melangkah dengan kaki basah di lantai.

Di sudut ruangan, dekat lemari rendah, bayangan perempuan berambut panjang tampak samar di dinding. Tubuhnya kurus, bahunya sedikit bungkuk, dan rambutnya menutupi sebagian besar wajah. Namun, yang membuat napas Raka tercekat adalah cara bayangan itu bergerak tanpa ada sosok nyata di depannya. Bayangan itu menengadahkan kepala, seolah melihat ke arah lilin, lalu perlahan beringsut mendekat ke kasur.

Sementara itu, tetesan air menurun dari ujung rambut bayangan tersebut, jatuh ke lantai dan menimbulkan noda basah yang nyata. Setiap tetes yang jatuh, bau amis kembali menyebar, menembus dinding lembap kamar kos Pontianak yang sudah cukup pengap tanpa tambahan aroma kematian.


Titik Lilin dan Lingkaran di Lantai

Raka tidak tahan lagi. Ia bangkit dan mencoba kembali memadamkan lilin dengan meniup sekuat tenaga. Api seperti menolak, berkedip-kedip keras sebelum akhirnya meredup. Namun, walaupun cahaya lilin menghilang, lingkaran lilin cair di piring seng tetap memancarkan kilau aneh, seolah menyimpan nyala di dalamnya.

Saat ia menatap lebih dekat, ia menyadari bahwa tetesan lilin itu tidak menyebar sembarangan. Polanya membentuk lingkaran yang hampir sempurna, dengan beberapa garis kecil yang menyerupai huruf atau simbol. Noda air hitam dari bawah kasur merambat hingga menyentuh lingkaran tersebut, dan ketika dua cairan itu bertemu, lantai bergetar sangat halus, seakan ada napas panjang yang ditarik dari dalam kamar.

Di telinganya, Raka mendengar bisikan perempuan yang basah, meminta untuk diberi tempat duduk kembali di tepi kasur, meminta lampu dimatikan, dan memohon lilin menyala terus sampai pagi. Suara itu terdengar terlalu dekat, seolah berasal dari tepat di belakang lehernya.


Keputusan Terakhir di Kamar Basah

Raka akhirnya memutuskan untuk pergi malam itu juga. Ia memasukkan pakaiannya dengan tergesa ke dalam tas, tanpa peduli mana yang sudah basah dan mana yang masih kering. Sementara itu, lilin di meja kembali menyala tanpa peringatan, memantulkan bayangan tubuhnya di dinding bersama bayangan lain yang berdiri terlalu dekat di belakangnya.

Ketika ia meraih gagang pintu, daun pintu terasa lengket, seperti habis disiram air gula. Ia menarik dengan kuat, namun pintu hanya terbuka sedikit, seolah tertahan sesuatu dari luar. Dari celah sempit itu, koridor tampak gelap, tanpa cahaya, tanpa suara. Air menetes dari langit-langit lorong, dan di tengah-tengah genangan, tampak jejak kaki kecil menuju ke kamar yang ia tempati.

Sementara itu, di dalam kamar, suara perempuan berbisik lagi, kali ini lebih jelas. Ia berterima kasih karena lilin telah menyala kembali untuknya, karena ada yang mau tinggal di kamar basah ini lagi, dan karena ada yang tidak sempat membaca larangan kecil yang konon dulu tertulis di belakang pintu: “jangan tinggalkan lilin sendirian.”


Setelah Raka, Lilin Masih Menyala

Keesokan harinya, pemuda berkacamata di kamar mandi bersama tidak melihat Raka berangkat kerja seperti biasa. Pintu kamar ujung tertutup rapat, namun dari celah bawahnya, genangan kecil air merembes ke koridor. Pemilik kos dipanggil, dan mereka bersama-sama mengetuk pintu beberapa kali tanpa jawaban.

Ketika kunci cadangan dipakai dan pintu didorong, kamar itu tampak kosong. Tas Raka masih ada di atas kasur, pakaian berserakan, dan jendela tertutup rapat. Sementara itu, piring seng di atas meja menampung lilin utuh yang menyala kecil, tanpa ada seorang pun di dalam kamar. Lantainya basah, tetapi tidak ada tubuh, tidak ada jejak, hanya bau lembap bercampur amis yang menempel di udara.

Sejak hari itu, penghuninya sering berganti, namun kamar ujung tetap jarang dipilih. Walaupun begitu, pada malam tertentu ketika hujan turun deras dan listrik meredup sebentar, beberapa anak kos yang nekat pulang larut mengaku melihat cahaya kecil di ujung lorong: lilin menyala sendiri di kamar kos Pontianak basah, menunggu seseorang yang cukup putus asa untuk mengabaikan semua cerita dan memilih tidur di sana semalam lagi.

Food & Traveling : Tradisi Kuliner Unik dari Desa-Desa di Indonesia Timur

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post