Malam Pertama di Rumah Tua Situbondo
Angin malam dari arah pantai Situbondo menyusup lewat celah jendela kayu ketika Nisa memutar kunci rumah tua peninggalan kakeknya. Di balik pintu, aroma lembap bercampur bau kayu tua menyambut seperti napas panjang yang sudah lama tertahan. Meskipun ia sudah berkali-kali melihat foto rumah ini di dokumen warisan, suasana nyata di dalamnya terasa jauh lebih berat daripada yang dibayangkannya.
Sejak awal, Nisa datang dengan niat sederhana: ia hanya ingin tinggal sementara di rumah tua ini sambil menyelesaikan naskah novel horor pertamanya. Namun, begitu kakinya melangkah ke ruang tengah, pandangannya langsung tertumbuk pada sebuah meja kecil dengan satu lilin merah gelap di atasnya. Lilin itu tampak biasa, tetapi alas porselen di bawahnya dipenuhi bekas noda kecokelatan yang mengering, seolah ada sesuatu yang pernah menetes berkali-kali dari sana.
Karena rasa penasaran, ia mendekat dan meraba permukaan lilin. Teksturnya sedikit lengket, seakan lilin belum sepenuhnya mengeras meski jelas sudah lama tidak dinyalakan. Sementara itu, di sudut ruangan, foto keluarga hitam putih menatap dari dinding dengan ekspresi kaku. Oleh karena itu, suasana malam pertamanya sudah terasa tidak wajar bahkan sebelum lilin berdarah itu menyala.
Warisan Rumah dan Peringatan Sepupu
Keesokan paginya, Nisa didatangi Reza, sepupu jauhnya yang tinggal tidak jauh dari sana. Ia datang membawa beberapa sayur dan lauk, sekaligus membawa segudang cerita yang tidak tertulis di berkas warisan. Menurut Reza, rumah itu dulu milik buyut mereka yang dikenal keras dan tertutup. Bahkan, tetangga jarang melihat anggota keluarga lain keluar masuk, kecuali pada malam-malam tertentu ketika lampu rumah menyala sangat terang hingga menjelang subuh.
Konon, setiap malam Jumat Kliwon, keluarga itu melakukan semacam doa bersama di ruang tengah. Pada saat itu, semua jendela ditutup rapat dan tidak ada suara sedikit pun yang terdengar dari luar. Namun, beberapa tetangga bersumpah pernah melihat cahaya merah berkedip-kedip dari celah atap, seolah berasal dari api yang menari di dalam. Karena kabar itu menyebar, orang-orang mulai menghindari lewat di depan rumah ketika malam, dan rumah itu perlahan mendapat reputasi sebagai tempat “ritual aneh”.
Reza menatap tajam ke arah meja kecil di ruang tengah ketika melihat lilin berdarah itu. Ia menyarankan agar lilin dibuang saja, atau setidaknya disimpan di luar rumah. Walaupun begitu, Nisa menolak karena merasa benda itu bisa menjadi inspirasi kuat untuk novelnya. Lagipula, ia masih yakin semua cerita itu hanya bumbu ketakutan warga yang tak suka perubahan.
Lilin yang Menyala Tanpa Api
Menjelang malam kedua, listrik di rumah tua itu sempat berkedip beberapa kali sebelum akhirnya stabil. Nisa duduk di depan laptop di ruang tengah, mencoba menulis adegan pembuka novelnya. Meskipun begitu, setiap beberapa menit, matanya selalu melirik ke lilin di meja kecil. Sementara itu, suara jangkrik dari halaman belakang membentuk irama monoton yang membuat suasana semakin sepi.
Ketika jam dinding menunjuk pukul sebelas lewat, hawa di ruangan berubah lebih dingin. Tiba-tiba, lampu di langit-langit meredup, lalu padam sepenuhnya. Laptop Nisa ikut mati karena belum sempat dihubungkan ke baterai cadangan. Dalam gelap pekat itu, ia meraba-raba mencari ponsel dan senter. Namun, sebelum sempat menyalakannya, kilau merah samar muncul di sudut pandangannya.
Ia menoleh pelan. Tanpa ada yang menyulut, lilin berdarah di meja kecil itu menyala sendiri. Api kecilnya berwarna merah gelap, bukan kuning biasa. Setiap kali nyala itu bergoyang, tetesan kental menuruni badan lilin, jatuh ke piring porselen di bawahnya. Anehnya, tetesan itu tampak lebih mirip darah segar daripada lilin cair. Bahkan, aroma besi samar tercium di udara, membuat perut Nisa mual seketika.
Suara Langkah dan Bisikan dari Dinding
Api lilin terus bergoyang, meski tidak ada angin. Selain itu, bayangan di dinding bergerak lambat mengikuti tarian cahaya. Awalnya, hanya bayangan Nisa yang tampak memanjang. Namun, perlahan, bentuk lain muncul di sampingnya: sosok tinggi kurus dengan bahu sedikit bungkuk. Bayangan itu berdiri tepat di belakangnya, padahal ketika ia menoleh, tidak ada siapa-siapa di ruangan.
Tak lama kemudian, suara langkah terdengar dari lorong menuju kamar belakang. Langkah itu pelan tetapi berat, seakan kaki yang sudah lama tidak berjalan dipaksa bergerak lagi. Setiap hentakan memantul di lantai kayu tua, mengirimkan getaran kecil hingga ke meja tempat lilin berdarah menyala. Sementara itu, dari dinding, muncul bisikan lirih yang terlalu rendah untuk dimengerti, namun terlalu jelas untuk diabaikan.
Nisa mencoba memanggil nama Reza lewat telepon, tetapi sinyal mendadak hilang. Karena panik, ia mengambil segelas air dan menyiram api lilin. Namun, sesuatu yang aneh terjadi: air itu hanya membuat api mengecil sebentar sebelum kemudian menyala lebih besar, seolah diberi makan. Tetesan merah di piring porselen bertambah banyak, mengalir mendekati ujung meja, nyaris menetes ke lantai.
Kamar Terkunci dan Catatan yang Terlupakan
Keesokan harinya, walaupun matahari sudah tinggi, rumah tetap terasa suram. Walaupun takut, Nisa memutuskan untuk menyelidiki rumah lebih jauh. Ia menyusuri lorong ke arah kamar belakang yang tadi malam terdengar langkah-langkah misterius. Ada satu pintu yang terkunci, berbeda dari yang lain. Gagangnya dingin saat disentuh, dan cat di permukaannya mengelupas, memperlihatkan kayu tua di bawah.
Setelah mencari-cari, ia menemukan kunci kecil di dalam laci lemari ruang depan. Saat kunci dimasukkan, terdengar bunyi klik pelan, seolah pintu itu sudah lama menunggu untuk dibuka. Di dalam kamar, udara lebih pengap. Tirai tebal menutup jendela, dan hanya sedikit cahaya yang menyelinap lewat celah kain. Di sudut ruangan, ada meja tulis kuno dengan tumpukan buku dan catatan.
Di antara catatan-catatan itu, Nisa menemukan buku harian dengan tulisan tangan rapi namun tegang. Isinya menceritakan tentang seorang perempuan bernama Sari—saudara perempuan buyutnya—yang sakit parah dan tidak kunjung sembuh. Dalam keputusasaan, keluarga itu melakukan sebuah ritual rahasia menggunakan lilin merah yang diisi darah anggota keluarga sendiri. Konon, selama lilin berdarah tetap menyala, nyawa Sari akan ditahan di antara hidup dan mati. Namun, ada syarat: setiap kali lilin dinyalakan, harus ada “bagian hidup” lain yang dipersembahkan.
Pengakuan Reza dan Rahasia Kematian
Setelah membaca beberapa halaman, Nisa segera memanggil Reza untuk datang lagi ke rumah. Ketika ia menunjukkan buku harian itu, wajah Reza berubah pucat. Ia mengakui bahwa ia pernah mendengar versi lain dari cerita keluarga. Menurut kakek nenek mereka, Sari tidak pernah benar-benar sembuh. Sebaliknya, selama beberapa bulan setelah ritual pertama, rumah itu dipenuhi kejadian aneh: suara orang menangis di malam hari, bayangan berjalan di lorong, dan ayam tetangga yang mendadak mati bergantian.
Pada akhirnya, Sari ditemukan meninggal di kamar itu dengan mata terbuka menatap ke langit-langit. Meskipun demikian, lilin yang digunakan saat ritual tidak pernah padam sepenuhnya. Bahkan, setelah pemakaman, beberapa anggota keluarga masih sering melihat nyala kecil di meja tengah setiap malam Jumat Kliwon. Karena ketakutan semakin besar, sebagian keluarga memilih pindah, meninggalkan rumah beserta rahasianya.
Reza menyesal tidak menceritakan semua sejak awal. Namun, ia juga tidak pernah tahu bahwa lilin berdarah itu masih ada dan ditempatkan di ruang tengah. Ia memohon agar Nisa mau membiarkannya membantu memusnahkan lilin itu. Walaupun begitu, di satu sisi, Nisa merasa seolah lilin itu justru ingin didengarkan, seakan ada cerita yang belum tuntas dan ingin ditulis.
Malam Terakhir: Lilin Memilih Korban
Malam berikutnya, hujan turun merintik melalui atap seng di dapur belakang. Meski udara dingin, keringat dingin menempel di leher Nisa. Ia dan Reza sepakat mengakhiri semuanya malam itu. Mereka menyiapkan air garam, bacaan doa, serta rencana sederhana: saat lilin berdarah menyala, mereka akan memadamkannya, memecah porselen, lalu menguburnya jauh dari rumah.
Namun, sejak sore, suasana sudah tidak bersahabat. Burung-burung yang biasanya bertengger di pohon depan tidak tampak. Angin membawa aroma anyir masuk lewat celah atap. Ketika jam dinding mendekati tengah malam, lampu kembali berkedip, lalu padam. Kali ini, mereka sudah memegang senter dan bersiap di ruang tengah.
Seperti sebelumnya, nyala merah muncul tiba-tiba di atas meja. Api lilin berdarah menyala lebih besar daripada malam pertama, seakan menyadari bahwa ini bisa menjadi malam terakhirnya. Tetesan kental mengalir deras, memenuhi piring porselen hingga meluap ke meja. Di permukaan merah itu, bayangan wajah seorang perempuan tampak samar: mata cekung, bibir pucat, tetapi senyum tipis menghiasi sudutnya.
Api Merah, Jeritan, dan Pintu yang Tertutup
Reza maju lebih dulu, membawa mangkuk air garam dan doa di bibirnya. Ia menaburkan sedikit air ke arah lilin, membuat api berdesis. Namun, api tidak padam, justru memanjang, memuntir ke atas seperti tangan yang marah. Pada saat yang sama, semua pintu di rumah tertutup keras satu per satu, seakan ditampar oleh sesuatu yang tak terlihat.
Jeritan perempuan terdengar dari arah kamar belakang, bercampur dengan suara langkah banyak orang di lorong. Lantai berguncang ringan, dan dinding bergetar seolah ada puluhan tangan menghantam dari dalam. Nisa berusaha ikut membaca doa, tetapi suaranya patah-patah. Ia merasa ada sesuatu yang menarik pergelangan kakinya ke bawah, seperti tangan dingin dari bawah lantai.
Tiba-tiba, nyala lilin berdarah memuntahkan percikan merah ke sekeliling. Salah satu percikan menyentuh lengan Reza, meninggalkan bekas luka bakar kecil yang langsung menghitam. Ia berteriak kesakitan dan menjatuhkan mangkuk air. Air bercampur dengan cairan merah di meja, menciptakan pola aneh yang bergerak sendiri, membentuk tulisan yang nyaris terbaca: nama-nama keluarga yang pernah tinggal di rumah itu, termasuk nama Nisa dan Reza di ujungnya.
Setelah Nyala Terakhir Padam
Dalam keputusasaan, Nisa meraih taplak meja dan menariknya dengan sekuat tenaga. Meja terguncang keras, piring porselen terlempar ke lantai dan pecah menjadi beberapa bagian. Lilin jatuh terguling, apinya menjilat lantai kayu. Namun, alih-alih membakar, api itu meredup pelan, seolah kehabisan sesuatu yang menjadi bahan bakarnya.
Dengan napas terengah, Reza menaburkan sisa air garam langsung ke sumbu lilin. Kali ini, api padam total, menyisakan asap tipis berbau tengik. Pada saat yang sama, suara langkah dan jeritan di seluruh rumah berhenti mendadak. Hujan di luar kembali terdengar wajar, dan udara berat perlahan mengendur.
Mereka mengumpulkan sisa lilin berdarah dan pecahan piring dengan tangan gemetar. Tanpa menunggu pagi, mereka pergi ke kebun kosong di belakang rumah, menggali tanah sedalam mungkin, dan mengubur semuanya di sana. Tanah ditutup rapat, lalu diberi batu besar di atasnya agar tidak mudah terusik.
Beberapa bulan kemudian, Nisa meninggalkan Situbondo dan kembali ke kota. Namun, ia membawa satu hal yang tidak bisa dibuang: naskah novel yang ia tulis berdasarkan pengalaman di rumah tua itu. Meskipun cerita dalam bukunya tampak fiksi bagi pembaca, setiap detail nyala lilin, suara langkah, dan aroma darah adalah sesuatu yang sungguh ia rasakan.
Rumah tua di Situbondo akhirnya dijual murah kepada orang luar kota yang tidak tahu apa-apa. Walaupun penghuni baru merenovasi sebagian besar interior, meja kecil di ruang tengah kabarnya tetap dibiarkan kosong. Sesekali, tetangga masih melihat kilau merah samar di malam tertentu, meski tidak ada lilin di atas meja. Mungkin, selama masih ada yang mengingat cerita tentang lilin berdarah, rumah itu tidak akan pernah benar-benar lepas dari bayang-bayangnya.
Otomatif : Perawatan Interior Mobil agar Tetap Nyaman dan Bersih Harian