Awal Mula di Desa yang Sunyi
Lambaian kipas tantra menggeliat di bayangan Desa Wae Rebo, sebuah desa adat di pegunungan Flores yang terkenal dengan rumah-rumah kerucutnya. Malam di desa itu selalu diselimuti kabut, seolah menutupi rahasia lama yang enggan dibuka. Bagi penduduk setempat, setiap sudut desa membawa cerita, dan salah satunya adalah kisah tentang kipas tantra yang dipercaya menyimpan roh yang tak tenang.
Seorang peneliti bernama Ratna datang dengan tujuan mendokumentasikan tradisi masyarakat. Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa perjalanan itu akan membawanya pada jerat misteri. Sejak langkah pertamanya di desa, ia sudah merasakan pandangan mata tak kasatmata, mengintainya dari balik bayangan rumah adat.
Pertanda yang Mengusik
Pada malam pertamanya, Ratna dipanggil oleh seorang tetua. Lelaki tua itu berbicara dengan suara berat, memperingatkan agar ia tidak menyentuh benda-benda sakral, terutama sebuah kipas tantra yang disimpan di rumah utama. Ratna mengangguk, meski rasa ingin tahunya semakin besar.
Namun, larangan itu justru menggelitik benaknya. Apa yang membuat kipas itu begitu berbahaya? Mengapa namanya selalu diucapkan dengan lirih, seakan menyimpan kengerian?
Malam semakin larut, suara serangga dan desir angin menembus dinding rumah kerucut. Tiba-tiba, Ratna mendengar bunyi berdesir lembut, seperti sesuatu melambai-lambai di udara. Ia berbalik, dan di sudut rumah, samar terlihat lambaian kain berwarna merah tua menyerupai kipas. Sejenak ia terpaku, hingga mendapati napasnya tercekat.
Lambaian yang Menggeliat
Hari-hari berikutnya, Ratna semakin sering mendapati keanehan. Saat ia menulis catatan, ada hembusan angin dingin yang mengoyak kertas. Saat ia berjalan di halaman, bayangan panjang dari rumah adat kadang menyerupai bentuk kipas yang terbuka.
Puncaknya terjadi pada malam ketiga. Ratna tersentak bangun karena mendengar suara berdesir yang lebih keras dari biasanya. Saat matanya terbuka, ia melihat dengan jelas kipas tantra itu melayang di udara, berputar pelan, dan melambai seperti tangan yang memanggilnya.
Tubuhnya kaku, namun matanya tak bisa lepas dari lambaian itu. Perlahan, kipas tersebut menggeliat, seperti seekor ular yang bangun dari tidur panjangnya. Ratna merasakan dorongan kuat untuk mendekat, meskipun seluruh tubuhnya menolak.
Misteri Asal Usul Kipas Tantra
Keesokan paginya, Ratna mendesak salah seorang warga muda bernama Jemi untuk menceritakan asal mula kipas itu. Dengan wajah tegang, Jemi akhirnya membuka rahasia.
Konon, kipas tantra tersebut dulunya milik seorang dukun wanita yang menguasai ilmu hitam. Ia dihukum karena mengorbankan nyawa orang-orang desa demi memperkuat kekuatannya. Sebelum meninggal, ia bersumpah akan kembali melalui kipasnya. Sejak itu, setiap malam, kipas tantra dianggap bersemayam roh dukun tersebut, menggeliat dan melambai mencari pengganti tubuh.
Cerita itu membuat Ratna gemetar, tetapi juga semakin terjerat dalam rasa ingin tahu. Ia merasa sudah terlalu dalam untuk mundur.
Malam Teror di Balik Bayangan
Malam itu, Ratna memutuskan untuk berjaga. Kabut turun lebih tebal, dan suara gonggongan anjing mendadak berhenti, digantikan oleh keheningan yang menusuk. Tepat tengah malam, desiran angin kembali muncul. Dari balik bayangan rumah adat, kipas tantra itu perlahan melayang, kali ini lebih dekat daripada sebelumnya.
Ratna mencoba melangkah mundur, tetapi bayangan di sekitarnya berubah menjadi bentuk tangan yang meraih, seolah memaksanya mendekat. Lambaian kipas semakin cepat, menggeliat seperti memaksa jiwanya keluar dari tubuh.
Ratna berteriak, namun suaranya lenyap ditelan kabut. Di matanya, kipas itu membesar, seakan menjadi mulut gelap yang siap menelannya.
Pertarungan Kesadaran
Dalam kondisi terjebak, Ratna teringat pesan tetua desa: “Jangan tatap kipas itu terlalu lama, atau kau akan kehilangan kesadaran.” Dengan sisa tenaga, Ratna memejamkan mata, mencoba melawan dorongan tak kasatmata yang menjerat pikirannya.
Namun, suara-suara mulai terdengar, jeritan perempuan, bisikan dalam bahasa asing, hingga ratapan panjang yang menusuk telinga. Ratna hampir kehilangan akal, sampai sebuah tangan kuat mengguncangnya. Ia membuka mata, dan mendapati Jemi berdiri di depannya, menggenggam sebuah kalung manik-manik yang disebut mampu menolak roh jahat.
Akhir yang Menghantui
Ritual penolakan segera dilakukan oleh tetua desa. Kipas tantra itu kemudian dikurung kembali dalam rumah adat, dengan mantra dan dupa yang dibakar semalaman. Namun, Ratna tahu, pengalaman itu tidak akan pernah hilang dari ingatannya.
Meski ia selamat, lambaian kipas tantra masih terbayang setiap kali ia memejamkan mata. Geliatnya, bisikan yang memburu, dan bayangan desa yang sunyi menjadi bagian dari kesadarannya yang rusak.
Bagi warga Wae Rebo, cerita itu kembali menjadi bagian dari peringatan. Bagi Ratna, lambaian kipas tantra akan selalu menjadi jerat yang tak bisa ia lepaskan, menggeliat di balik bayangan malam, menunggu waktu untuk kembali.
Teknologi & Digital : Literasi Digital Generasi Z Masih Perlu Banyak Perbaikan