Lambaian Kain Putih Ikat Kaki Penjaga Pantai Lovina

Lambaian Kain Putih Ikat Kaki Penjaga Pantai Lovina post thumbnail image

Malam Pertama di Pantai Lovina

Pantai Lovina di Bali dikenal sebagai pantai tenang dengan lumba-lumba yang muncul saat matahari terbit. Namun, di balik keindahan itu, ada kisah lama yang jarang diungkapkan. Kisah tentang kain putih yang melambai di antara gelombang malam.

Arta, seorang penjaga pantai baru, mendengar cerita itu saat pertama kali bertugas malam. Ia menganggapnya sekadar mitos untuk menakut-nakuti orang baru. Tapi malam itu, angin membawa bisikan berbeda. Di tepi pantai, bayangan kain putih terlihat melambai, seolah menunggu seseorang untuk mendekat.


Lambaian yang Menggoda

Awalnya, Arta hanya melihat kain putih itu seperti tergantung di batang kayu kering. Namun setiap kali ia berkedip, posisi kain itu berubah. Kadang lebih dekat dengan ombak, kadang lebih jauh, seperti sengaja memanggil.

Arta mencoba mendekat. Hembusan angin membawa aroma asin bercampur amis darah. Bulunya meremang. Kain putih itu bergerak sendiri, melingkar di udara, lalu seakan menunduk kepadanya.

Kain putih yang awalnya tampak lembut kini seperti tangan halus yang melambai, mengajak masuk ke dalam gelapnya laut.


Kaki yang Terikat

Ketika Arta melangkah lebih dekat, tiba-tiba kakinya terasa berat. Ia menunduk, terkejut melihat ujung kain putih melilit pergelangan kakinya. Semakin ia berusaha melepaskan, lilitan itu semakin erat.

Gelombang datang lebih tinggi dari biasanya, menghantam tubuhnya hingga ia hampir terseret. Di kejauhan, ia melihat sosok perempuan berambut panjang berdiri di bibir pantai, wajahnya tertutup kain putih yang sama.

Arta berteriak, tetapi suara teredam angin malam. Nyali mulai terkikis, namun ia tahu jika menyerah, kain putih itu akan menariknya ke laut.


Jejak Lama Penjaga Pantai

Esok paginya, tubuh Arta ditemukan terbaring lemas di pasir, tanpa jejak luka. Hanya ada bekas lilitan merah di pergelangan kakinya. Teman-teman sesama penjaga kaget, tapi mereka tak benar-benar terkejut.

Mereka tahu, ini bukan kali pertama kain putih menampakkan diri. Dulu, seorang penjaga lain bernama Surya hilang tanpa jejak di malam yang sama. Warga sekitar hanya menemukan sandalnya yang terdampar, dengan kain putih basah menempel di tali.

Sejak itu, kain putih dianggap sebagai pertanda bahwa laut sedang meminta korban.


Malam Kedua yang Menyesakkan

Meski trauma, Arta bersikeras kembali bertugas malam. Ia tak ingin terlihat lemah di mata orang lain. Namun begitu matahari tenggelam, bisikan angin kembali terdengar.

“Kembali… kembali…”

Arta berusaha mengabaikan. Tapi di ujung pandangan, kain putih itu sudah melambai lagi. Kali ini, tidak hanya satu. Ada tiga kain putih yang melayang di atas pasir, seperti makhluk tanpa tubuh.

Salah satunya langsung melayang ke arahnya, menempel di wajahnya, membuatnya sulit bernapas. Ia meronta, dan kain itu perlahan berubah tekstur, seperti kulit manusia dingin yang basah.


Penampakan di Tengah Laut

Di kejauhan, Arta melihat cahaya obor. Seperti ada rombongan berjalan di atas air, menuju pantai. Semakin dekat, ternyata itu bukan manusia. Tubuh mereka tak utuh, hanya kain putih panjang yang membentuk siluet manusia tanpa wajah.

Mereka berhenti di bibir pantai, menundukkan kepala, lalu satu per satu kain putih itu menancapkan diri ke pasir, seolah menunggu perintah.

Arta merasa lututnya lemas. Saat ia mencoba mundur, lilitan di kakinya muncul lagi. Kali ini lebih kuat, menariknya menuju laut.


Teriakan yang Tertelan Ombak

Arta berteriak minta tolong, tetapi teman-temannya yang berjaga di pos tak mendengar apa-apa. Ia terseret semakin jauh, ombak menutup tubuhnya. Sesaat sebelum kepalanya tenggelam, ia melihat jelas sosok perempuan dengan wajah pucat tersenyum di balik kain putih yang menutupi wajahnya.

Suara jeritan terakhirnya lenyap, ditelan oleh deburan ombak yang tak biasa kerasnya malam itu.


Misteri yang Tak Pernah Usai

Keesokan harinya, penjaga pantai lain hanya menemukan pecahan papan pos ronda yang patah, dengan kain putih basah menempel di salah satu ujungnya. Arta tak pernah kembali.

Warga sekitar hanya menggeleng, menganggap laut sudah mengambil yang ia mau. Namun, bagi para penjaga pantai, malam itu menjadi peringatan. Jika kain putih melambai, jangan pernah mendekat.


Legenda Kain Putih di Pantai Lovina

Orang tua desa percaya kain putih adalah jelmaan arwah perempuan yang dulunya meninggal di laut, tubuhnya tak pernah ditemukan. Konon ia mencari jiwa-jiwa rapuh untuk menemaninya di dasar samudra.

Mereka berkata, setiap kali bulan purnama muncul di Pantai Lovina, lambaian kain putih akan semakin sering terlihat. Dan setiap kali itu terjadi, akan selalu ada korban baru.

Teknologi & Digital : Penggunaan IoT di Pertanian Bantu Produktivitas Petani

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post