Kuntilanak Berbaju Merah Melayang di Atas Pura Besakih Bali

Kuntilanak Berbaju Merah Melayang di Atas Pura Besakih Bali post thumbnail image

Kabut di Kaki Gunung Agung

Pura Besakih berdiri megah di lereng Gunung Agung, menjadi pusat spiritual tertinggi bagi masyarakat Bali. Namun di balik kemegahannya, tersimpan kisah yang jarang diucapkan keras-keras. Konon, ada kuntilanak merah yang melayang di atas pura setiap malam Jumat Kliwon, menjerit di antara kabut dan bayangan pohon kamboja yang tua.

Ni Luh Sari, seorang penjaga kebersihan pura, awalnya tidak mempercayai cerita itu. Baginya, semua kisah hantu hanyalah bumbu untuk menakuti anak-anak. Tapi suatu malam di bulan purnama, ketika ia mendapat giliran lembur membersihkan area dalam pura, ia menyaksikan sesuatu yang membuat tubuhnya beku dan napasnya tercekat.


Suara Tawa dari Langit Pura

Malam itu udara lembab dan kabut turun cepat dari lereng gunung. Semua orang sudah pulang, hanya Ni Luh Sari yang tersisa. Sambil menyapu pelataran, ia mendengar suara tawa lirih di kejauhan—tawa perempuan yang serak tapi panjang, seperti gema yang tak berujung.

Awalnya ia mengira itu suara burung hantu. Namun tawa itu makin jelas dan datang dari atas… dari arah langit tepat di atas pura utama. Ia mendongak, dan di antara kabut, tampak sesosok perempuan melayang. Rambutnya panjang menutupi wajah, bajunya merah darah berkilat di bawah sinar bulan.

Sosok itu melayang perlahan mengitari atap pura, lalu berhenti tepat di atas gerbang Candi Bentar. Suaranya berubah menjadi tangisan panjang, melengking, dan menggema di seluruh kompleks pura.

Ni Luh Sari jatuh berlutut, tubuhnya gemetar. Ia ingin berlari, tapi kakinya terasa berat. Saat ia menutup mata, suara lirih terdengar di telinganya, “Kenapa kau di sini malam ini?”


Legenda Kuntilanak Merah Besakih

Keesokan harinya, Ni Luh Sari menceritakan kejadian itu kepada Pak Wayan, penjaga pura senior. Lelaki tua itu menarik napas panjang sebelum menjawab.

“Dulu, di masa letusan Gunung Agung tahun 1963,” katanya pelan, “ada seorang penari Bali muda yang meninggal di tengah ritual besar. Ia terbakar ketika api sesaji menyambar kain bajunya yang merah. Sejak itu, arwahnya tidak pernah tenang. Orang-orang percaya ia menjadi kuntilanak merah, penunggu Pura Besakih.”

Ni Luh Sari menelan ludah. Semua terasa masuk akal sekaligus mustahil. Namun di malam berikutnya, mimpi-mimpinya mulai dipenuhi bayangan perempuan itu—selalu dengan mata merah menyala dan kain kebaya yang berkibar dalam angin.


Mimpi yang Menjadi Nyata

Beberapa hari kemudian, pura kembali ramai karena upacara besar. Banyak peziarah datang, dan Ni Luh Sari ikut membantu di dapur. Saat matahari tenggelam, kabut mulai turun lagi. Entah kenapa, hawa di sekitar pura mendadak berubah dingin dan berat.

Di tengah kesibukan, seorang anak kecil berteriak, “Bu! Ada ibu-ibu di atas atap pura!”

Semua orang menoleh. Benar saja, di atas atap pura utama, tampak sosok bergaun merah melayang perlahan. Wajahnya tidak jelas, tapi rambutnya berkibar liar diterpa angin. Beberapa orang segera membaca doa, sementara yang lain menutup mata.

Namun Ni Luh Sari tak bisa berpaling. Ia melihat sosok itu menatap lurus ke arahnya, seolah mengenalinya. Dan di momen itu, suara tangisan panjang kembali terdengar, kali ini jauh lebih menyayat daripada malam pertama.


Teror di Tengah Upacara

Malam itu, saat upacara persembahan sedang berlangsung, api sesaji tiba-tiba menyambar kain merah yang tergantung di altar. Orang-orang panik, mencoba memadamkan api, tapi kain itu seolah membara dengan sendirinya.

Dari dalam asap, terdengar tawa mengerikan yang membuat semua peserta upacara mundur ketakutan. Beberapa orang melihat bayangan merah berputar-putar di sekitar pura, sementara lonceng di pelataran berdentang sendiri tanpa ada yang menyentuhnya.

Pak Wayan segera mengambil dupa suci dan membaca mantra, memohon agar arwah yang marah bisa tenang. Tapi di antara doa itu, Ni Luh Sari kembali mendengar bisikan di telinganya:
“Kenapa kau tidak pergi dari sini, Ni Luh?”


Pertemuan di Tengah Kabut

Malam berikutnya, Ni Luh memutuskan untuk menyelesaikan pekerjaannya lebih awal. Namun sebelum pulang, ia menatap pura dari kejauhan. Kabut turun pelan, seperti tirai putih yang menutup dunia.

Tiba-tiba, dari balik kabut itu muncul sosok bergaun merah berjalan perlahan ke arahnya. Kali ini, bukan melayang—melainkan benar-benar berjalan di tanah. Wajahnya terlihat jelas untuk pertama kali. Cantik, tapi pucat dengan mata merah menyala. Bibirnya bergerak pelan, seolah berbicara tanpa suara.

Rina menatap tak percaya. Sosok itu berhenti di depan pelataran, lalu menunjuk ke arah tempat sesaji terbakar tempo hari. “Aku tidak ingin dilupakan,” katanya pelan sebelum perlahan menghilang ke udara, meninggalkan aroma bunga kamboja yang menusuk hidung.


Pencarian Jejak Masa Lalu

Sejak kejadian itu, Ni Luh tak bisa tenang. Ia mencari informasi tentang penari yang disebut Pak Wayan. Setelah beberapa hari, ia menemukan catatan tua di perpustakaan desa. Tertulis nama seorang perempuan: Ni Made Rantini, penari kebyar yang tewas pada upacara tahun 1963 di Pura Besakih.

Yang mengejutkan, wajah dalam foto tua di arsip itu mirip dengan sosok yang ia lihat melayang di atas pura—rambut panjang, kebaya merah, dan senyum lembut yang kini hanya tinggal kenangan.

Ni Luh menutup buku itu dengan tangan gemetar. Ia mulai menyadari bahwa arwah Ni Made Rantini bukan sekadar legenda, melainkan jiwa yang benar-benar terjebak di antara dua dunia.


Ritual Penebusan di Malam Purnama

Bersama Pak Wayan, Ni Luh mengadakan ritual kecil di bawah bimbingan pemangku pura. Mereka membawa sesaji khusus—bunga merah, dupa, dan selendang yang dibakar separuh sebagai simbol pelepasan.

Malam itu, angin bertiup tenang. Namun saat mantra dibacakan, kabut turun tebal hingga menutupi seluruh area pura. Dari balik kabut, muncul cahaya merah berputar seperti api kecil. Suara lembut terdengar, kali ini bukan tangisan, melainkan bisikan yang menenangkan.

“Terima kasih…”

Dan cahaya itu perlahan lenyap di antara dupa yang mengepul. Sejak malam itu, tidak ada lagi yang melihat kuntilanak merah melayang di atas Pura Besakih.


Arwah yang Tak Pernah Benar-Benar Pergi

Beberapa bulan setelah kejadian itu, Pura Besakih kembali ramai seperti biasa. Namun terkadang, di malam-malam tertentu, beberapa peziarah mengaku masih mencium aroma bunga kamboja yang sangat kuat di pelataran pura, meski tak ada upacara.

Ada pula yang melihat kilatan merah melintas di antara kabut, cepat sekali seperti bayangan. Pak Wayan hanya tersenyum setiap kali mendengar cerita itu. “Mungkin dia hanya datang untuk menonton tarian yang dulu belum sempat diselesaikannya,” katanya.

Bagi Ni Luh Sari, pengalaman itu mengubah cara pandangnya. Ia kini percaya bahwa dunia yang tak kasatmata memang ada, berjalan berdampingan dengan dunia manusia.


Makna di Balik Teror

Cerita tentang kuntilanak merah di Pura Besakih bukan sekadar kisah menyeramkan. Ia adalah pengingat bahwa di balik setiap tempat suci, ada sejarah, jiwa, dan kisah manusia yang tertinggal. Rasa takut berubah menjadi penghormatan, dan misteri menjadi bagian dari keindahan budaya yang hidup di hati masyarakat Bali.

Bagi mereka yang pernah datang ke Pura Besakih di malam berkabut, suara lembut dari arah langit mungkin masih terdengar samar—tawa dan tangisan seorang penari yang kini menari di dunia lain, menjaga pura dari atas dengan kebaya merahnya yang berkilau.

Inspirasi & Motivasi : Mantan Preman yang Sekarang Buka Rumah Rehabilitasi

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post