Petak Umpet di Kedalaman Gua
Suara jangkrik dan desiran angin menjadi satu-satunya teman malam di sekitar Gua Jomblang, salah satu gua vertikal terdalam di Yogyakarta. Bagi wisatawan, gua ini adalah tempat menakjubkan dengan cahaya surga yang menembus dari atas. Namun, bagi warga sekitar, gua ini memiliki sisi kelam yang jarang diceritakan — tentang hantu anak kecil yang konon masih bermain petak umpet di dalam kegelapan.
Reza, seorang fotografer alam, datang untuk mengambil gambar langka “cahaya surga” di gua tersebut. Ia datang sore hari bersama tiga rekannya: Miko, Dara, dan Bagas. Mereka berencana bermalam di sekitar area gua agar bisa memotret dari pagi buta.
Namun sejak mereka tiba, suasana hening terasa janggal. Burung-burung tak berkicau, dan udara di sekitar mulut gua seperti lebih dingin dari biasanya.
“Serasa ada yang memperhatikan dari dalam,” ujar Dara lirih.
“Ah, kamu kebanyakan nonton film horor,” jawab Miko sambil tertawa.
Mereka tak tahu, malam itu akan menjadi malam terakhir mereka melihat cahaya dengan cara yang sama.
Legenda yang Terlupakan
Sebelum turun ke gua, Reza sempat berbincang dengan Pak Wiryo, penjaga wisata setempat. Wajah tua pria itu tampak serius ketika mendengar rencana mereka bermalam.
“Anak-anak muda sekarang memang pemberani,” katanya, menatap tajam ke arah gua.
“Apa ada bahaya, Pak?” tanya Reza sopan.
“Bahaya itu bukan cuma karena jurang. Ada sesuatu di bawah sana… anak kecil yang tidak bisa keluar sejak puluhan tahun lalu.”
Reza menelan ludah.
“Anak kecil?”
“Iya,” lanjut Pak Wiryo. “Dulu tahun 1980-an, ada anak desa yang jatuh ke gua saat bermain petak umpet. Badannya tidak pernah ditemukan, tapi kadang-kadang orang masih mendengar tawa kecil dari dalam. Kalau kau dengar suara tawa, jangan balas, jangan panggil… karena itu bukan manusia.”
Reza hanya tersenyum, berusaha menghormati cerita itu meski ia tak percaya. Namun, kalimat terakhir Pak Wiryo menancap kuat di pikirannya:
“Hantu anak kecil itu suka yang baru datang. Ia akan mengajakmu bermain.”
Turun ke Gelapnya Jomblang
Malam tiba. Mereka menurunkan peralatan dengan tali dan helm kepala berlampu. Dari atas, gua terlihat seperti lubang hitam raksasa, menelan cahaya bulan. Udara dingin bercampur lembap segera menyelimuti mereka begitu menapak tanah di dasar gua.
Reza menyalakan kamera dan mulai mengambil beberapa bidikan. Suara air menetes dari stalaktit terdengar ritmis, seperti detak jantung.
Namun, sesuatu terasa aneh — gema di dalam gua terasa berbeda. Setiap suara langkah seolah diikuti langkah lain, lebih kecil, lebih cepat.
“Kalian dengar itu?” tanya Dara pelan.
“Apa?” sahut Bagas.
“Kayak… suara anak kecil ketawa.”
Tawa itu memang terdengar — lembut, jauh, tapi jelas. Reza memutar tubuh, menyorotkan senter ke segala arah. Tak ada siapa-siapa selain batu dan kegelapan.
Miko mencoba bercanda. “Mungkin itu kelelawar bahagia.”
Namun tak seorang pun tertawa. Karena tawa itu terdengar lagi, kali ini di belakang mereka, lebih dekat.
Jejak Kecil di Lumpur
Mereka memutuskan menyalakan api kecil untuk penerangan tambahan. Saat Reza berjalan mengambil tripodnya, ia berhenti mendadak. Di tanah berlumpur di depan kakinya, terlihat jejak kaki kecil.
Bukan satu, tapi banyak.
“Teman-teman…” panggilnya pelan.
Semua mendekat. Jejak itu berputar di sekitar api unggun, seperti seseorang — atau sesuatu — sedang bermain.
Namun yang paling membuat bulu kuduk berdiri: jejak-jejak itu tidak menuju keluar, hanya berakhir di satu titik kosong, tepat di belakang Dara.
“Kita harus naik sekarang,” kata Reza tegas.
“Tapi malam masih gelap,” bantah Miko.
“Lebih baik gelap di luar daripada di sini,” jawabnya mantap.
Mereka mulai bersiap naik dengan tali. Tapi ketika Miko mulai menarik tubuhnya ke atas, tali itu seperti ditarik dari bawah. Sekuat tenaga ia menahan, namun sesuatu di bawah menariknya jatuh. Ia menjerit keras sebelum terhempas ke lumpur.
Dara menyorot senter ke arah Miko — dan di belakang tubuh Miko, berdiri sosok anak kecil berambut panjang, mengenakan pakaian putih lusuh, wajahnya menunduk.
Lalu terdengar suara lembut, seperti anak kecil yang berbisik:
“Ayo main lagi…”
Petak Umpet dari Dunia Lain
Sontak semua panik. Reza menarik Miko ke belakang, tapi sosok itu sudah menghilang. Yang tersisa hanya tawa kecil menggema di seluruh ruangan gua.
“Satu…”
“Dua…”
“Tiga…”
Suara anak kecil itu menghitung dengan nada riang, seperti sedang bermain petak umpet. Namun semakin lama, suara itu berubah menjadi serak dan bergema dari segala arah.
Bagas menutup telinganya. “Dia… dia menghitung kita!”
“Diam!” teriak Reza. “Matikan lampu! Cepat!”
Mereka mematikan semua lampu, hanya mengandalkan cahaya api kecil yang hampir padam. Hening. Tak ada suara selain napas mereka yang tersengal.
Namun tiba-tiba, dari dalam kegelapan terdengar suara langkah kecil mendekat — tap… tap… tap…
“Aku sudah menemukanmu…”
Api padam seketika. Kegelapan total menelan semuanya.
Satu per Satu Menghilang
Ketika cahaya senter menyala lagi, Bagas sudah hilang. Hanya ranselnya yang tersisa di tanah. Reza memutar tubuh, berusaha memanggil namanya.
“Bagas! Jawab, cepat!”
Tak ada jawaban. Hanya gema tawa kecil dari dalam lorong sempit di sisi gua.
Dara mulai menangis. “Kita akan mati di sini, Reza…”
Namun Reza mencoba tenang. “Tidak. Ikuti aku. Kita naik sekarang.”
Mereka berdua berlari ke arah tali. Tapi saat sampai di bawah lubang vertikal, tali itu sudah hilang — seperti dipotong dari atas.
Di langit-langit gua, sesuatu bergantung. Saat senter menyorot ke atas, Reza menjerit. Tubuh Bagas tergantung terbalik di antara akar, wajahnya pucat dengan mata terbuka lebar.
“Dia… dia ikut bermain…” bisik suara anak kecil dari belakang mereka.
Sosok kecil itu muncul lagi, kali ini lebih jelas. Wajahnya tak memiliki mata, hanya rongga gelap menganga. Mulutnya tersenyum lebar. Ia menunduk dan berkata pelan:
“Sekarang giliran kalian yang bersembunyi.”
Kegelapan yang Menelan
Reza menarik Dara dan berlari ke arah lorong lain, berharap menemukan jalan keluar. Namun setiap belokan membawa mereka kembali ke tempat yang sama — ke dasar gua dengan tubuh Bagas yang tergantung.
Suara hitungan mulai lagi:
“Satu…”
“Dua…”
“Tiga…”
“Aku datang…”
Lampu kepala Dara padam. Ia menjerit. Reza mencoba menyalakannya kembali, tapi suara Dara berhenti mendadak. Saat cahaya kembali, Dara sudah tak ada.
Yang tersisa hanyalah boneka kecil berlumpur tergeletak di tanah, wajahnya retak, matanya seperti menatap Reza.
Reza memeluk kepala, berteriak histeris. “Cukup! Apa yang kau mau dariku?”
Suara anak kecil itu terdengar di samping telinganya.
“Temani aku bermain…”
Tubuh Reza melayang perlahan ke udara, seperti ditarik oleh kekuatan tak terlihat. Jeritannya bergema di seluruh gua sebelum semuanya kembali hening.
Penemuan yang Mengguncang
Tiga hari kemudian, tim penyelamat menemukan peralatan mereka di dasar gua: kamera, tali, dan catatan milik Reza. Namun tak ada satu pun tubuh ditemukan.
Ketika rekaman kamera diperiksa, hanya satu hal yang terekam jelas — di detik terakhir, kamera jatuh dan menyorot dinding gua. Dalam kegelapan, tulisan kecil muncul samar di lumpur:
“Petak umpet belum selesai.”
Penduduk sekitar melarang siapa pun bermalam di Gua Jomblang sejak saat itu. Namun para penelusur yang nekat mengatakan bahwa setiap kali senja turun, mereka mendengar tawa anak kecil dari dalam gua. Kadang, bayangan kecil berlari di antara batu.
Dan bila kau cukup dekat, mungkin kau akan mendengar suara itu berbisik lembut di telingamu:
“Sekarang giliranmu bersembunyi…”
Berita & Politik : Pengaruh Politik Luar Negeri terhadap Ekonomi Nasional