Kepala Terbang Melayang di Langit Gelap Buleleng

Kepala Terbang Melayang di Langit Gelap Buleleng post thumbnail image

Langit Tanpa Bulan, Jerit Tanpa Sumber

Mula-mula, malam di Buleleng terhampar pekat; kemudian, angin laut mendorong dingin ke pekarangan, seolah-olah ragu namun tetap mendekat. Selanjutnya, daun kelapa berdesir pelan, lalu lampu-lampu rumah dipadamkan lebih awal. Sebab, menurut cerita turun-temurun, saat bulan lenyap, kepala terbang biasanya berburu. Karena itu, ibu-ibu menutup jendela rapat-rapat, sedangkan para lelaki menahan nafas di pos ronda. Sementara itu, di rumah panggung berlumut di ujung Desa Sangsit, Ni Luh Ratmini menatap cermin tua. Semula ia hanya diam; akan tetapi, tak lama, bibirnya bergetar, dan setelah itu asap dupa berpilin seperti benang merah yang ditarik dari langit-langit.

Anehnya, cermin itu memantulkan senyum yang bukan miliknya; bahkan, senyum itu bergerigi, seakan api menyalak di balik gigi. Lantas, Ratmini berbisik lirih, “Sudah waktunya.” Oleh karena dorongan yang tak kelihatan, tubuhnya merunduk, sementara bayangannya menegang. Sesudah detik itu, dari celah-celah kulit malam, suara halus menyerupai gamelan mengalun, mula-mula samar, kemudian jelas, lalu menyayat.

Kutukan yang Tumbuh dari Doa yang Menyimpang

Dahulu, sebelum segalanya retak, Ratmini dikenal sebagai penari legong yang anggun. Waktu itu, panggung memujanya; selanjutnya, tepuk tangan menahbiskannya. Namun, setelah perhiasan pura hilang, fitnah memerangkapnya. Karena malu, Ratmini mencari pelarian; maka ia mendatangi seorang dukun tua di desa tetangga. Mula-mula dukun itu menolak, tetapi akhirnya ia memberikan doa pemisah jiwa—konon, hanya untuk perjalanan batin. Akan tetapi, sebab amarah dan dendam menyusup ke sela mantranya, doa itu menyimpang.

Sejak malam gelap itu, jam dua selalu memanggilnya. Mula-mula lehernya kesemutan; kemudian, sendi-sendi retak tanpa suara; lalu, kepala terangkat pelan-pelan. Seterusnya—dan inilah yang tak bisa dicegah—kepalanya terlepas, sedangkan tubuhnya tertidur seperti boneka tanpa tali. Sesudah terlepas, organ basah menjuntai, rambut berkibar, dan lidah menjulur. Karena itu, ia terbang rendah, menebar amis, seraya mencari darah yang hangat.

Tanda dari Langit: Gamelan Tanpa Penabuh

Malam pertama kemunculannya diingat semua orang. Mula-mula, angin mati mendadak; kemudian, dari atas pekat, gamelan terdengar—padahal, tak ada upacara. Setelah itu, ayam jantan berkokok sebelum fajar, dan anjing melolong tanpa menatap apa pun. Selanjutnya, I Made Sutama, penjaga malam, menengadah. Lantas, ia melihatnya: sekelebat merah—bukan obor, melainkan kepala terbang—melintas di atas pematang. Karena ngeri, ia bersembunyi di balik kelir gelap pos ronda; akan tetapi, rasa ingin tahunya menusuk-nusuk.

Ketika kepala itu menukik, Sutama memperhatikan detil paling kecil: mata membara, kulit licin oleh darah, serta rambut yang bagai rumput laut terbakar. Sesudah itu, ia tersungkur. Sejak malam tersebut, sumur di dekat rumah Ratmini sering memerah, sementara kambing-kambing ditemukan lehernya sobek. Karena kejadian-kejadian ini, warga serentak percaya, kutukan telah pulang.

Upacara yang Memadamkan, Namun Memancing

Kemudian, desa bermusyawarah. Mula-mula mereka hendak membakar rumah tua Ratmini; namun, karena takut melanggar wilayah gaib, mereka urung. Selanjutnya, Mbah Pasek—pemangku yang rambutnya setua kabut—mengajukan upacara penglukatan agung. Maka, dupa dinyalakan, canang disusun, dan air suci dipercikkan di setiap simpang. Mula-mula doa mengalir lembut; kemudian, kidung meninggi; lalu, sunyi mengeras seperti batu.

Akan tetapi, setelah api kecil di dupa padam, langit justru memerah. Sesudah itu, petir turun tanpa hujan, dan tawa panjang perempuan melenting dari timur desa. Oleh sebab itu, orang-orang berhamburan masuk rumah. Selanjutnya, dengan cahaya sisa, beberapa warga melihat sosok yang menggantung di langit—bukan burung, bukan kunang-kunang—melainkan kepala yang berputar pelan, menebarkan aromanya yang getir.

Dapur Ni Ketut: Di Antara Panci dan Darah

Walaupun desa sudah waspada, malam tertentu tetap memahat peristiwa barunya. Kali ini, Ni Ketut—yang sedang hamil tujuh bulan—terbangun karena bunyi gemericik di dapur. Mula-mula ia memanggil suaminya; namun, karena tak ada jawaban, ia meraba jalan. Selanjutnya, telapak kakinya menyentuh sesuatu yang licin. Ketika ia menunduk, lantai bambu berkilap merah.

Kemudian, ia mendongak. Saat itulah ia melihatnya. Di atas palang atap, kepala terbang tergantung, organ lembeknya berayun seperti tirai basah; sementara itu, rambutnya meneteskan darah, dan matanya bergerak—dari panci ke perut Ni Ketut, lalu kembali ke wajah ketakutan itu. Karena panik, Ni Ketut mundur; akan tetapi, suara lirih merayap, “Pinjam bayimu sebentar saja…” Sesudah menjerit, lampu pelita menyala—suami sudah di pintu. Lantas, kepala itu lenyap, menyisakan bau busuk dan bercak yang tak bisa dihapuskan sekalipun dengan garam.

Cermin Tua: Lubang yang Menghadap ke Langit

Setelah kejadian di dapur, Gede Arta—cucu Mbah Pasek—memutuskan menyelidiki rumah Ratmini. Mula-mula ia menemukan debu setebal doa yang terlupa; kemudian, ia mendapati sebuah cermin berjengger ukiran jati. Karena penasaran, ia menyeka permukaannya. Selanjutnya, refleksi yang muncul bukan wajahnya, melainkan sosok perempuan dengan senyum yang tak menyentuh mata.

Pada saat itu, udara menciut. Sesudah itu, cermin bergetar. Lantas, dari balik kaca, bibir yang bukan bibirnya berucap, “Rahasia tak kembali bila sekali diceritakan.” Karena kaget, Gede melangkah mundur; namun, retakan di kaca justru menggambar oval kepala. Kemudian, cermin pecah, dan serpihannya memantulkan bintang yang tak ada. Sejak hari itu, Gede demam; akan tetapi, pada malam keempat, ia bangun dan berbisik, “Ia tinggal di langit—bukan di tanah.”

Langit yang Mengaduk Tenang

Mulai saat itu, desa belajar membaca langit. Mula-mula, ketika cahaya merah melintas, mereka memadamkan semua lampu; kemudian, mereka menutup cermin dengan kain putih; lalu, mereka menaruh sesaji di jendela. Sesudah kebiasaan ini dijalankan, gangguan berkurang; walaupun begitu, ayam tetap berkokok sebelum waktunya. Sementara itu, anjing menatap ke udara—bukan ke tikus, melainkan ke sesuatu yang tak terjangkau.

Konon, pada sela dini hari, gamelan kadang muncul dari ketinggian. Karena itu, orang tua menasihati cucu-cucu mereka, “Jika kau mendengar tabuh tanpa penabuh, jangan menoleh.” Akan tetapi, rasa ingin tahu selalu liar; selanjutnya, ada saja yang mengintip celah tirai.

Menyiapkan Penutup: Ritus Cermin Balik

Akhirnya, Gede mengusulkan satu ritus terakhir—bukan untuk menyerang, melainkan untuk memantulkan. Karena pengalaman di rumah Ratmini, ia yakin: asal kekuatan itu dari penampakan diri yang tak henti; maka, bila wajahnya dikembalikan pada wajahnya sendiri, mata akan bertemu mata, dan api memakan api. Sesudah meyakinkan tetua desa, ia menggelar persiapan di lapangan.

Mula-mula, cermin tua disusun ulang dari serpihan; kemudian, bingkai dipaku dengan paku kelapa; lalu, dupa dipagari lingkaran garam. Selanjutnya, warga berdiri melingkar dengan kain putih di pundak. Karena angin menebalkan malam, kidung dinaikkan. Setelah itu, doa diucap tiga kali, dan—sekonyong-konyong—langit seperti membuka tirai.

Api di Langit Buleleng

Sejurus kemudian, dari utara, seberkas merah turun. Mula-mula kecil; kemudian, membesar; lalu, benar-benar menjadi kepala dengan rambut menyala. Seterusnya, tawa yang pernah membelah malam kembali menggema. Karena merasa dipanggil, Gede mengangkat cermin. Setelah itu, kepala terbang menukik, memandang tepat ke pantulan. Berikutnya, angin seperti ditarik; sementara itu, daun kelapa tak berkutik. Kemudian, mata di cermin—mata yang sama, mata yang dulu—menangkap matanya sendiri.

Sesudah kontak itu terjadi, bunyi seperti kaca diremas terdengar. Lantas, kilat jatuh tanpa mendahului guntur. Seterusnya, api membungkus rambut; sementara itu, mulutnya menjerit—bukan keras, tetapi panjang, seperti daun lontar yang dibakar dari ujung. Akhirnya, cahaya meledak menjadi serpih; kemudian, serpih itu naik kembali, padam satu per satu, dan malam menyisakan bau kenanga beraura darah.

Pagi harinya, lapangan meninggalkan tanda: lingkaran hangus sebesar panggung, dan di pusatnya—selendang penari, setengah arang, setengah merah. Karena tanda itu, orang-orang terdiam lama; namun, setelah itu, mereka sepakat menanam cermin dan selendang pada tanah yang sama, lalu menutupinya dengan batu-batu sungai.

Sesudah Api, Sebelum Senyap

Beberapa musim berlalu. Mula-mula, hening kembali bertengger di genteng; kemudian, pasar ramai seperti semula; lalu, anak-anak berani bermain sampai magrib. Karena upacara syukur diadakan, desa seperti pulih. Walaupun demikian, adat baru tetap dijaga. Sementara bulan hilang, jendela ditutup; selanjutnya, cermin diselimuti; akhirnya, dupa dinyalakan tipis saja.

Kadang-kadang, angin malam masih membawa bisik yang tak jelas. Akan tetapi, karena doa kini mengisi sela-sela suara, bisik itu gugur sebelum sampai telinga. Meskipun begitu, di tikungan jalan yang menuju pantai utara—tempat angin asin menabrak tebing—konon, sesekali terlihat kilat kecil melintas rendah. Menurut sebagian, itu bintang jatuh. Namun, menurut yang lebih tua, itu adalah sisa langkah yang menolak lupa.

Warisan yang Harus Diingat

Sejak kejadian itu, Mbah Pasek—sebelum akhirnya berpulang—meninggalkan pesan, “Kutukan biasanya lahir dari doa yang disesatkan oleh niat. Karena itu, jaga niat, rawat batas.” Selanjutnya, pesan itu diajarkan dari serambi ke serambi. Karena pengingat itulah, anak-anak belajar menunduk ketika gamelan tanpa sumber lewat dalam cerita.

Akhirnya, Desa Sangsit memilih berdamai dengan langitnya sendiri. Mula-mula, mereka menakar takut; kemudian, mereka menata doa; lalu, mereka menutup celah yang dulu membuka jalan bagi dendam. Sesudah semua tertata, hidup bertunas kembali—bukan tanpa bayang, melainkan dengan bayang yang diakui, dijaga, dan tak lagi dibiarkan tumbuh menjadi api.

Sementara itu—di malam tertentu yang benar-benar kosong—bau kenanga kadang muncul dari arah lapangan. Akan tetapi, bukannya menandakan datangnya kepala terbang, bau itu sekadar menandai bahwa sebuah cerita pernah menyala. Selanjutnya, cerita itu menyisakan dua jenis tanda: luka yang menjadi pelajaran, dan pelajaran yang menjadi pagar. Dengan demikian, Buleleng terus bernafas: setia pada lautnya, teguh pada langitnya, dan waspada pada doa yang terburu-buru.

Lifestyle : Rahasia Menjaga Keseimbangan Hidup di Era Serba Cepat

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post