Kelas 7A: Papan Tulis yang Menulis Sendiri Setiap Malam

Kelas 7A: Papan Tulis yang Menulis Sendiri Setiap Malam post thumbnail image

Bisikan di Balik Kelas Sunyi

Pukul setengah delapan pagi, saat siswa Kelas 7A berbaris rapi, aku menatap papan tulis—kosong dan bersih. Namun setiap kali detik bergeser, terdengar gesekan halus. Cahaya lampu neon menyorot permukaan hitam, lalu tiba-tiba aku melihat: satu kata tersulam, tertulis dengan kapur seolah ditulis oleh tangan tak kasatmata. Papan tulis menulis sendiri. Detak jantungku seketika berderap.

Awal Mula Ketakutan

Awalnya, selembar huruf samar muncul di pojok papan. Guru, Pak Wijaya, berlalu sambil mengusap keringat. “Anak-anak, tulis catatan pelajaran,” ujarnya datar. Saat satu per satu murid berdiri, papan tiba-tiba menggores baris:

“JANGAN BERPALING.”

Teriak kecil menghiasi udara. Tanganku gemetar saat aku merasakan kehadiran yang mengiringi setiap goresan kapur. Sepuluh pasang mata tertuju pada papan, namun kapur bergerak sendiri, menulis kalimat panjang tanpa henti.

Melodi Kapur Berdenting

Setiap sore, sepulang sekolah, aku sengaja menahan diri di kelas. Dengan senter satu lampu, kulihat kapur menari di papan—membentuk kata demi kata. “KELUAR AKU DI SINI,” bunyinya. Nafas membeku. Aku mendekat, berusaha menyentuh tulisan itu, tetapi tangan kutarik mundur saat merasakan dingin membekap jari.

Malam berikutnya, aku kembali. Papan tulis menulis sendiri lebih cepat, seolah terdesak oleh waktu. Tulisan terbenam dalam arus kapur putih:

“KAU AKAN BERADA DI SINI SELAMANYA.”

Akupun pingsan, bangun dengan rasa tersayat di pergelangan.

Bayangan yang Merambat

Keesokan harinya, guru memanggilku. “Ada bekas kapur di tanganmu,” katanya heran. Namun di kelas tak ada papan yang terbuka tanpa pengajaran. Aku menyembunyikan telapak berdarah, menyusun alasan. Setiap kali aku menoleh, bayangan panjang di sudut ruangan mengerucut, menahan napas. Aku tahu, sosok itu menunggu kesempatan.

Saat bel istirahat berdentang, teman-temanku bercanda. Tapi tatapan mereka berubah pucat saat papan menulis sendiri—tanpa suara gerakan, hanya jejak kapur menancap. Para murid berhamburan keluar, meninggalkan aku termangu, terjebak dengannya.

Catatan Nenek di Loteng Sekolah

Kabar burung tentang Kelas 7A menguak rahasia kelam sekolah tua ini. Malamnya, aku memasuki loteng. Lampu gantung berderit, debu beterbangan. Di antara tumpukan foto tua, kuketemu buku catatan berkulit kulit – milik kepala sekolah pertama. Tulisannya tergores rapuh:

“Papan tulis ini dicipta untuk menenun pelajaran. Namun terkutuk saat darah murid tumpah. Jiwa mereka terperangkap, dan sang papan menulis sendiri untuk memanggil korban baru.”

Jantungku tercekat. Kututup buku, mendengar gedebuk di bawah.

Puncak Teror di Kelas 7A

Malam itu, aku mengajak empat teman berani: Sita, Andi, Lia, dan Riko. Kami bersembunyi di dalam Kelas 7A, menanti. Jam dinding berdentang dua belas. Lampu berkedip, dan kapur meluncur di papan. “TARIKNYA…” tulisan terpotong.

Tiba-tiba pintu terkunci, kunci berderit. Bayangan naik dari lantai, merayap ke meja guru. Suara bisik berbaur di udara:

“TULISANMU AKAN JADI AKHIRMU.”

Kami bergerak panik—namun papan menulis lagi:

“MAINKAN KAPURNYA.”

Sita menggenggam kapur, dipaksa menulis namanya. Dengan tangan gemetar, ia menulis, lalu jeritan pecah saat darah menetes. Kapur berlumur merah, papan menelan kata terakhir.

Serangan Terakhir

Lia dan Riko berlarian menuju pintu—tapi papan menulis sendiri memblokir jalan, membentang kapur seperti pagar. Andi berlari menyalakan pemadam api, mencoba memadamkan kapur, namun asap semakin pekat. Aku terjepit di depan papan. Tulisan terakhir muncul dengan cepat:

“AKU PILIH KAU.”

Nada tulisan jadi miring, bergerak bak cakar. Napasku pendek. Saat cahaya senter padam, aku merasakan cengkeraman dingin memeluk pergelangan.

Jejak Kapur yang Tak Terhapus

Pagipunya tiba, petugas membuka pintu. Hanya aku yang ditemukan, bergetar di pojok. Sita, Andi, Lia, Riko lenyap—hanya noda kapur berdarah di papan. Sejak itu, papan hilang, diganti papan putih tak berjiwa. Namun kadang, malam menanti di lorong, dan aku mendengar gesekan halus. Kapan pun aku melewati ruang kosong, bisikan samar hadir: papan tulis menulis sendiri… memanggil korban selanjutnya.

Alam & Lingkungan : Gunung Fuji & Kuliner Jepang: Paduan Pesona Sempurna

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post