Mitos Kelam di Gerbang Sukun: Antara Tugas dan Kengerian
Malam itu terasa dingin menusuk, dan angin berembus membawa aroma tanah basah bercampur debu yang khas dari kawasan selatan Malang. Di depan gerbang besi tua yang berkarat, berdiri tiga penjaga makam yang dikenal gigih: Pak Slamet, penjaga paling senior; Joko, pemuda yang baru dua tahun ikut menjaga; serta Bima, si pemberani yang selalu skeptis terhadap cerita-cerita hantu. Misi malam itu adalah tugas rutin mereka: memastikan keamanan area Pemakaman Sukun, sebuah pekuburan luas yang sarat akan sejarah kelam dan cerita-cerita seram turun-temurun.
Terutama, Pemakaman Sukun terkenal bukan hanya karena usianya yang tua, melainkan juga karena fenomena aneh yang sering terjadi di sana. Penduduk sekitar sering membisikkan kisah tentang penampakan pocong, kuntilanak, dan bahkan sesosok benda putih panjang yang bergerak cepat di atas makam. Benda itu dikenal sebagai kain kafan terbang.
Meskipun begitu, Bima selalu menertawakan cerita tersebut. “Itu pasti ulah kelelawar besar atau ilusi mata karena ketakutan,” ujarnya seringkali. Sebaliknya, Pak Slamet dan Joko selalu diam, sebab mereka tahu betul bahwa ada hal-hal di Pemakaman Sukun ini yang berada di luar jangkauan logika manusia. Malam itu adalah malam Jumat Kliwon, dan udara terasa lebih berat, seolah-olah dipenuhi kehadiran yang tidak kasat mata.
Seperti biasa, mereka memulai patroli mereka. Pak Slamet memimpin, obor di tangannya memancarkan cahaya kuning redup yang hanya mampu menembus beberapa meter kegelapan. Diikuti oleh Joko dan Bima di belakangnya, mereka berjalan perlahan menyusuri jalan setapak yang ditutupi oleh rerimbunan pohon kamboja tua. Pada saat yang sama, suasana sepi total, hanya terdengar gesekan daun yang ditiup angin malam.
Penampakan Pertama: Kain Putih Tanpa Jasad
Mereka baru saja melewati area makam Tionghoa kuno, ketika Joko tiba-tiba berhenti. Jantungnya berdebar kencang. Ia menunjuk ke arah barisan nisan yang tertutup bayangan. Di sana, di kejauhan, terlihat benda putih panjang melayang perlahan, tidak jauh dari permukaan tanah. Benda itu bergerak lembut, seperti kapas yang diombang-ambingkan angin, tetapi tidak ada angin kencang malam itu.
Bima, yang biasanya angkuh, kali ini terdiam. Ia menggosok matanya berulang kali, namun benda putih itu tetap ada. Seiring waktu, benda putih itu mulai bergerak lebih cepat, berputar-putar dalam pola yang tak beraturan, seperti tarian kematian. Jelas sekali, itu adalah kain kafan terbang. Bukan hanya itu, kain itu tampak kotor, berdebu, dan memiliki noda cokelat yang samar.
“Jangan lihat matanya! Jangan tunjuk!” bisik Pak Slamet, suaranya tercekat karena ketakutan. Ia langsung menarik tangan Joko dan Bima agar bersembunyi di balik pohon besar. Meskipun demikian, mereka tidak sempat sepenuhnya bersembunyi. Benda putih itu, seolah menyadari kehadiran mereka, tiba-tiba menukik tajam ke arah mereka dengan kecepatan yang menakutkan.
Teror Mengejar: Bau Tanah dan Bisikan Kuno
Bau tanah kuburan yang menyengat dan aroma busuk tiba-tiba memenuhi udara. Benda itu kini melayang tepat di atas kepala mereka. Dari bawah kain kafan itu, tidak terlihat jasad, tidak ada bentuk manusia, hanya kekosongan hitam pekat yang mengerikan. Namun, mereka mendengar. Mereka mendengar suara bisikan kuno yang sangat pelan, seperti keluhan seseorang yang tercekik.
Dengan cepat, Pak Slamet menarik napas panjang dan mulai merapal doa-doa dalam bahasa Jawa Kuno. Seiring dengan itu, kain kafan terbang itu tampak terhenti sejenak, seolah terganggu oleh doa tersebut. Kesempatan itu digunakan Bima untuk lari. Meskipun ketakutan, naluri bertahan hidupnya mendominasi. Joko mengikutinya, meninggalkan Pak Slamet yang masih berdiri tegak menghadap teror tersebut.
Bima dan Joko berlari tanpa menoleh ke belakang. Mereka melintasi area makam yang padat, melompati nisan-nisan yang tak terawat. Sementara itu, suara kepakan benda aneh itu terdengar persis di belakang kepala mereka. Setiap kali mereka mencoba berhenti, suara itu semakin dekat, seolah-olah jarak antara mereka dan maut hanya tinggal sehelai benang.
Tak lama kemudian, mereka sampai di area pemakaman tua yang jarang dikunjungi. Di sana, mereka melihat ada gundukan tanah yang sudah sangat lama, namun terlihat sedikit terbuka. Saat itulah Joko tersandung. Dan pada saat yang sama, Bima melihat penampakan itu menukik, seolah siap menerkam.
Misteri Kematian di Tahun 1965
Saat Bima membantu Joko berdiri, Pak Slamet tiba-tiba muncul di belakang mereka, terengah-engah. Wajahnya pucat pasi. “Lari! Itu adalah roh yang terkutuk,” desisnya. Mereka bertiga terus berlari menuju pos jaga, tetapi Pak Slamet sempat menjelaskan.
“Kain itu… adalah milik almarhumah Roro Sinto, yang dikubur pada tahun 1965. Ia dituduh melakukan ritual terlarang di desa, dan dikuburkan tanpa ritual agama yang layak, jasadnya dicuri. Hanya kain kafannya yang dikuburkan. Oleh karena itu, arwahnya menjadi gentayangan, terperangkap antara dunia hidup dan mati, dan mencari jasad yang hilang,” jelas Pak Slamet, sambil terus berlari.
Mendengar itu, Bima, yang tadi skeptis, kini mulai merasakan teror yang sesungguhnya. Ia tidak pernah tahu bahwa cerita kain kafan terbang memiliki latar belakang yang begitu kelam. Dengan segera, mereka mencapai pos jaga kecil mereka dan langsung mengunci pintu besi dari dalam, berharap kegelapan tidak bisa menembus benteng reyot itu.
Malam Pengepungan dan Ketenangan yang Semu
Mereka duduk bersandar di dinding, napas memburu. Cahaya lampu neon di pos jaga terasa menenangkan, namun rasa takut tetap melekat. Di luar, mereka bisa mendengar suara srak-sruuk benda yang menyeret, dan sesekali, suara benturan kain yang mengenai dinding kayu.
Seiring berjalannya waktu, suara-suara di luar perlahan mereda. Keheningan kembali menyelimuti Pemakaman Sukun, tetapi kali ini keheningan itu terasa lebih mengintimidasi daripada suara apa pun. Lalu, Pak Slamet menyalakan sebatang rokok kretek, dan asapnya memenuhi ruangan.
“Kita sudah selamat, tetapi dia akan kembali,” kata Pak Slamet lirih. “Setiap malam Jumat Kliwon, dia akan mencari jasadnya. Kita hanya bisa bertahan, dan menunggu fajar.”
Keesokan harinya, matahari terbit, dan menyingkapkan pemandangan Pemakaman Sukun yang kembali damai, hanya diselimuti debu. Mereka memeriksa sekeliling. Di dekat pintu pos jaga, ada bekas cakaran panjang di tanah, dan beberapa helai benang putih kasar tersangkut di gagang pintu. Benang-benang itu adalah bukti nyata teror yang mereka hadapi semalam.
Meskipun demikian, Bima tidak lagi berani sesumbar. Ia kini percaya penuh pada Pak Slamet dan kengerian yang bersembunyi di balik cerita-cerita lama. Sejak saat itu, setiap malam Jumat Kliwon, ketiga penjaga makam itu akan mengunci diri di pos jaga. Mereka tahu, di luar sana, kain kafan terbang milik Roro Sinto masih berputar, abadi dalam pencarian yang sia-sia, sebuah kisah horor nyata yang terus menghantui jantung kota Malang.
Sejarah & Budaya : Peran Perempuan dalam Lestarikan Seni dan Budaya Daerah