Kain Kafan Basah Tergantung di Pohon Beringin Temanggung

Kain Kafan Basah Tergantung di Pohon Beringin Temanggung post thumbnail image

Hujan Pertama dan Bayangan di Ringin Watu

Sore merunduk pelan di Dusun Wonoboyo, sementara kabut tipis merayap di sela kebun tembakau. Namun, gerimis yang baru saja reda menyisakan bau tanah basah yang menempel di udara. Pada ujung jalan batu, pohon beringin tua—yang warga sebut ringin watu—berdiri seperti gerbang waktu. Tepat di salah satu dahannya, selembar kain kafan basah tergantung, menitik perlahan, seolah baru diangkat dari liang yang tidak pernah kering.

Reza menghentikan motornya di bahu jalan. Sementara Wulan menurunkan payung, Giman menyipitkan mata ke arah dahan yang bergoyang. Selain itu, angin melempar serpih kabut, membuat kain itu berayun lebih jauh dari biasanya. Kemudian tetesannya jatuh pada akar yang menggembung, membentuk lingkaran gelap seperti bekas ciuman hujan. Pada saat yang sama, suara tipis—nyaris seperti helaan bayi—menggesek di sela akar, lalu menghilang.

“Siapa menaruh itu?” tanya Wulan pelan. Reza menambah terang senter dan melangkah dua tapak. Namun, Giman menariknya balik. “Tunggu. Dulu kakekku bilang, beringin ini suka menahan langkah orang yang tidak tahu adat.” Meskipun kata-katanya terdengar berlebihan, Reza mengangguk, sebab hawa di sekitar batang terasa ganjil, seperti ruang menebal.

Legenda yang Menolak Kering

Menurut cerita yang beredar, ringin watu tumbuh di tepi kuburan kecil peninggalan masa kolonial. Dulu, seorang bidan kampung bernama Sulastri dituduh menyembunyikan pejuang di gubuknya. Karena fitnah, serdadu menyeretnya ke beringin, mengikat dengan kain murahan, lalu menenggelamkan namanya dalam tanah tanpa doa. Sejak itu, tiap hujan pertama setelah kemarau, warga terkadang melihat kain kafan basah muncul di dahan yang sama. Konon, Sulastri mencari anaknya—bayi yang direnggut paksa dan tak pernah kembali.

Reza menelan ludah. “Cerita bisa salah, tapi tanda jarang bohong,” gumamnya. Sementara Wulan menatap dahan itu tanpa berkedip, Giman menendang kerikil kecil untuk memecah tegang. Selain itu, azan magrib menetes dari surau, menyayat kabut seperti pisau tipis. Kemudian angin mengencang, dan kain itu bergetar seperti dada yang menahan tangis.

Bisik dari Akar dan Luka yang Menjulur

Mereka bertiga maju hati-hati. Namun, sebelum senter Reza mencapai pangkal dahan, akar beringin memanjang pelan, seperti ular yang baru bangun. Sementara tanah di bawah kaki bergoyang seujung kuku, suara serak merayap dari sela-sela serabut akar: “Jangan pegang—kembalikan pada yang berhak.” Selain itu, ujung kain tetiba memburu, menyentuh punggung tangan Wulan dengan dingin yang menusuk tulang. Kemudian noda kehitaman menempel pada kulitnya, persis bekas jari yang baru diangkat.

Wulan meringis. “Sakit. Seperti luka lama.” Reza spontan meraih pergelangan Wulan, lalu mengusap noda itu. Namun, sentuhan itu justru memantik arus dingin yang naik ke siku, menyalakan sensasi kebas. Pada saat yang sama, Giman membisik, “Kita cari Mbah Sastro. Sekarang.” Reza mengangguk cepat, sebab kabut mulai menutup jarak seperti tirai yang ingin menelan panggung.

Pintu Dukun dan Peta ke Lubang yang Hilang

Rumah panggung Mbah Sastro berdiri tak jauh dari pasar kecil. Sementara lampu minyak di teras bergetar terkena angin, aroma wedang jahe menyelinap ke malam. Reza mengetuk dua kali, lalu menambah sekali, seperti kode yang diajarkan bapaknya. Selain itu, Wulan menyembunyikan tangannya yang ternoda kain agar tidak langsung terlihat. Kemudian Mbah Sastro muncul, matanya jernih meski kulitnya keriput seperti peta sungai tua.

“Ringin watu?” tanyanya sebelum Reza sempat bicara. Giman mengangguk. “Kain itu datang lagi.” Dukun itu menarik napas dalam-dalam, mengambil kaleng kecil dari rak bambu. “Kalian disentuh?” Wulan mengangkat telapak. Mbah Sastro menatap noda hitam yang kini merembes tipis, lalu menyentuhnya dengan ujung kuku. “Ini bukan darah; ini wangi tanah yang disimpan lama,” katanya. “Dan ini memanggil.”

Reza mencondongkan tubuh. “Memanggil apa?” Mbah Sastro menutup kaleng, lalu menatap ke halaman. “Memanggil kubur yang tidak sempat dibuat. Kalian harus mengiringkan pulang.” Sementara hati Reza mengencang, Giman bertanya, “Caranya?” Dukun itu menunjuk ke balik rumah. “Di pawon, ambil pelita, garam, dan kain mori. Selain itu, jangan lupa benang merah. Kemudian ikut aku.”

Kembali ke Pohon: Gerimis, Doa, dan Tanda yang Menodai

Mereka tiba lagi di ringin watu saat gerimis menggambar titik-titik kaca di udara. Sementara pelita menyala kuning, bahkan kabut tampak mundur setapak. Mbah Sastro menabur garam mengelilingi pangkal batang, lalu mengikat benang merah pada akar yang menyembul. Selain itu, ia membentangkan selembar kain mori di tanah, tepat di bawah dahan tempat kain kafan basah menggantung.

“Jika dia menunggu penutup, biar kita yang menutup,” ujarnya. Kemudian ia mulai melantunkan doa pendek, berpindah dari ayat ke mantra Jawa kuno, seperti jembatan yang menghubungkan dua bahasa keringat. Pada saat yang sama, Reza memegang pelita; Wulan duduk lebih dekat ke kain mori; Giman menjaga senter menghadap ke sela-sela akar.

Tiba-tiba dahan berderak, dan kain kafan itu melorot seperti tali yang pepat. Lalu ujungnya jatuh tepat di atas kain mori, meninggalkan noda bulat seukuran telapak. Sementara itu, angin memukul daun-daun, dan tanah mengeluh, seolah sesuatu menekan dari bawah.

Wajah yang Tidak Menoleh dan Nama yang Tidak Dipanggil

Dari sisi batang, muncul lekukan yang tak seharusnya ada—seperti bahu mendorong kulit tanah dari dalam. Namun, bentuk itu berhenti setengah jalan, tidak berani keluar. Mbah Sastro menunduk, lalu mengusap udara. “Sulastri,” panggilnya lembut, “anakmu tidak kembali karena jalanmu belum terbuka.” Selain itu, ia menambahkan, “Kami bukan musuh.”

Pada detik itu, kain di tanah berdenyut sekali, lalu diam. Kemudian udara menipis, dan dari ruang yang tidak tampak, wangi irisan kunyit naik halus. Wulan memegang dada, sebab aroma itu mirip bau persalinan di rumah ibunya dulu—bau bercampur harap dan takut. Sementara Reza menahan pelita agar tak goyah, Giman memutar badan karena mendengar langkah kecil di balik punggung. Namun, tidak ada siapa pun di sana, kecuali bayang-bayang yang suka menoleh terlambat.

“Dia tidak mau ke atas,” bisik Wulan. “Dia minta… ke bawah.” Mbah Sastro menatap tanah di antara akar. “Mungkin jasadnya bukan di sini. Mungkin dia dikurung di sisi lain pohon.” Selain itu, ia menandai tanah dengan tongkat, lalu menggurat lingkaran kecil di sebelah kanan.

Penggalian yang Diizinkan dan Sendok yang Memanggul Duka

“Ambil cangkul?” tanya Reza. Mbah Sastro menggeleng. “Ambil sendok. Biar pelan, biar sopan.” Sementara Giman berlari ke warung terdekat, Wulan meremas kain mori agar tidak bergeser. Selain itu, petir menyambar jauh di bukit, tetapi ringin watu tetap tegak seperti pusat badai yang melindungi diri.

Mereka mengeruk tanah perlahan. Namun, pada kedalaman sejengkal, sendok berhenti menabrak sesuatu yang bukan batu. Reza menyibak lumpur dengan jari; ujung kayu muncul—kepala sisir tua dengan gigi patah. Lalu, di bawahnya, bongkah kecil kain mengering, mengikat sesuatu yang keras. Sementara Wulan menahan napas, Mbah Sastro membuka simpul kain, menampakkan gelang kawat miring dan gigi susu yang ditusuk benang.

“Penjaga kecil,” gumamnya. “Orang dulu suka menaruh benda ini pada ibu malang agar roh tak tersesat.” Selain itu, ia merapikan benda-benda itu di atas mori, tepat di samping kain kafan basah yang kini meresap lembut. Kemudian ia memulai doa lagi, kali ini lebih pelan, seperti menidurkan nama yang tidak pernah sempat dilafazkan.

Ketuk dari Jauh dan Tangan yang Menawar Dingin

Angin berhenti pada suku kata ketiga. Kemudian bunyi ketuk datang dari akar sebelah kiri—tiga kali, berjarak, tegas. Sementara pelita meliuk, Wulan mengangkat wajah. “Itu—jawabannya,” katanya. Reza menoleh ke Mbah Sastro. Dukun itu mengangguk. “Dia setuju dibalut; dia setuju dipulangkan.”

Dengan gerak yang tidak berlebihan, Wulan menggulung mori, menutupi benda-benda kecil dan noda-noda yang lahir bersama malam. Selain itu, Reza menempatkan kain kafan basah di lapisan paling luar, seolah mengembalikan mantel yang dirampas tanpa restu. Kemudian Giman mengikat ujungnya dengan benang merah, menutup simpul tanpa memaksa.

Pada saat itu, akar menyingkap ceruk kecil, persis di depan mereka. Lalu udara mengalir seperti napas lega. Sementara pelita bersinar lebih mantap, Mbah Sastro menunduk, menyelipkan balutan ke dalam ceruk, dan menata tanahnya kembali, satu genggam, satu restu.

Suara yang Mengering dan Hujan yang Berhenti di Udara

Awalnya tidak terjadi apa-apa. Namun, perlahan, ringin watu mengendurkan bunyi berderaknya. Kemudian daun-daun berhenti berbisik, dan tetes terakhir turun tepat pada gundukan tanah baru. Selain itu, noda hitam di telapak Wulan memudar seperti tinta yang menua. Sementara pelita menyusut, kabut mundur, dan langit menyingkap satu bintang yang berani.

“Sudah,” kata Mbah Sastro. “Dia tidak lagi meminjam dahan.” Reza meletakkan pelita di pangkal batang; Wulan mengusap pipi yang basah tanpa sadar; Giman menepuk bahu Reza satu kali—ringan, jelas. Kemudian ketiganya duduk bersama di batu rendah, membiarkan hening menutup luka mereka.

Pagi yang Mengulang, Jejak yang Tidak

Keesokan harinya, ringin watu tampak seperti pohon tua biasa. Namun, dahan yang semalam memegang kain kafan basah kini kosong tanpa bekas air yang menghitam. Selain itu, anak-anak desa berlari melintasi jalan tanpa menoleh cemas. Sementara ibu-ibu menjemur tembakau, bau hangat daun menyaingi sisa wangi kunyit dari tanah baru.

Reza menatap gundukan kecil itu sebentar sebelum berangkat kerja. Wulan mengirim pesan: “Tadi malam aku dengar suara nembang, tapi lembut, seperti ibu menidurkan.” Giman menambahkan: “Aku mimpi melihat bidan memeluk anaknya. Tidak ada air, tidak ada tali.” Kemudian mereka bertiga sepakat datang lagi malam berikutnya, bukan untuk menantang, melainkan untuk menjaga.

Retur yang Tidak Diminta dan Tamu yang Tidak Mengusik

Malam kedua turun tanpa hujan. Namun, semilir membawa potongan suara yang hampir tidak bisa ditangkap—lagu tua, mungkin nyanyian tidur. Sementara jangkrik menambah irama, pelita kecil kembali menyala di pangkal akar, padahal tak seorang pun menyalakan. Selain itu, gundukan tanah tetap rapi, tidak ada jejak hewan, tidak ada ulah tangan jahil.

“Dia baik,” kata Wulan, entah pada siapa. Reza mengiyakan, lalu menaruh segelas air dan seiris gula kelapa di batu kecil. Sementara Giman menancapkan jarum daun sebagai tanda “masih ingat,” angin menyentuh mereka tanpa menggigilkan. Kemudian kabut turun tipis, bukan untuk menutup, melainkan untuk menyelimut.

Epilog: Nama yang Kembali dan Pohon yang Tetap Berdiri

Beberapa minggu berlalu; musim perlahan berpindah. Namun, ringin watu tidak lagi memperlihatkan kain kafan basah pada hujan pertama berikutnya. Selain itu, warga mulai melewati jalan itu tanpa menyilangkan jari. Sementara cerita lama menyisakan tepi, Mbah Sastro menuliskan nama “Sulastri” pada pecahan genting dan menanamkannya di dekat gundukan—nama kecil, niat besar.

Kadang-kadang, ketika malam menetes sangat pelan, pelita menyala sendiri di pangkal akar. Kemudian lagu yang sama mengembun di udara, menimang pedar sepi agar tidak jatuh. Sementara Reza, Wulan, dan Giman berdiri sebentar tiap usai kerja, mereka tidak minta penampakan; mereka hanya menitip salam. Pada saat yang sama, dedaunan beringin bergerak ringan, seperti tangan tua yang akhirnya bisa menepuk tanpa menahan dendam.

Akhirnya, dusun belajar satu hal yang tidak diajarkan kalender: beberapa luka tidak bisa dihapus, tetapi bisa dikembalikan pada tempatnya. Karena itu, jika suatu hari hujan datang terlalu cepat dan kabut menutup jalan, orang tidak lagi lari—orang berhenti, menunduk, lalu berbisik singkat, “Sudah pulang.”

Kesehatan : Bahaya Sering Menahan Buang Air Kecil untuk Ginjal

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post