Hujan Pertama dan Peringatan Awal
Hujan deras mengguyur halaman Penjara Sukamiskin ketika Arvin tiba untuk memulai riset malam tentang kisah jerit penjara yang sering dibicarakan warga Bandung. Meskipun ia sudah membaca banyak arsip, suasana lembap yang menyelimuti bangunan tua itu langsung membuat langkahnya melambat. Selain itu, angin yang menembus jaketnya membuat tubuhnya bergetar meski ia mencoba tampak tenang.
Karena gerbang utama hanya diterangi lampu kuning redup, bayangan tembok tinggi tampak seperti bergerak. Sementara itu, suara hujan yang menghantam atap seng tak henti-henti menggema. Oleh sebab itu, Arvin semakin sadar bahwa tempat ini bukan lokasi biasa.
Pak Sandi, petugas yang menjemputnya di pintu depan, segera mengajaknya masuk. “Masuk saja, Mas Arvin. Hujannya makin keras,” ujarnya. Meskipun nada bicaranya ramah, matanya tampak menyimpan kegelisahan yang sulit disembunyikan.
“Mas cuma boleh sampai tengah malam di blok timur,” tambahnya. “Setelah itu, pintu akan saya kunci. Demi keamanan.”
Walaupun Arvin berusaha menunjukkan bahwa dirinya siap, kenyataannya peringatan itu malah menambah tekanan di dadanya. Namun begitu, ia tetap mengikuti langkah Pak Sandi menuju sayap tua penjara.
Blok Timur yang Terlupakan
Begitu pintu besi tua dibuka, hawa dingin langsung menerpa. Karena angin malam menelusup lewat celah-celah dinding retak, lorong itu terasa seperti perut bangunan yang menolak disentuh manusia. Atap bocor di banyak titik, sehingga air menetes dari langit-langit dan menghasilkan gema lembut yang justru terasa mencekam.
Sementara lampu lorong menyala redup, kursi-kursi besi tua menempel di dinding seperti saksi bisu. Di kiri-kanan, sel-sel berjeruji tampak kosong, tetapi bau besi berkarat tetap menempel kuat.
“Dulu blok ini penuh,” kata Pak Sandi sambil mengarahkan senternya. “Tapi meskipun narapidana sudah dipindah, suaranya kadang masih tinggal.”
Arvin mengangguk perlahan. Karena rasa ingin tahunya selalu besar, ia mencoba tidak memikirkan nada seram dalam ucapan itu. Selain itu, ia sadar banyak cerita urban lahir dari tempat-tempat seperti ini.
Setelah sampai di pintu kayu besar di ujung blok, Pak Sandi berhenti. “Mas, saya balik lagi sekitar jam dua belas. Jangan sentuh pintu ini. Jangan keliling sendirian terlalu jauh.”
Walaupun ia ingin bertanya alasan pastinya, pintu itu sudah menutup sebelum ia sempat membuka mulut. Karena kini ia sendirian, lorong itu tiba-tiba terasa lebih panjang daripada yang dilihat beberapa detik sebelumnya.
Langkah Pertama yang Tidak Sendirian
Arvin memulai rekaman dokumenter dengan menelusuri tiap sel. Karena ia terbiasa bekerja sendiri, rasa takut sedikit mereda. Selain itu, suara hujan di luar memberikan ritme menenangkan, meskipun gema langkahnya sendiri tetap membuat jantungnya cepat.
Namun, ketika ia memasuki sel nomor 13, suasananya berubah drastis. Ranjang besi masih berada di tempat, tetapi kasurnya tampak koyak. Menurut catatan yang ia baca sebelumnya, narapidana yang pernah mengisi sel itu kerap menjerit tanpa henti saat hujan turun.
Karena ingin mendapatkan footage yang kuat, Arvin memotret sudut-sudut sel. Akan tetapi, ketika lampu kamera menyala, ia melihat bayangan samar berdiri di pojok ruangan. Setelah mengecek foto, bayangan itu tidak ada. Meskipun begitu, rasa dingin yang merambat di punggungnya meyakinkan bahwa ia memang melihat sesuatu.
Saat ia melangkah keluar, suara lain muncul. Langkah berat terdengar dari ujung lorong. Karena ritmenya tidak sama dengan langkahnya, Arvin langsung berhenti. Anehnya, langkah itu ikut berhenti.
Ia mencoba melanjutkan langkah, tetapi bunyi serupa kembali terdengar, kali ini setengah detik setelah langkahnya sendiri. Oleh sebab itu, Arvin semakin yakin bahwa sesuatu sedang mengikutinya.
Bayangan Kaki Tanpa Tubuh
Cahaya senter diarahkan ke lantai. Seketika, Arvin tertegun. Karena lantai masih basah, pantulannya sangat jelas. Ia melihat bayangan sepasang kaki lain berjalan tepat di belakangnya, meskipun tidak ada manusia di sana.
Setiap kali ia melangkah cepat, bayangan itu mengikutinya. Ketika ia berhenti, bayangan itu berhenti pula. Bahkan, ketika ia mundur satu langkah, bayangan itu justru maju sedikit, seolah ingin mendekat.
Karena panik, Arvin mempercepat langkah menuju lorong utama. Namun, semakin ia berjalan, semakin banyak suara lain ikut bergabung: bisikan, tarikan napas berat, dan ketukan rantai. Walaupun suara-suara itu samar, semuanya terdengar seolah bergerak bersama.
Bisikan dari Tembok
Ketika Arvin tiba di sel nomor 21, ia mendengar sesuatu lagi—bisikan sangat pelan dari balik jeruji. Karena penasaran, ia mendekat dan menempelkan telinga.
“Giliran…” gumam suara itu.
Arvin tersentak mundur. Senter di tangannya bergetar. Namun, sebelum ia bisa berpaling, bisikan lain datang dari arah berbeda.
“Selesaikan…”
Ia menoleh cepat. Sel di sebelah kanan tampak gelap, tetapi suara itu berasal dari sana. Selain itu, bayangan seseorang tampak berlutut di dalam, walaupun ruangan itu seharusnya kosong.
Tidak lama kemudian, suara ketiga muncul di belakangnya. “Namamu belum tercatat…”
Arvin langsung menjerit kecil dan mundur beberapa langkah. Lorong yang tadi terasa panjang kini tampak seperti menutup dirinya dalam lingkaran yang mustahil dipahami.
Sel Basah dan Nama yang Lengkap
Karena ingin cepat keluar, Arvin bergerak ke ujung lorong. Namun, ia menemukan satu sel terbuka sedikit. Lantai sel itu terendam air keruh setinggi mata kaki. Dinding belakangnya menunjukkan goresan nama:
“ARVI—”
Karena huruf-huruf itu masih basah, Arvin menyadari bahwa goresan itu baru saja dibuat. Dalam hitungan detik, air mulai bergolak. Pusaran kecil muncul, lalu pecah, lalu muncul lagi, seolah ada sesuatu di bawah permukaan.
Tiba-tiba, air itu menyembur setetes ke arah Arvin, mengenai pergelangan tangannya. Segera, ia merasa seolah ada jari dingin mencengkeram kulitnya.
Sebelum ia sempat menutup sel, sebuah bisikan muncul dari dalam air.
“Lengkapi…”
Arvin menutup jeruji cepat. Namun, tepat sebelum pintu benar-benar tertutup, huruf terakhir muncul sendiri di dinding—seolah tangan tak terlihat sedang menggoreskannya.
Sekarang tertulis lengkap: “ARVIN.”
Lorong yang Mengubah Arah
Karena ketakutan semakin besar, Arvin berusaha mencari jalan keluar. Namun, entah bagaimana lorong itu berubah. Setiap ia menemukan belokan, ia selalu kembali ke tempat yang sama. Bahkan sel nomor 13 muncul berkali-kali, seolah mengikuti langkahnya.
Lampu lorong berkedip-kedip. Setiap kali cahaya padam sebentar, bayangan di dinding bertambah. Ada bayangan orang berjalan, ada yang merangkak, ada yang menggantung, dan ada yang seperti berusaha meraih keluar dari dalam dinding.
Dan kemudian, jeritan itu datang.
Jeritan panjang, putus asa, penuh ketakutan, dan marah. Jeritan yang menembus telinganya seperti pisau. Itulah jerit penjara yang selama ini dianggap hanya cerita.
Namun kini, jeritan itu memenuhi lorong dari segala arah.
Pintu yang Akhirnya Terbuka
Tepat ketika Arvin hampir jatuh, suara kunci beradu besi terdengar dari ujung lorong. Pintu besar itu bergetar, lalu terbuka pelan. Cahaya terang dari area aktif masuk, memecah gelap pekat.
“Pak Arvin!” teriak Pak Sandi. “Maaf, pintunya macet karena banjir! Saya baru bisa buka!”
Arvin berlari keluar dan hampir terjatuh di pelukan Pak Sandi. Nafasnya kacau. Sementara itu, di balik pintu yang mulai tertutup, lampu lorong padam satu per satu hingga hanya menyisakan gelap sempurna.
Jeritan yang Tidak Mau Hilang
Setelah pulang ke Jakarta, Arvin berusaha menyelesaikan dokumenternya. Namun, semakin ia mencoba menulis, semakin sering suara-suara itu muncul kembali.
Pada malam hujan, suara menyeret terdengar di lorong apartemen. Kadang, ia melihat bayangan seseorang berdiri tepat di depan pintu rumahnya melalui celah bawah.
Puncaknya terjadi tiga hari kemudian. Perekam suaranya hidup sendiri. Saat Arvin memeriksanya, rekaman itu hanya berisi satu kalimat:
“Giliranmu sudah tiba… jeritan tidak pernah selesai…”
Dan setelah itu, Arvin mendengar sesuatu yang tidak mungkin ia lupakan: jerit penjara menggema tepat di belakangnya—meski ia sudah ratusan kilometer dari Sukamiskin.
Sejarah & Budaya : Peninggalan Kolonial yang Kini Jadi Destinasi Wisata Sejarah