Pendahuluan
Pada malam tanpa rembulan, jejak berdarah kota tua jakarta terhampar di antara bangunan-bangunan tua, meracuni harapan siapa saja yang berani menelisik misterinya. Bagaimana tidak, kabar bocor tentang penampakan sosok berlumuran darah telah menyebar, memancing keberanian sekelompok pemuda untuk membuktikan kebenaran kisah horor itu. Namun, mereka tidak menyadari bahwa apa yang mereka cari justru akan membangkitkan kengerian yang tak terkira.
Kedatangan Malam di Pecinan
Pertama-tama, cahaya remang lampu jalan hanya cukup untuk menuntun langkah. Selanjutnya, angin dingin berdesir dari selasar tanpa penghuni, menerbangkan kertas-kertas merah imlek yang tergeletak usang. Kemudian, satu per satu, jejak kaki para penelusur berderap di atas keramik pecah yang berserakan—mereka berharap menemukan petunjuk tentang jejak berdarah kota tua jakarta, tetapi malah menuai kegelisahan yang mencekam.
Desiran Langkah di Gang Sempit
Lebih jauh menapaki gang sempit, para pemuda terhenti. Di sana, di tembok rompal tergores, terlihat tulisan samar “DI SINI…”. Setelah itu, desiran napas seolah menjawab, seakan-akan ada yang mengintai dari balik tembok. Sementara itu, satu dari mereka menyorotkan senter ke tanah; bercak merah pekat menghitam di sela batu bata yang rapuh, persis seperti darah yang tak pernah kering.
Bisikan dari Lorong Gelap
Tidak hanya penglihatan yang menipu, tetapi juga pendengaran. Bagaimanapun mereka yakin tak ada orang lain, tiba-tiba terdengar langkah kaki menjauh di ujung lorong. Padahal, semua pintu bangunan tua terkunci rapat. Bahkan ketika senter diarahkan, hanya gelap pekat tanpa batas. Konon, bisikan itu adalah suara korban pertama yang terjerat jejak berdarah kota tua jakarta, enggan merelakan nyawanya.
Penemuan Peti Terkunci
Kemudian, di sebuah sudut tersembunyi, mereka menemukan peti kayu. Perlahan, ketua rombongan menarik engsel yang berderit. Lebih jauh, aroma apek dan kelembapan menyeruak ke rongga hidung. Ketika penutup terangkat setengah, sorotan senter memantul pada permukaan logam—ranting besi melingkar, membentuk lingkaran hitam yang tampak seperti cincin terkutuk.
Kenangan Kelam Masa Lalu
Selanjutnya, bergulir kilas balik—cerita tentang seorang pedagang Cina abad ke-19 yang tewas mengenaskan akibat perebutan kuasa atas tanah Pecinan. Ironisnya, mayatnya dikubur di reruntuhan bangsal tanpa upacara, sehingga arwahnya konon terus berkeliaran, menuntut keadilan. Hingga kini, darahnya disebut masih menetes di pelupuk waktu, mewarnai setiap sudut jejak berdarah kota tua jakarta.
Kengerian yang Mengintai
Lalu, satu per satu anggota rombongan merasakan kehadiran tak kasat mata. Terlebih lagi, suhu udara tiba‑tiba menurun drastis. Bahkan, embun beku menempel di jaket mereka. Padahal semalam sebelumnya, udara cukup hangat. Saat itulah, terdengar rintihan pilu, seperti wanita meratap di balik dinding. Sontak, satu senter terjatuh, menyemprotkan cahaya bergerak liar ke sekeliling.
Teror Tanpa Wajah
Belakangan, sosok samar muncul di atas tangga retak. Mula‑mula hanya bayangan, kemudian menjelma sosok perempuan bergaun putih lusuh, berdiri membelakangi mereka. Namun kemudian, tatapannya berbalik—tanpa wajah, hanya permukaan kulit lembek yang menganga. Selanjutnya, makhluk itu melangkah maju, meninggalkan jejak noda merah kehitaman seperti darah mengental di lantai keramik.
Lika‑Liku Pelarian
Setelah itu, kepanikan memuncak. Mereka berlari menerobos sempitnya gang, menuruni tangga berderit, berkali‑kali terpeleset oleh cairan gelap. Selain itu, suara rintihan makin keras, seakan mengejar setiap langkah. Kemudian, jalan satu-satunya kembali ke alun‑alun kota tua, di mana lampu kota lain bersinar redup. Berkat itu, mereka sempat bernafas lega—namun siapa sangka, bahaya justru menunggu di sudut lain.
Titik Balik yang Mematikan
Ketika melintasi bekas pasar malam yang kini tinggal reruntuhan kios, suara pintu kayu terseret menahan gemeretak. Seketika itu juga, bayangan kotak kayu terlontar dari kegelapan. Tanpa diduga, kotak itu membentur sandal salah satu pemuda hingga ia terhuyung. Selanjutnya, mereka menoleh—di belakang kotak, nampak kaki seorang lelaki berbalut kain surjan, tersapu noda merah. Padahal itu pria mati yang mereka kenali dari catatan puskesmas—korban pertama pendahulu mereka yang hilang di malam serupa.
Pelarian Terakhir
Oleh karena terdesak, mereka menyalakan semua lampu senter, berusaha menghalau bayangan gelap. Bahkan mereka berteriak, memecah sunyi yang amat mencekam. Setelah itu, satu per satu pintu gerbang tua terbuka—memberi jalan keluar. Dengan napas tersengal, mereka berlari menuju keramaian. Hanya pada detik terakhir, sosok perempuan bergaun lusuh muncul di ambang gerbang, melambaikan tangan tanpa suara, seolah mengundang satu nyawa lagi.
Epilog: Warisan Kutukan
Pada akhirnya, mereka selamat—tetapi trauma tak kunjung sirna. Hingga berbulan kemudian, kabar jejak berdarah kota tua jakarta tetap mengerikan: setiap orang yang menelusuri kota tua di malam tanpa rembulan berisiko “diundang” arwah tanpa wajah itu. Karena itu, hati-hati jika suatu malam Anda terdorong rasa ingin tahu, sebab harapan hanya akan diracuni kengerian yang tak berujung.
Flora & Fauna : Kebun Vertikultur: Solusi Tanam Sayuran di Lahan Terbatas