Awal Mula Misteri di Pulau Lengkuas
Pulau Lengkuas, salah satu pulau kecil di Kepulauan Bangka Belitung, dikenal karena keindahan lautnya dan mercusuar tuanya yang menjulang setinggi hampir 60 meter. Namun, di balik keindahan itu, tersembunyi kisah kelam yang tidak banyak diketahui wisatawan. Penduduk sekitar sering memperingatkan agar tidak berada terlalu lama di dekat mercusuar setelah matahari terbenam, sebab konon hantu pelaut yang hilang masih berkeliaran di sana, mencari arah pulang yang tak pernah ia temukan.
Legenda ini bermula dari kisah seorang pelaut Belanda bernama Willem de Vries yang ditugaskan menjaga mercusuar pada tahun 1882, saat menara itu baru dibangun. Willem dikenal disiplin dan tak pernah meninggalkan posnya, bahkan saat badai menggila. Namun, suatu malam, ia menghilang begitu saja tanpa jejak. Hanya ditemukan catatan log harian yang berhenti di tengah kalimat dan lampu mercusuar yang terus menyala meski tak ada penjaga di dalamnya.
Suara Aneh dari Puncak Menara
Beberapa penjaga modern yang bekerja di sana melaporkan hal-hal aneh saat malam hari. Salah satunya adalah suara langkah berat menaiki tangga spiral dari besi, disertai suara rantai logam yang diseret. Ketika mereka naik untuk memeriksa, tak ada siapa pun di atas. Hanya hawa dingin yang menusuk dan bau asin laut yang tiba-tiba terasa menyengat.
Rudi, salah satu petugas penjaga mercusuar pada 2007, pernah menceritakan bahwa ia mendengar seseorang mengetuk keras dari balik pintu ruang kontrol. Namun, saat dibuka, tak ada siapa pun di luar kecuali kabut tebal yang menggantung di udara. Sejak itu, ia enggan berjaga sendirian.
Masyarakat setempat percaya, hantu pelaut itu masih berusaha memberi sinyal kepada kapal-kapal yang melintas, seolah ia masih terjebak dalam tugasnya yang belum selesai. Setiap kali badai datang, suara sirine laut terdengar samar dari kejauhan—padahal tidak ada kapal yang berlabuh di perairan itu.
Perjalanan Malam ke Mercusuar Tua
Suatu malam, sekelompok mahasiswa pecinta alam dari Jakarta memutuskan berkemah di Pulau Lengkuas. Mereka penasaran dengan kisah menyeramkan tentang mercusuar itu dan ingin membuktikan kebenarannya. Sekitar pukul sebelas malam, mereka berjalan menuju menara dengan senter di tangan, melawan angin laut yang dingin menusuk.
Ketika mereka sampai di depan pintu besi tua, salah satu dari mereka, Dian, merasa seperti diawasi. Senter yang ia pegang tiba-tiba redup, lalu mati sama sekali. “Kayak ada yang ngikutin dari belakang,” bisiknya. Temannya, Farhan, menertawakan ketakutannya, tapi tawa itu cepat menghilang saat angin berembus membawa aroma amis seperti darah dan ikan busuk.
Mereka akhirnya memberanikan diri masuk. Tangga besi berkarat menjerit setiap kali diinjak. Suasana semakin menegangkan ketika suara tetesan air terdengar dari atas, padahal cuaca sedang kering. Saat mereka sampai di lantai ketiga, terdengar suara seperti seseorang sedang menarik rantai berat dari bawah. Mereka menyorotkan senter ke arah tangga spiral, dan di bawah sana terlihat sosok berpakaian lusuh dengan topi pelaut kuno, tubuhnya basah kuyup, dan wajahnya pucat kehijauan.
Penampakan di Tengah Kabut Laut
Ketika sosok itu menengadah, terlihat air laut menetes dari matanya seperti air mata asin. “Kenapa kalian di sini?” suaranya berat, serak, dan bergema. Salah satu mahasiswa, Rio, spontan menjerit dan berlari menuruni tangga, tapi langkahnya terhenti ketika kabut pekat menyelimuti seluruh ruangan.
Tiba-tiba mercusuar itu bergetar, seakan badai tengah menghantam dari luar. Lampu tua di atas menara berputar cepat tanpa kendali, menerangi laut yang kini tampak bergolak. Sosok pelaut itu perlahan mendekat, membawa lentera kecil di tangan kanannya. Di dalam lentera itu, ada potongan peta yang tampak terbakar sebagian.
Dian melihat jelas tulisan di peta itu — koordinat Pulau Lengkuas. Ia baru menyadari, mungkin hantu itu tak jahat. Ia hanya ingin seseorang membantunya pulang. Namun sebelum sempat berbicara, suara petir menggelegar. Sosok pelaut itu hilang seketika, meninggalkan hanya aroma garam dan rantai berkarat yang kini tergeletak di tangga.
Rahasia Catatan Lama di Ruang Bawah Mercusuar
Keesokan paginya, rombongan mahasiswa itu melapor ke penjaga setempat dan menceritakan pengalaman mereka. Penjaga tua bernama Pak Wayan hanya mengangguk pelan. Ia kemudian menunjukkan ruang bawah tanah mercusuar yang selama ini dikunci.
Di sana, terdapat beberapa peti tua berisi barang peninggalan era kolonial: pakaian lusuh, kompas, dan sebuah buku catatan yang nyaris hancur dimakan usia. Saat dibuka, halaman terakhir menuliskan pesan dalam bahasa Belanda yang diterjemahkan sebagai:
“Aku harus menjaga cahaya ini. Mereka bilang badai akan datang, tapi aku tidak boleh pergi. Jika aku hilang, biarkan cahaya ini tetap menyala untuk kapal-kapal yang tersesat.”
Kalimat itu ditulis dengan tinta yang pudar, namun masih terbaca jelas. Rudi yang mendampingi mahasiswa itu terdiam lama. Ia berkata, “Jadi benar, mungkin hantu pelaut itu memang tidak pernah meninggalkan posnya.”
Kutukan Laut dan Cahaya Abadi
Beberapa orang percaya arwah pelaut itu dikutuk untuk menjaga mercusuar selamanya, karena ia melanggar perintah atasannya untuk meninggalkan pos sebelum badai datang. Saat badai menghantam Pulau Lengkuas lebih dari seabad lalu, kapal yang seharusnya ia pandu tenggelam di karang, menewaskan puluhan awak. Sejak saat itu, rohnya tidak tenang dan terus menjaga mercusuar agar tragedi yang sama tidak terulang.
Konon, setiap kali badai besar melanda Selat Karimata, mercusuar Pulau Lengkuas akan menyala meski tidak ada penjaga di dalamnya. Beberapa nelayan mengaku melihat sosok bayangan pelaut berdiri di puncak menara dengan lentera di tangannya. Mereka menyebutnya “Penjaga Laut Mati.”
Meskipun kisah ini sulit dibuktikan secara ilmiah, banyak pengunjung yang mengaku merasakan keanehan ketika berada di sekitar menara menjelang malam. Suara angin sering terdengar seperti nyanyian pelaut tua, dan aroma asin laut seakan berubah menjadi bau amis yang menusuk.
Malam Terakhir di Pulau Lengkuas
Sebelum meninggalkan pulau, Dian memutuskan untuk kembali sekali lagi ke mercusuar, kali ini sendirian. Ia ingin menaruh bunga di pintu masuk sebagai tanda penghormatan. Saat berdiri di sana, angin laut berhembus lembut dan suara rantai berderak terdengar lagi, tapi kali ini tidak menakutkan.
Di puncak menara, ia melihat cahaya lentera kecil bergerak perlahan, lalu menghilang ke arah laut lepas. Ia tersenyum samar, yakin bahwa arwah itu akhirnya tenang setelah ada yang mengingatnya.
Malam itu, ombak laut terasa lebih tenang dari biasanya, dan tidak ada lagi suara aneh yang bergema di sekitar mercusuar. Namun, ketika kapal yang membawa rombongan itu meninggalkan Pulau Lengkuas, Dian melihat sesuatu di kejauhan: sosok pelaut berdiri di puncak menara, melambaikan tangan perlahan.
Jejak Terakhir Sang Penjaga Laut
Hingga kini, tidak ada yang tahu pasti apakah kisah hantu pelaut di Mercusuar Pulau Lengkuas benar-benar nyata atau hanya legenda yang tumbuh dari masa lalu. Namun, setiap kali lampu mercusuar menyala dengan sinar yang lebih terang dari biasanya, penduduk setempat percaya bahwa Willem de Vries masih berjaga, menjaga para pelaut agar tidak tersesat seperti dirinya.
Pulau Lengkuas tetap menjadi tempat yang indah — sekaligus menyimpan aura misterius yang tak pernah hilang. Bagi sebagian orang, mercusuar tua itu hanyalah bangunan peninggalan sejarah. Namun bagi mereka yang pernah mendengar desiran rantai, bau asin laut yang tiba-tiba muncul, atau melihat lentera di tengah badai, mereka tahu… penjaganya belum benar-benar pergi.
Kesehatan : Tips Aman Jaga Kesehatan Saat Musim Pancaroba Tiba