Datang ke Hotel Abad XIX di Bukit Tinggi
Malam di Bukit Tinggi turun pelan, namun hawa dinginnya langsung menempel di kulit ketika Arman turun dari travel dan menatap hotel tua di depan matanya. Konon, bangunan itu sudah berdiri sejak abad XIX, sehingga dindingnya dipenuhi lumut tipis dan jendela kayunya tampak kelelahan menopang waktu. Meskipun begitu, ia tetap melangkah masuk karena hotel itu murah dan dekat dengan lokasi liputan yang harus ia kerjakan.
Di lobi, lampu gantung tua berkelip samar, seolah kelelahan menyinari lantai marmer yang retak di sana-sini. Selain itu, di dinding belakang resepsionis tergantung cermin besar berbingkai kayu gelap, menampilkan bayangan Arman yang sedikit terdistorsi. Walaupun ia hanya mengira itu akibat umur kaca, ada sesuatu di pantulan itu yang terasa lebih dingin daripada udara di sekitarnya.
Saat menunggu kunci kamar, Arman sempat mendengar bisikan dua tamu lain yang lewat. Mereka menyebut-nyebut “hantu cermin” yang konon suka menampakkan diri di lantai atas. Namun, karena lelah, ia memilih mengabaikannya dan menerima kunci kamar dengan senyum kaku, tanpa sadar bahwa cerita itu akan menempel lebih erat dari sekadar rumor kosong.
Resepsionis dan Aturan Tak Tertulis
Resepsionis hotel adalah pria paruh baya dengan wajah tirus dan mata cekung. Meskipun ia berusaha ramah, gerakannya tampak kaku, seperti sudah terlalu lama bekerja di ruangan dingin tanpa jendela itu. Setelah memberikan kunci, ia mendadak mencondongkan tubuh dan berbisik pelan, seolah khawatir ada yang mendengar.
“Kalau malam, Pak Arman jangan menutup tirai cermin di kamar, ya. Walaupun terasa aneh, lebih baik dibiarkan terbuka,” ujarnya. “Dan kalau ada yang mengetuk dari dalam cermin, jangan ditatap terlalu lama.”
Arman tertegun sejenak, namun kemudian tertawa hambar. Ia mengira itu hanya cara resepsionis menakut-nakuti tamu, terutama turis luar daerah. Meskipun begitu, kalimat “mengetuk dari dalam cermin” terus terngiang di kepalanya saat ia menaiki tangga kayu menuju lantai tiga, tempat kamar tuanya menunggu dengan sunyi.
Koridor Panjang dan Kamar Bernomor 312
Koridor lantai tiga memanjang seperti lorong di bangunan tua Eropa. Dindingnya dipenuhi foto hitam-putih kota Bukit Tinggi zaman dulu, sementara karpet merah tua di lantai sudah pudar di beberapa bagian. Sementara itu, suara langkah Arman sendiri terdengar terlalu jelas, seakan lorong itu menelan semua kebisingan lain agar hanya menyisakan gema sepatunya.
Ia berhenti di depan kamar bernomor 312. Di atas gagang pintu, pelat kuningan kecil memantulkan cahaya lampu koridor. Sebelum masuk, ia melirik ke ujung lorong dan mendapati satu cermin tinggi berdiri di ujung sana, setengah tertutup tirai tipis. Bayangannya di sana tampak lebih kurus, dan di belakangnya seperti ada bayangan lain yang berdiri terlalu dekat. Namun, ketika ia berkedip, hanya lorong kosong yang terlihat.
Dengan sedikit gugup yang ia tekan, Arman membuka pintu kamar. Udara dingin menyergapnya, lebih dingin daripada di luar. Selain ranjang besar, meja kerja, dan kursi, hal yang paling menonjol di kamar itu adalah cermin tinggi berbingkai kayu gelap di dinding, tertutup tirai beludru warna merah marun.
Cermin Tua di Dinding Kamar
Arman menaruh tas, lalu menyalakan semua lampu. Meski begitu, sudut kamar tetap terasa remang, terutama di dekat cermin. Tirai beludru yang menutupinya tampak berat dan sedikit berdebu, seakan sudah lama tidak disentuh. Meskipun teringat perkataan resepsionis, ia malah mendekat dan menyibak tirai perlahan, penasaran ingin melihat kualitas kaca tua itu.
Di balik tirai, cermin memantulkan seluruh kamar dengan cukup jelas. Akan tetapi, warna pantulannya sedikit kekuningan, seperti foto tua yang mulai pudar. Wajah Arman tampak lebih suram, dan lingkar hitam di matanya terlihat semakin dalam. Selain itu, di pojok pantulan kamar, ia melihat bayangan samar seperti baju gantung, padahal di sudut aslinya tidak ada apa-apa.
Walaupun merinding, ia menepuk dadanya sendiri dan menganggap itu hanya permainan cahaya. Ia menutup tirai kembali, kali ini lebih cepat, lalu memutuskan fokus pada laptop dan tugas liputan yang harus ia selesaikan. Namun, dari balik kain tebal itu, ia merasa ada sesuatu yang tetap menatap, tidak berkedip, dan menunggu waktu yang tepat untuk muncul kembali.
Malam Pertama: Bayangan yang Terlambat
Menjelang tengah malam, kota mulai sepi. Hanya suara kendaraan yang sesekali melintas dan hembusan angin dingin yang menyelinap lewat celah jendela. Arman mematikan lampu utama dan menyisakan lampu meja di samping ranjang. Dengan begitu, kamar menjadi redup, namun cukup terang untuk membuatnya tidak merasa benar-benar sendiri.
Saat ia berdiri di depan rak kecil untuk meletakkan ponsel, matanya sekilas menangkap sesuatu di kaca kecil di meja. Walaupun ia berdiri diam, bayangan di permukaan kaca tampak tertinggal sepersekian detik, seolah baru menyusul gerakannya. Ia mengerutkan kening, lalu sengaja menggerakkan tangan ke kiri dan ke kanan. Pantulan di kaca bekerja normal.
Namun, ketika ia menoleh ke arah tirai cermin besar, kain itu bergoyang pelan, seakan ada seseorang yang barusan melewatinya dari dalam. Sementara itu, hawa kamar menjadi lebih dingin, dan bulu kuduknya berdiri tanpa bisa ia kendalikan. Karena tidak ingin terbawa suasana, Arman buru-buru naik ke ranjang, menarik selimut, dan memejamkan mata, berharap kantuk segera datang menutup semua keanehan itu.
Suara Ketukan dari Dalam Cermin
Arman tidak tahu sudah berapa lama ia tidur ketika suara ketukan pelan membangunkannya. Ketukan itu terdengar tiga kali, teratur, seperti seseorang mengetuk kaca dengan ujung kuku. Awalnya ia mengira itu suara dari kamar sebelah, namun ketika ia menahan napas, suara itu terdengar jelas dari arah dinding yang ditutupi tirai cermin.
Selain ketukan, terdengar pula suara napas pelan, berat, seolah seseorang berdiri sangat dekat dengan permukaan kaca. Walaupun ingin pura-pura tidak mendengar, rasa penasaran sekaligus takut memaksa Arman membuka mata sedikit. Kamar masih redup, dan lampu meja menyala kuning lembut, tetapi tirai cermin tampak sedikit menggembung ke luar, seperti didorong sesuatu dari belakang.
Ketukan kembali terdengar, kali ini lebih cepat, seolah sosok di balik kaca mulai tidak sabar. Arman menarik selimut hingga ke dagu, memalingkan wajah ke arah lain, dan berusaha mengabaikan suara itu. Namun, di sela-sela dingin udara, ia yakin mendengar satu kalimat pendek yang diucapkan dengan suara perempuan sangat pelan: “Buka… aku mau lihat…”
Pagi di Bukit Tinggi dan Cermin yang Retak Halus
Pagi hari membawa cahaya yang agak menenangkan. Meski begitu, rasa lelah tetap menempel pada tubuh Arman, karena tidur semalam terasa lebih seperti menunggu bahaya dibanding beristirahat. Ia menghela napas, lalu memberanikan diri menyingkap tirai cermin di dinding untuk membuktikan bahwa semua hanya mimpi.
Begitu tirai terbuka, ia tertegun. Cermin itu tidak pecah besar, namun di sudut kanan atas tampak retakan halus seperti jaring laba-laba. Retakan itu tidak ada kemarin sore. Selain itu, tepat di tengah kaca terdapat bekas kabur seperti embun, membentuk lingkaran besar seukuran wajah manusia yang menempel terlalu dekat dari sisi lain.
Arman menyentuh permukaan cermin dengan ujung jari. Kacanya dingin, bahkan lebih dingin daripada logika yang berusaha ia pertahankan. Walaupun ia mencoba tersenyum, hati kecilnya yakin bahwa semalam, sesuatu memang mengetuk dari dalam. Karena itu, ia memutuskan sarapan cepat dan turun ke lobi, berniat bertanya lebih lanjut kepada resepsionis tentang sejarah hotel tua ini.
Sejarah Hotel dan Arwah di Dalam Kaca
Di lobi, resepsionis tampak lebih pucat daripada kemarin. Ketika Arman menyebut kamar 312 dan cermin yang retak, ia menunduk cukup lama sebelum menjawab. Dengan suara pelan, ia menjelaskan bahwa hotel tersebut dulu adalah rumah besar milik bangsawan pada akhir abad XIX, dan salah satu penghuni rumah adalah seorang perempuan muda yang terobsesi dengan kecantikan.
Perempuan itu menghabiskan sebagian besar waktunya di depan cermin besar yang kini tergantung di kamar 312. Konon, ketika tua mendekat lebih cepat dari yang ia harapkan, ia melakukan ritual aneh dengan cermin itu, berharap pantulan di dalam kaca berhenti menua. Namun, ritual itu berakhir dengan tragis. Pada suatu malam, ia ditemukan tewas di depan cermin, sementara wajah di pantulan kaca masih tampak muda dan tersenyum dingin.
Sejak saat itu, banyak penghuni rumah dan tamu hotel yang melaporkan kejadian ganjil. Bayangan di cermin sering terlambat mengikuti gerakan, kadang-kadang tersenyum saat pemiliknya tidak tersenyum, dan sesekali mengetuk dari dalam, seolah hantu cermin itu meminta keluar. Walaupun cermin sudah berkali-kali dipindah dan ditutupi, setiap kali dibuang, kaca itu selalu kembali tergantung di salah satu kamar lantai tiga.
Malam Kedua: Tirai yang Terbuka Sendiri
Setelah mendengar cerita itu, Arman berniat pindah hotel. Namun, semua penginapan terdekat penuh karena ada acara besar di kota. Dengan terpaksa, ia menerima diskon kamar dari resepsionis dan memutuskan bertahan satu malam lagi, sambil berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak panik.
Malam kedua turun dengan kabut yang lebih tebal. Dari jendela kamar, lampu-lampu kota tampak redup seperti dipisahkan lapisan kain abu-abu. Arman sengaja menutup tirai cermin rapat-rapat lalu menggeser meja sedikit di depannya, berharap hal itu memberi jarak dari kaca terkutuk itu. Selain itu, ia memutar musik pelan dari ponsel untuk mengisi keheningan.
Namun, ketika ia berbalik setelah meletakkan ponsel di meja, tirai yang baru saja ia tutup kini sudah terbuka separuh. Cermin memantulkan punggungnya dengan jelas, dan di samping bayangan itu berdiri siluet perempuan bergaun lama yang menunduk. Arman membeku. Dalam pantulan, sosok itu mengangkat kepala, tetapi di ruangan nyata, tidak ada siapa pun di belakangnya.
Tatapan Panjang ke Dalam Cermin
Arman berusaha memutus kontak dengan pantulan tersebut, tetapi entah kenapa matanya sulit beralih. Wajah perempuan di cermin tampak pucat, dengan rambut hitam panjang tergerai dan gaun putih menguning yang menjuntai hingga lantai. Namun, bagian yang paling mengerikan adalah matanya: terlalu gelap, terlalu dalam, seolah tidak memantulkan cahaya sama sekali.
Sementara itu, retakan halus di sudut cermin melebar perlahan, menyerupai garis-garis halus di kulit tua. Perempuan itu mengangkat tangannya dan menyentuh permukaan kaca dari sisi dalam, tepat di posisi yang sama dengan tangan Arman di luar. Dingin dari kaca merambat cepat ke telapak tangannya, lalu ke lengan, seolah menariknya semakin dekat.
Di telinganya, suara berbisik kembali terdengar. Kali ini lebih jelas, lebih memohon, namun juga mengandung nada dengki: “Kau masih muda… tukar tempat denganku sebentar saja… biar wajahku kembali hidup di dunia…” Bisikan itu mengulang-ulang, seakan mantra, sementara bayangan Arman di cermin mulai tampak sedikit memudar di tepi, digeser pelan oleh sosok perempuan itu.
Terjebak di Balik Kaca
Arman panik dan berusaha melepaskan tangannya dari permukaan cermin. Namun, telapak tangannya seperti menempel, seolah kaca berubah menjadi lapisan tipis yang lengket dingin. Semakin ia menarik, semakin cengkeraman itu mengencang. Sementara itu, di cermin, perempuan bergaun putih tersenyum tipis, dan di sudut pantulan, bayangan kamar mulai berubah.
Langit-langit di dalam cermin tampak lebih rendah, dindingnya lebih gelap, dan lampunya redup kekuningan seperti hotel di masa lalu. Bayangan Arman di dalam kaca tampak tercekik, sementara sosok perempuan perlahan mendorong dirinya keluar. Di dunia nyata, lampu kamar berkedip-kedip keras, dan suara angin bertiup dari arah cermin, seolah sebuah pintu tak terlihat sedang terbuka lebar.
Dengan sisa tenaga, Arman berteriak, memanggil siapa saja yang mungkin mendengar. Teriakannya menggema di ruangan, tetapi lorong hotel tetap sunyi. Di saat yang sama, perempuan di cermin berbisik lebih keras, “Tinggal sedikit lagi… kau akan mengerti betapa damainya di balik sini…”
Retakan Pecah dan Bayangan Baru
Tiba-tiba, suara keras terdengar dari cermin. Retakan menyebar seperti petir, memecah permukaan kaca menjadi banyak segmen yang memantulkan bagian-bagian kecil dari wajah Arman dan perempuan itu. Dalam kepingan-kepingan tersebut, ia melihat versi dirinya yang pucat, matanya kosong, berdiri di kamar yang bukan lagi kamar 312, melainkan ruangan tua dengan perabot kuno dan jendela kayu besar.
Di dunia nyata, pintu kamar tiba-tiba terbuka sedikit. Seorang petugas kebersihan yang sedang lewat mendengar suara gaduh dan menekan gagang pintu, memanggil nama Arman yang ia baca dari daftar tamu. Namun, begitu ia melirik ke dalam, yang ia lihat hanya kamar kosong dengan tirai cermin tertutup rapat dan lampu meja yang berkedip pelan.
Cermin di dinding tampak utuh kembali, tanpa retakan. Hanya saja, jika diperhatikan dalam-dalam, di balik pantulan biasa-biasa saja, ada sosok lelaki muda berdiri di kejauhan, menatap keluar dengan mata yang memohon. Di sampingnya, seorang perempuan bergaun putih tersenyum tenang, seolah akhirnya mendapatkan teman baru di dunia kaca.
Hotel Abad XIX yang Tetap Berdiri
Beberapa hari kemudian, resepsionis mendapati kamar 312 kosong dari barang bawaan tamu. Data menunjukkan bahwa Arman tidak pernah resmi check-out, namun juga tidak ada tanda-tanda perkelahian atau pencurian. Catatan itu akhirnya disimpan dalam map yang sama dengan beberapa kejadian hilangnya tamu lain, yang sayangnya tidak pernah bisa dijelaskan dengan logika biasa.
Hotel abad XIX di Bukit Tinggi itu tetap beroperasi, meski pelan-pelan mulai kurang diminati. Meskipun begitu, beberapa wisatawan yang tertarik sejarah dan nuansa tua kadang masih menginap. Sebagian dari mereka mengaku tidak mengalami apa-apa, namun sebagian lagi menceritakan kejadian aneh: bayangan di kaca yang terlambat bergerak, cermin yang berembun dari dalam, serta getaran halus seperti ketukan kuku di permukaan kaca menjelang subuh.
Pada malam-malam berkabut, jika berdiri di ujung koridor lantai tiga dan menatap cermin tinggi di sana, kadang-kadang terlihat dua sosok samar dalam pantulan: seorang perempuan bergaun lama dan lelaki muda yang berdiri terlalu dekat. Mereka tidak selalu muncul, tetapi ketika hantu cermin itu merasa diperhatikan, ia akan sedikit tersenyum, seolah menimbang apakah pantulanmu layak diajak bergabung di balik kaca tua yang sudah menelan terlalu banyak masa muda dan terlalu banyak nama yang tidak lagi tercatat di buku tamu.
Olahraga : Latihan Beban Ringan untuk Meningkatkan Massa Otot Tubuh