Bisikan di Puncak Kabut
Ketika kabut turun menutupi kaldera Segara Anak, gema kesunyian di Gunung Rinjani Lombok mulai menggema. Suara desir angin beradu dengan tetesan embun, menciptakan simfoni muram yang menusuk tulang. Para pendaki yang nekat mendirikan tenda di tepi danau merasakan denyut napas malam berganti detak jantung mencekam. Bahkan, sebelum gelap menelan seluruh lereng, mereka mendengar bisikan pelan memanggil nama satu per satu, menimbulkan pertanyaan mengapa sunyi bisa berbicara.
Awal Pendakian Mendung
Lebih awal, rombongan lima mahasiswa pecinta alam memulai pendakian saat senja. Mereka membawa peralatan standar: kompas, senter, dan logistik cukup untuk tiga hari. Namun demikian, angin musim timur tiba-tiba berubah arah, menghamburkan pasir vulkanik ke wajah. Meski gunung menunjukkan keindahan magis, nuansa mendung menambah ketegangan. Dorongan rasa penasaran mengalahkan sopan santun terhadap alam, sehingga mereka tetap melaju meskipun pepohonan pinus bergesekan ribut—pertanda seolah alam memprotes kehadiran.
Tenda Terbuka pada Tengah Malam
Selanjutnya, setelah menempuh separuh perjalanan menuju pos II, mereka berhenti di pelataran tanah datar. Tenda-tenda dipasang berjajar, lampu senter dinyalakan redup. Tiba-tiba, satu tenda yang diisi Rafi dan Nia terbuka sendiri—meski tiang dan pasak kukuh menahan rangkanya. Angin dingin berhembus dari dalam tenda, mengeluarkan aroma tanah basah bercampur busuk. Nia berbisik, “Kau dengar bukan?” Namun para sahabat hanya diam, menahan napas.
Jejak Kaki di Atas Lumpur
Lebih jauh, keesokan paginya, mereka dikejutkan jejak kaki tak beraturan di atas lumpur pembuka tenda. Jejak itu menyerupai kaki manusia, namun cakarannya terlalu panjang. Anehnya, jejak menuju hutan kecil di dekat sana, lalu lenyap di balik semak. Meskipun rasa takut memuncak, Nurul merekam jejak itu dengan kamera. Ketika diputar ulang, tampak sesosok samar berdiri di ujung frame—terasanya seperti bayangan mendung yang bergerak lincah.
Suara Tandingan Air Terjun
Selain bisikan, suara gemericik air terjun Gumpang terdengar tak wajar. Biasanya tenang, malam itu alunannya berubah menjadi padang suara tak harmonis: raungan rendah dan erangan panjang. Rombongan terperangah, takut mendekat. Meski rencana hari itu adalah trekking menuju air panas Aik Kalak, mereka menunda. “Ada yang salah,” ucap Rafi. Keputusan bijak, karena saat mereka berbalik, satu tenda porak-poranda—perlengkapan terlempar, dan nyala lampu minyak padam serentak.
Pertemuan di Lorong Bambu
Kemudian, mencari perlindungan di pondok bambu tersisa, mereka memasuki lorong kayu sempit. Cahaya senter memantul di dinding bambu seperti teralis raksasa. Dari celah bambu, terdengar rintihan serak—seakan rantai tua digeser pelan. Hawa dingin menembus jaket, bahkan pakaian tidak mampu menahan gigitan rasa ngeri. Tiba-tiba, bayangan putih melesat di depan—tanpa wujud, tanpa suara—hanya sebuah siluet panjang yang menebar aura kelabu.
Panggilan Penuh Luka
Lebih lanjut, senter Nia menyorot batu pipih bertuliskan huruf aksara kuno. Tertulis satu kalimat samar: “Kembalilah sebelum kau merasakan beku jiwa.” Saat dibaca, huruf-huruf itu meneteskan cairan merah kental dan berbau anyir. Rasa bersalah dan takut bercampur; seakan mereka telah mengusik makam kuno. Susana tertekan semakin parah saat suara rantai makin keras, menandakan sesuatu—atau seseorang—bergerak memburu.
Tawa Mengerikkan di Ketinggian
Lain halnya di puncak bukit dekat kaldera, kelompok itu tiba di batu datar untuk melihat palung kawah. Namun, bukannya panorama memukau, mereka dihadapkan tawa mengerikkan: tawa panjang, melengking, menembus alam rapuh. Bahkan, saat mendengar tawa itu, tubuh gemetar tanpa sadar. Meski teriakan alam liar bisa terdengar menggema, tawa ini berbeda—seperti tawa anak kecil terperangkap trauma. Rafi teringat kisah pendaki hilang sejak 1997, yang mayatnya tak pernah ditemukan.
Pertarungan Terakhir di Kaldera
Ketika malam semakin pekat, kabut menebal, mereka berusaha turun. Namun jalur satu-satunya tertutup batu longsor mini, memaksa mereka berputar ke pinggir kaldera. Dari balik kabut, muncul beberapa sosok bertubuh tinggi, wajah tersamar dalam bayangan kelabu. Dalam hati, mereka tahu itu bukan manusia. Hanya dengan lonceng survival yang dikepakkan kencang, sosok itu mundur perlahan—hingga suara lonceng dan bisikan sunyi berganti angin sepoi.
Headline: Pelarian Menuju Senja
Akhirnya, rombongan turun ke sisi barat danau, menemukan jalur alternatif yang menukik tajam. Nafas tersengal, kaki lemas, namun semangat hidup memaksa langkah. Saat fajar memerah, mereka tiba di Pos I, disambut ranger keletihan dan kepanikan. Tanpa menunggu doa, mereka melapor, lalu menepi. Nurul menatap Gunung Rinjani: kabut telah sirna, meninggalkan panorama damai. Namun di dalam hati, kenangan gema kesunyian di Gunung Rinjani Lombok tetap bergema menakutkan.
Epilog: Bukti Tak Terlupakan
Sejak kejadian itu, video jejak kaki berdarah dan rekaman tawa mengerikkan beredar di komunitas pendaki. Banyak yang enggan menjejakkan kaki di atas 2.000 meter, meski kawah dan panorama sunset terus memanggil. Legenda baru terlahir: siapa saja yang mendengarkan gema sunyi di Rinjani, bisa saja terjebak dalam kerangka jiwa tanpa sadar. Karena dalam sunyi Rinjani, terpendam kutukan lama yang menunggu korban berikutnya.
Lifestyle : Makeup Natural: Riasan Ringan untuk Tampilan Segar Harian