Malam yang Tidak Biasa di Pantai Lovina
Desir ombak keras malam itu menghempas garis pantai Lovina dengan kekuatan yang tidak biasa. Biasanya, pantai ini terkenal dengan ketenangannya dan lumba-lumba yang menari di pagi hari. Namun malam itu, ombak seperti membawa amarah, berderu tanpa henti, menggetarkan udara di sekitarnya.
Ayu, seorang penulis novel horor, sengaja datang ke pantai itu untuk mencari inspirasi cerita baru. Ia percaya, suasana malam memberi energi kreatif yang berbeda. Sambil membawa buku catatan dan senter kecil, ia duduk di pasir, menikmati suara laut yang menderu. Tapi, dari antara suara ombak, telinganya menangkap bunyi lain—seperti bisikan yang terpotong-potong, mengajak untuk mendekat ke tepi air.
Benda Asing di Antara Ombak
Penasaran, Ayu berdiri dan berjalan ke arah suara itu. Cahaya bulan memantul di permukaan laut, membuat ombak yang datang tampak seperti dinding cair berwarna perak. Di sela gulungan air, ia melihat sesuatu terombang-ambing—sebuah papan kayu tua dengan ukiran simbol yang tidak dikenalnya.
Ketika papan itu tersapu ke tepi, Ayu meraih dan memeriksanya. Ukiran di kayu membentuk pola lingkaran dengan coretan seperti matahari, namun pusatnya tampak seperti lubang kecil yang dalam. Saat ia menyentuhnya, desir ombak keras terdengar semakin dekat, seakan mencoba meraih papan itu kembali.
Munculnya Sosok di Garis Air
Tiba-tiba, dari arah laut, muncul siluet tubuh seseorang berdiri di atas air. Wujudnya tinggi, ramping, dan berbalut jubah basah. Wajahnya tidak terlihat jelas, namun matanya—dua titik cahaya biru—menatap lurus ke arah Ayu.
“Letakkan itu,” suara berat dan bergema keluar, meski bibirnya tidak bergerak. “Kau tidak tahu apa yang telah kau panggil.”
Ayu mundur satu langkah, namun rasa penasaran mengalahkan rasa takutnya. “Apa ini? Kenapa aku mendengar bisikan?”
Sosok itu tidak menjawab, hanya mengangkat tangannya. Seketika, desir ombak keras menyapu pasir di kakinya, membuatnya jatuh terduduk. Saat ia mengangkat kepala, sosok itu telah menghilang, meninggalkan jejak air asin yang membentuk simbol yang sama seperti di papan kayu.
Gelombang yang Membelah Dunia
Malam semakin larut, dan langit mulai diselimuti awan gelap. Angin bertiup kencang, membawa aroma garam yang menusuk hidung. Ayu menyadari papan kayu di tangannya kini bergetar, seperti memiliki denyut nadi.
Tanpa sadar, ia mengikuti arah desir ombak keras yang terus memanggilnya. Setiap langkah mendekati air membuat sekelilingnya terasa lebih dingin dan sunyi. Ketika ia berdiri tepat di bibir ombak, sesuatu yang tak masuk akal terjadi—ombak yang datang tiba-tiba terbelah, menciptakan lorong air yang memanjang ke tengah laut.
Di dalam lorong itu, Ayu melihat bayangan-bayangan bergerak, bentuknya seperti manusia, tapi dengan tubuh transparan dan mata hitam pekat. Mereka melambai, memanggilnya untuk masuk.
Dunia di Bawah Laut
Ayu melangkah ke lorong air itu, meski hatinya berdebar keras. Semakin ia masuk, dunia di sekitarnya berubah. Langit menghilang, digantikan cahaya kehijauan yang memancar dari dasar laut. Di kejauhan, ia melihat bangunan-bangunan batu raksasa, tertutup terumbu karang yang bersinar samar.
Namun suasana di tempat itu terasa berat. Tidak ada suara selain detakan jantungnya sendiri. Bayangan-bayangan yang tadi memanggil kini mengelilinginya. Wajah mereka pucat, mata kosong, dan dari mulut mereka mengalir air laut.
Seorang dari mereka mendekat, menyentuh pundaknya. “Kau pembawa kunci. Papan itu adalah gerbang, dan kau telah membukanya.”
Teror yang Menerobos
Tanah di bawah kaki Ayu mulai retak, mengeluarkan gelembung udara besar. Dari celah itu muncul sesuatu yang jauh lebih mengerikan—seekor makhluk laut raksasa dengan kepala menyerupai manusia, namun berkulit sisik dan bertaring panjang. Matanya merah menyala, dan suaranya seperti ribuan ombak pecah sekaligus.
“Siapa yang berani memanggilku?” raungnya.
Desir ombak keras dari arah pantai terdengar semakin intens, seakan seluruh lautan ingin bergabung dalam amarah makhluk itu. Ayu mencoba lari, tapi papan kayu di tangannya berubah menjadi rantai yang melilit pergelangan tangannya.
Upaya Melarikan Diri
Di tengah kepanikan, Ayu mengingat senter kecil di sakunya. Ia mengarahkannya ke papan kayu, dan sinar itu membuat ukiran simbol di papan bersinar terang. Bayangan-bayangan yang tadi mengelilinginya berteriak kesakitan, menghilang satu per satu.
Makhluk laut itu mengamuk, ombak di sekitarnya bergulung setinggi gedung. Ayu berlari melewati lorong air yang mulai menutup, sambil merasakan desir ombak keras di telinganya seperti detakan jam yang memanggilnya kembali.
Kembali ke Pantai
Dengan sisa tenaga, Ayu melompat keluar dari lorong air yang tertutup penuh. Ia terjatuh di pasir Pantai Lovina, tubuhnya basah kuyup dan napasnya tersengal. Di tangannya, papan kayu itu kini pecah menjadi dua, dan lubang di tengahnya mengeluarkan air yang langsung meresap ke pasir.
Suara desir ombak keras kini kembali normal, seperti malam-malam biasa di Lovina. Namun Ayu tahu, sesuatu di dalam laut itu masih menatapnya, menunggu kesempatan untuk kembali.
Akhir yang Terbuka
Ayu meninggalkan pantai dengan langkah cepat, tapi ketika sampai di rumahnya, ia mendengar suara bisikan itu lagi—kali ini dari dalam cermin kamarnya. Papan kayu yang pecah itu, entah bagaimana, sudah berada di mejanya.
Di atasnya, simbol lingkaran itu perlahan terbentuk kembali.
Desir ombak keras dari Pantai Lovina kini seakan bergema di dalam kepalanya, menandakan bahwa gerbang itu belum sepenuhnya tertutup.
Inspirasi & Motivasi : Tradisi Sedekah Laut: Warisan Budaya Pesisir Selatan Jawa