Sekolah yang Ditinggalkan
Di pinggiran kota Bengkulu berdiri bangunan tua dengan papan pudar bertuliskan “Taman Kanak-Kanak Melati Indah.” Cat dindingnya mengelupas, ayunan di halaman berderit pelan setiap kali angin laut bertiup.
Warga sekitar menyebutnya TK berhantu. Mereka percaya di sore hari sering terdengar suara tawa anak-anak padahal sekolah itu telah kosong lebih dari dua puluh tahun.
Orang-orang menyebut sosok mereka sebagai bocah gaib — anak-anak yang meninggal saat kebakaran besar tahun 1998, ketika bangunan itu terbakar di tengah jam tidur siang.
Guru Baru yang Tak Percaya
Suatu hari, Dina, seorang guru muda yang baru pindah dari Curup, ditugaskan untuk mempersiapkan pembukaan kembali sekolah itu. Ia diminta memeriksa kondisi bangunan sebelum direnovasi.
“Saya tidak takut,” katanya pada warga yang memperingatkannya. “Anak-anak itu hanya kenangan, bukan arwah.”
Ia datang sore itu, membawa kunci dari dinas pendidikan. Begitu membuka pintu, aroma kayu terbakar samar masih terasa.
Jejak di Halaman
Halaman sekolah dipenuhi daun kering. Dina melangkah ke arah ayunan, rantainya berkarat tapi bergerak perlahan, seolah baru saja dimainkan.
Ia memungut bola plastik kecil di bawah pohon mangga. Bola itu masih utuh dan bersih, seperti baru ditinggalkan anak-anak.
Lalu terdengar tawa — suara anak-anak bermain kejar-kejaran. Suara itu datang dari arah ruang kelas, padahal angin di luar begitu tenang.
“Siapa di sana?” panggil Dina. Tak ada jawaban, hanya suara langkah kecil berlari menjauh di lantai kayu.
Lukisan di Dinding
Di dalam ruang kelas, dindingnya dipenuhi coretan krayon yang sudah pudar. Tapi satu gambar menarik perhatiannya — gambar lima anak berdiri sambil memegang balon. Wajah mereka tanpa mata dan mulut.
Saat Dina mendekat, cat di dinding bergetar seperti basah, lalu perlahan muncul tulisan di bawah gambar:
“Kami masih di sini, Bu.”
Dina mundur, kunci di tangannya jatuh. Udara di ruang itu berubah dingin, dan bau asap terbakar terasa semakin kuat.
Cerita dari Penjaga Lama
Ketika keluar, Dina bertemu Pak Idris, penjaga tua yang rumahnya berada di seberang jalan. Ia tersenyum getir saat mendengar suara tawa yang tadi.
“Itu suara mereka,” katanya pelan. “Mereka suka bermain waktu senja. Dulu, waktu api membakar, anak-anak sedang tidur siang. Tak ada yang sempat diselamatkan.”
Dina menatap halaman yang kini mulai diselimuti kabut sore. Ia melihat ayunan bergerak lagi, tapi kali ini ada bayangan kecil duduk di sana — samar, berwarna abu, seperti bayangan yang lupa punya tubuh.
Malam Pertama di TK Tua
Dina memutuskan bermalam di ruang guru karena penasaran. Ia ingin membuktikan bahwa suara itu bisa dijelaskan secara logis.
Menjelang pukul sebelas malam, ia mendengar suara krayon digoreskan di papan tulis. Dina bangkit dan menyalakan senter. Di papan, tertulis huruf-huruf acak seperti tulisan anak TK:
“Bu… ayo main.”
Di pojok ruangan, bola plastik yang ia temukan sore tadi berguling sendiri menuju pintunya. Lalu suara langkah kecil terdengar di luar.
Dina berlari ke jendela dan melihat lima bayangan anak berlari di halaman, tertawa di bawah cahaya bulan. Suara tawa mereka nyaring, tapi kosong — seperti gema tanpa asal.
Pagi yang Aneh
Keesokan paginya, Dina menemukan sepatu-sepatu kecil tersusun rapi di depan ruang kelas. Lima pasang. Semuanya hangus di bagian ujung, seolah terbakar.
Ia mencoba menanyakan kejadian itu kepada warga, tapi tak ada yang berani menjawab. Hanya Pak Idris yang berkata, “Kalau kau mendengar tawa mereka, jangan menatap langsung. Mereka senang kalau diperhatikan.”
Namun malam berikutnya, Dina justru menunggu di jendela ruang guru, ingin melihat mereka lebih jelas.
Bocah Gaib di Ayunan
Tepat pukul enam sore, saat langit mulai oranye, suara tawa itu muncul lagi. Kali ini lebih dekat. Dina melihat ayunan bergerak kuat, seperti dinaiki lebih dari satu anak.
Lalu sosok mereka terlihat — lima anak berwujud samar, wajahnya kosong tanpa mata. Mereka tertawa, bermain bola, dan saling berkejaran seperti anak-anak normal.
Salah satu dari mereka, seorang gadis kecil bergaun merah, berhenti dan menatap ke arah jendela tempat Dina berdiri. Ia tersenyum — senyum yang perlahan berubah menjadi jeritan panjang.
Api yang Kembali Menyala
Tiba-tiba, udara di sekitar menjadi panas. Dina mencium bau asap menyengat. Ketika menatap halaman lagi, sekolah itu seperti berubah. Cat dindingnya gosong, api menjalar di jendela, dan tawa anak-anak berubah menjadi tangis.
Gadis bergaun merah mendekat ke jendela, wajahnya kini hitam terbakar. Ia berbisik:
“Bu… kenapa tidak buka pintu waktu itu?”
Dina mundur, ketakutan. Tapi seolah ditarik sesuatu, ia merasa harus membuka pintu kelas. Ketika melangkah ke luar, semuanya kembali normal — tak ada api, tak ada anak-anak. Hanya udara dingin dan ayunan yang diam.
Penemuan di Bawah Papan Lantai
Hari ketiga, Dina menggali informasi dari arsip tua di kantor kecamatan. Ia menemukan laporan kebakaran TK Melati Indah tahun 1998: lima anak meninggal, dan satu guru ikut terjebak.
Nama gurunya… Bu Ratna — guru pertama TK itu, yang tidak pernah ditemukan jasadnya.
Dina merinding. Ia teringat sesuatu. Di ruang guru, lantainya sedikit tidak rata. Ia mencongkel papan kayu itu, dan menemukan sesuatu di bawahnya — selembar foto lama yang gosong di pinggirannya.
Foto itu menunjukkan enam orang: lima anak dan seorang guru perempuan tersenyum. Wajah guru itu mirip dirinya.
Malam Terakhir di Sekolah
Malam itu Dina tak bisa tidur. Di luar, hujan turun pelan. Tiba-tiba suara langkah kecil terdengar dari lorong. Ketika menatap keluar, ia melihat gadis bergaun merah berdiri di ujung koridor, menatapnya.
“Bu Ratna… waktunya pulang,” katanya dengan suara datar.
Dina gemetar. “Aku bukan Bu Ratna.”
Tapi gadis itu hanya tersenyum dan menunjuk ke papan tulis. Di sana, tulisan krayon berubah menjadi huruf besar-besar:
“Ibu tidak boleh pergi lagi.”
Terjebak Dalam Kenangan
Dina mencoba lari ke luar, tapi pintu utama terkunci dari luar. Suara tawa anak-anak memenuhi ruangan, makin keras, makin menusuk telinga. Lampu berkelap-kelip, dan di setiap pantulan jendela ia melihat wajah anak-anak itu muncul satu per satu.
Tangan-tangan kecil mereka meraih pundaknya, dingin seperti udara pagi. Mereka menariknya ke arah ruang kelas yang dulu terbakar.
“Main, Bu… ayo main sama kami…”
Dina menjerit, tapi tubuhnya terasa ringan — seperti ditelan cahaya dari balik dinding.
TK yang Kembali Tertutup
Keesokan paginya, Pak Idris mendapati pintu sekolah terbuka lebar. Di dalamnya tidak ada siapa-siapa, hanya bola plastik yang menggelinding pelan ke arah pintu.
Di papan tulis tertulis dengan krayon merah:
“Terima kasih, Bu Ratna sudah kembali.”
Sejak hari itu, suara tawa anak-anak di TK tua itu semakin sering terdengar. Bahkan warga yang lewat malam hari melihat enam bayangan kecil berlarian di halaman — satu di antaranya perempuan dewasa memakai rok panjang, ikut tertawa di antara mereka.
Legenda yang Hidup
Kini TK Melati Indah tak lagi direnovasi. Pemerintah memasang papan larangan masuk. Tapi tiap sore, terutama saat senja dan angin laut membawa aroma garam, suara tawa anak-anak menggema dari halaman.
Dan bila kau berdiri di luar pagar dan memanggil mereka, terkadang salah satu akan berhenti bermain dan menatapmu lama — bocah bergaun merah dengan wajah pucat, melambai pelan, mengajak bermain.
Mereka bilang itu bukan ajakan bermain biasa. Itu undangan untuk ikut tinggal bersama bocah gaib di halaman TK tua Bengkulu.
Inspirasi & Motivasi : Mahasiswa Wirausaha yang Jadi Inspirasi Satu Kampus