Bayangan Di Kursi Bioskop Tua Balikpapan Menatapku Terus

Bayangan Di Kursi Bioskop Tua Balikpapan Menatapku Terus post thumbnail image

Hujan dan Papan Nama yang Patah

Malam itu hujan jatuh miring di Balikpapan. Anginnya tajam, seperti meniup paku halus. Karena jaketku tipis, aku mencari tempat berteduh. Di ujung jalan, sebuah bioskop tua berdiri sendirian. Lampu neonnya tinggal satu, berkedip lemah. Sementara itu, genangan di trotoar memantulkan pintu masuk yang setengah terbuka. Dan di pantulan itu, bayangan kursi tampak lebih dulu daripada aku.

Awalnya aku mengira itu cuma permainan lampu. Namun sorotannya tidak masuk akal. Cahaya dari neon seharusnya pendek. Akan tetapi, bentuk kursi di lantai terlihat panjang. Selain itu, arah bayangannya menentang sumber cahaya. Jadi, aku menelan ludah, lalu melangkah masuk. Meski ragu, rasa dingin membuatku nekat.

Di lobi, karpetnya basah dan berdebu. Bau lembap bercampur minyak mesin. Kemudian terdengar bunyi detik jam yang terlalu keras. Padahal ruangannya sepi. Lebih aneh lagi, suara hujan mendadak jauh. Seolah pintu tadi menutup dunia luar. Dan lagi-lagi, bayangan kursi menyusul di belakang tumitku.


Loket Gelap dan Tiket Bernomor 13

Dari balik kaca buram, seorang penjaga loket muncul. Wajahnya pucat, tetapi senyumnya rapi. “Satu tiket?” tanyanya pelan. Padahal tidak ada poster film. Tidak ada jadwal. Bahkan, loket itu seperti tak pernah dibuka lama. Namun, demi sopan, aku mengangguk. Selain itu, aku masih berharap bisa menunggu hujan reda.

Tangannya mengulur tiket kertas. Kertasnya dingin, seperti disimpan di kulkas. Lalu aku melihat angka di pojoknya: 13. Aku hampir tertawa. Angka itu terasa terlalu “cerita hantu.” Akan tetapi, tinta hitamnya tampak basah. Seakan baru ditulis barusan. Sementara itu, bayangan kursi di lantai bergerak, seperti mendekat ke loket.

Penjaga itu menambahkan, “Masuk saja. Jangan berdiri lama.” Ucapannya datar. Namun matanya seperti memohon. Sesaat kemudian, lampu lobi meredup. Karena panik, aku menoleh ke kaca loket. Anehnya, wajahku terlihat di sana. Tetapi ada sesuatu di belakangku. Bentuknya seperti sandaran kursi. Dan bayangan kursi itu tidak ikut berkedip.

Aku berbalik cepat. Tidak ada siapa pun. Meski begitu, udara terasa lebih berat. Jadi, aku memilih berjalan ke lorong. Daripada menatap loket yang makin gelap, aku lebih suka menyelesaikan ini.


Lorong Merah dan Kursi yang Menatap Balik

Lorongnya dicat merah pudar. Catnya mengelupas, seperti kulit lama. Di beberapa titik, ada bekas telapak tangan kecil. Noda itu menghitam, seperti lumpur kering. Lalu, dari ujung lorong, terdengar dengung proyektor. Suaranya halus, teratur, seperti napas orang tidur. Karena itu, aku bergerak lebih cepat.

Di depan pintu studio, papan kecil tergantung miring. Tulisannya hampir hilang. Meski begitu, pintunya terbuka sedikit. Cahaya redup merembes keluar. Aku mendorongnya perlahan. Engselnya tidak berderit. Keheningan itu justru menakutkan. Selain itu, bayangan kursi di lantai mendahului, seolah masuk duluan.

Studio itu luas, tetapi kusam. Kursi-kursinya berjajar rapat, kainnya robek, busanya mengintip. Namun layar di depan menyala pucat. Seakan film sudah dimulai. Karena tiketku 13, aku mencari nomor itu. Sambil berjalan, aku merasakan udara makin dingin. Bahkan napasku terlihat tipis.

Akhirnya aku menemukannya: kursi 13. Cat nomornya paling baru. Kursi itu juga tampak “berisi,” seperti ada yang baru duduk. Dan di bawahnya, bayangan kursi jatuh ke arah belakang. Bukan ke arah layar. Jadi, kursi itu seperti menatapku. Bukan sebaliknya.


Film Tanpa Judul yang Menyebut Namaku

Pelan-pelan aku duduk. Busa kursi 13 menelan tubuhku terlalu dalam. Kainnya lembap, seperti kain lap. Karena jijik, aku ingin berdiri lagi. Namun lututku terasa berat. Seolah lantai menahan. Pada saat yang sama, dengung proyektor naik setingkat. Dan bayangan kursi menebal, seperti diberi tinta baru.

Di layar, muncul lobi bioskop. Adegan itu terlihat bersih dan ramai. Orang-orang tertawa, membawa popcorn. Gaya pakaian mereka tua, seperti film lama. Lalu seorang anak kecil menoleh ke kamera. Matanya kosong. Tangannya memegang tiket bernomor 13. Sementara itu, di belakang anak itu, bayangan kursi berdiri tegak. Bentuknya mirip manusia tanpa kepala.

Suara dari speaker tua berderak. Kemudian terdengar bisikan. “Kau terlambat,” katanya. Bisikan itu dekat sekali, seperti di samping telinga. Aku menoleh. Kursi sebelah kosong. Akan tetapi, bayangan kursi di bawah kursi itu merayap. Ujungnya seperti jari.

Layar berubah. Kini tampak close-up kursi 13. Noda gelap ada di sandarannya. Lalu huruf-huruf muncul pelan dari noda itu. Namaku terbentuk jelas. Karena kaget, aku memaksa berdiri. Namun kursi 13 berbunyi klik. Bunyi itu seperti gigi mengatup. Dan bayangan kursi menahan pinggangku dari bawah, seperti sabuk tak terlihat.


Penonton Gelap dan Tepuk Tangan yang Pelan

Aku berhasil berdiri. Namun jalan ke lorong terasa jauh. Kursi-kursi di kiri kanan seperti makin rapat. Seolah barisan itu menyempit. Selain itu, udara berbau karpet basah yang diperas. Sementara itu, bayangan kursi memanjang ke depan, menutup jalurku setengah.

Di barisan depan, siluet mulai muncul. Mula-mula hanya kepala. Lalu bahu. Setelah itu, tubuh penuh. Mereka duduk tanpa menekan busa. Kursi tidak bergerak. Tetapi “penumpangnya” jelas ada. Karena itu, dadaku sesak. Aku merasa seperti masuk ruangan yang sudah dipenuhi orang mati.

Tepuk tangan terdengar pelan. Ritmenya rapi, seperti hujan di atap seng. Kemudian beberapa siluet menoleh. Meski tak ada wajah, tatapannya terasa nyata. Mereka berbisik serempak, “Kau sudah duduk.” Kalimat itu pendek, tetapi menggigit. Dan bayangan kursi di bawah kursi 13 ikut “mengangguk,” seolah setuju.

Layar menampilkan aku berdiri di studio. Itu bukan rekaman lama. Itu kejadian sekarang. Bedanya, versi di layar terlambat setengah detik. Jadi, saat aku bergerak, gambar ikut menyusul. Seolah waktuku ditarik masuk. Karena panik, aku melangkah mundur. Namun pergelanganku seperti tersangkut. Bayangan kursi mengaitku dari lantai.

Aku menepis kosong. Tentu saja tidak ada yang bisa kupegang. Namun rasa kaitnya tetap ada. Maka, aku memilih lari ke sisi studio. Aku hanya butuh satu celah.


Ruang Proyektor dan Peringatan Penjaga Loket

Aku berlari ke pintu kecil bertuliskan “PROYEKTOR.” Anehnya, pintu itu terbuka saat kusentuh. Di dalam, mesin panas menyembur. Bau ozon dan seluloid menusuk hidung. Namun yang membuatku mual adalah gulungan film di meja. Gulungannya hitam pekat. Permukaannya seperti kulit. Dan ia berdenyut pelan.

Di dinding, foto-foto lama dipajang. Setiap foto menyorot studio ini. Kursi nomor 13 selalu diberi lingkaran merah. Di bawah lingkaran, ada tulisan tangan: bayangan kursi. Aku menelan ludah. Lalu mataku menangkap saklar utama. Aku mengangkat tangan untuk mematikannya.

“Tunggu,” suara serak muncul dari belakang. Aku menoleh. Penjaga loket berdiri di ambang pintu. Wajahnya semakin pucat. Matanya basah, seperti menahan takut. Kakinya tidak menyentuh lantai. Sebaliknya, bayangan kursi ada di bawahnya. Seolah ia berdiri di kursi yang tak terlihat.

“Kalau proyektor mati, mereka bangun,” katanya. Kalimatnya pendek. Tetapi nadanya putus asa. “Film ini menidurkan mereka.” Ia menunjuk pintu kecil di sudut. “Keluar lewat sana. Jangan bawa itu.” Jemarinya mengarah ke lantai. Ke arah bayangan kursi yang menempel di sepatuku.

Aku ingin bertanya. Namun tenggorokanku kering. Jadi, aku memilih bergerak. Daripada menunggu penonton gelap itu bangun, aku mengambil risiko. Aku menerobos pintu sudut. Pintu itu menutup sendiri dengan bunyi halus.


Lorong Nomor Kursi dan Kursi yang Berdiri Sendiri

Di balik pintu, lorongnya sempit. Dindingnya penuh angka, seperti alamat rumah. Ada 7, 9, 11, lalu 13. Angka-angka itu ditulis berulang. Seakan lorong ini milik kursi-kursi, bukan manusia. Sementara itu, dengung proyektor terdengar jauh. Namun suaranya tetap mengejar.

Di ujung lorong, kursi 13 berdiri sendirian. Tidak ada barisan lain. Kursi itu seperti sengaja dipisahkan. Kainnya lebih gelap. Sandarannya basah, seperti berkeringat. Namun yang paling salah adalah ini: bayangan kursi duduk di atas kursi itu. Padahal, bayangan seharusnya di lantai. Jadi, bentuk itu seperti makhluk yang memakai kursi sebagai tubuh.

Aku berhenti mendadak. Nafasku patah-patah. Namun lorong di belakangku terasa menciut. Seolah dinding mendekat. Karena itu, aku menutup mata dan berlari. Aku memilih melewati kursi itu. Aku tidak mau “diundang” duduk lagi. Dan bayangan kursi menjerit tanpa suara, seperti kain yang disobek.

Saat melewatinya, hawa dingin menempel di kulit. Aku juga merasakan sentuhan di punggung, seperti tangan kecil. Tetapi aku tidak menoleh. Aku terus lari. Akhirnya lorong berakhir pada pintu keluar. Aku menendangnya sekuat tenaga. Pintu itu terbuka. Hujan menyambut, keras dan dingin.

Namun jalanan di luar kosong. Lampu kota jauh, seperti bintang malas. Meski begitu, aku tetap berlari. Aku hanya ingin menjauh dari angka 13.


Bayangan yang Ikut Pulang

Aku berhenti di bawah atap warung yang tutup. Air menetes dari rambutku. Dadaku terasa seperti diperas. Karena capek, aku menunduk ke genangan. Di situlah aku membeku. Pantulan tubuhku tidak berdiri. Pantulan itu duduk, seperti di kursi bioskop. Dan di bawah pantulan itu, ada bayangan kursi yang rapi.

Ponselku bergetar. Layar menyala sendiri. Sebuah foto muncul, baru saja diambil. Studio bioskop terlihat di layar. Kursi-kursinya terisi siluet. Di kursi 13, ada aku. Kepalaku tertunduk. Di sebelahku, ada ruang kosong. Ruang itu seperti disediakan untuk seseorang. Di bawah kursi 13, bayangan kursi menoleh ke kamera. Bentuknya seperti tersenyum, walau tanpa mulut.

Sejak malam itu, aku tidak pernah duduk dengan tenang. Saat aku duduk di bus, sandaran terasa lebih dingin. Ketika aku duduk di rumah, kursi seperti “mengunci.” Bahkan di kafe terang, aku tetap merasa dipandangi. Karena itu, aku mulai berdiri lebih sering. Aku mulai memilih lantai. Namun tetap saja, bayangan kursi mengejar lewat pantulan kaca.

Kadang, saat hujan miring turun di Balikpapan, aku mendengar dengung proyektor dari jauh. Suaranya pelan, tetapi stabil. Seolah film itu belum selesai. Seolah kursi nomor 13 masih menagih penonton. Dan yang paling menakutkan, aku takut suatu malam… aku akan duduk, lalu tidak pernah bangun lagi.

Berita & Politik : Pengaruh Globalisasi terhadap Kebijakan Ekonomi Domestik

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post