Bayangan Arwah Kapal Hilang di Laut Selatan Tulungagung

Bayangan Arwah Kapal Hilang di Laut Selatan Tulungagung post thumbnail image

Prolog: Jeritan di Tengah Ombak

Kabut pekat membalut Laut Selatan malam itu. Ombak datang dan pergi bergemuruh, meninggalkan gema kosong yang menusuk jiwa. Namun, di antara deru air, terdengar suara ratap—jeritan putus asa yang memecah angin dingin: arwah kapal hilang berseru memanggil jiwa-jiwa yang berani mendekat. Nelayan tua mengatakan, pada malam bulan gelap, bangkai kapal Baruna II muncul samar di cakrawala, disertai lampu senter berkelip seolah menuntun korban baru.

Bayu, pemuda asal Tulungagung, menatap cakrawala dengan mata terpaku. Malam ini, ia bertekad membuktikan kebenaran cerita turun-temurun tentang kutukan bahari itu. Tanpa ia sadari, langkahnya perlahan menginjak batas antara dunia manusia dan alam gaib yang tak terjamah.


Legenda Kapal Baruna II

Dahulu, Baruna II adalah kapal pengangkut batu bara terbesar di pesisir selatan. Pada tahun 1973, badai dahsyat menerjang tanpa ampun. Riwayat resmi mencatat kapal hilang tanpa jejak, namun desas-desus nelayan menyebut bahwa mesin kapal mendadak mati saat badai mencapai puncak. Kru kapal kabur ke geladak atas, berusaha menyelamatkan diri, namun ombak memisahkan mereka satu per satu.

Menurut seorang juru kunci pura pantai, para dewa laut murka karena Baruna II membawa muatan batu bara—“batu hitam yang merusak arus suci” katanya. Sejak itulah, tiap malam gelap, arwah kapal hilang berkeliaran di permukaan air, menuntut upacara penebusan yang belum pernah dilakukan.


Jejak Kapal di Dasar Laut

Beberapa nelayan modern memasang sonar untuk mencarinya. Rekaman kedalaman menampilkan siluet panjang kapal di dasar pantai, ditutupi pasir dan karang. Terlebih lagi, saat sonar menyorot area gelap itu, sensor menangkap getaran halus—seperti detak jantung raksasa—yang membuat layar bergetar.

“Suara itu bukan mesin,” kata Bayu pada rekannya, Intan, sembari menunjukkan rekaman audio. Gelombang suara rendah dan berulang—mirip derit kayu tua—terekam dengan jelas. arwah kapal hilang tidak bisa beristirahat, dan jeritannya terperangkap dalam kedalaman gelap.


Penampakan Cahaya Merah

Pada malam keempat, Bayu dan Intan menambatkan perahu di atas lokasi bangkai. Tiba-tiba, lampu senter di buritan memantulkan dua titik cahaya merah di permukaan air—seakan mata dua sosok hantu. Intan merekam dengan kamera infra‑merah, namun yang muncul di layar hanyalah kabut gelap dan gelombang bergelombang.

Ketika ia perbesar tayangan, terlihat perahu goyah oleh bayangan samar berbentuk siluet manusia, memegang lampu kapal. Sosok itu menunduk lalu menoleh, menatap tepat ke kamera. Bayangan itu menghilang dalam kedipan cahaya, meninggalkan aroma anyir laut dalam dan kesunyian mencekam.


Bisikan dari Kedalaman

Tidak hanya cahaya, rekaman audio malam itu memuat bisikan mengerikan:

“Bawa aku pulang… pulang ke pelabuhan… jangan tinggalkan aku…”
Nada itu terselip di antara dentuman ombak, bagai ratapan jiwa keluar dari tubuh kayu kapal. Bayu menahan napas, merasakan bulu kuduk berdiri. Ia sadar, arwah kapal hilang telah mengenali jejak mereka, menuntut agar korban selamat membebaskan arwah tertahan.


Pencarian Upacara Penebusan

Malam berikutnya, mereka berangkat ke desa nelayan Tumpang. Di sana, mereka menemui Ki Syarif, dukun laut yang konon pernah menyaksikan ritual pelarungan korban kapal. Ki Syarif menjelaskan bahwa setiap korban yang tenggelam tanpa upacara, jiwanya mengembara mencari kedamaian.

Ritual penebusan menuntut ayam putih, beras kuning, air suci laut selatan, dan tiga ekor kembang melati. Setelah itu, arwah akan dipandu kembali ke perairan dalam melalui doa kuno. Namun upacara harus dilakukan di kapal di atas perahu Baruna II, di tengah gelombang.


Malam Pengusiran Arwah

Dengan hati was-was, Bayu dan Tim mengadakan ritual di atas sesajen yang dipasang di dek perahu. Lilin kuning berkelip di tengah kabut, menebar cahaya lembut. Ki Syarif melantunkan mantra dalam bahasa Sansekerta—diselingi alunan musik gamelan hening yang dipetik di ponsel.

Saat doa mencapai klimaks, ombak tiba-tiba berderum lebih keras, seakan bergemuruh membalas lantunan. Cahaya merah terpancar di kejauhan, membentuk siluet Baruna II. Kemudian sorot lampu kapal tua menyapu ke arah perahu, menciptakan bayangan raksasa di atas air. Bayu merasakan keberadaan arwah di sekitarnya, mendesak doa terus dilanjutkan.

Akhirnya, ledakan gemuruh menggelegar, lilin padam, dan gelombang tenang menggantikan badai. Dari kejauhan, terdengar teriakan perempuan—“Terima kasih…”—lalu lenyap diserap air laut.


Epilog: Warisan Jeritan Bahari

Sejak malam itu, arwah kapal hilang di Laut Selatan Tulungagung tidak pernah muncul lagi. Nelayan kembali berlayar dengan tenang, meski sesekali menangkap derit kayu tua di dasar kapal, serta cahaya merah samar di cakrawala.

Bayu menyimpan rekaman video dan audio dalam arsip misteri lautnya. Ia bertekad membagikan kisah kelam ini sebagai peringatan: hormatilah laut, dan jangan lupakan jiwa yang terenggut. Karena di kedalaman sana, arwah yang terlupakan masih menunggu… untuk pulang.

Lifestyle : Fashion Lokal Ramah Lingkungan dan Berdaya Saing Global

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post