Bayang Samar Di Kamar Nomor Sembilan Hotel Ternate

Bayang Samar Di Kamar Nomor Sembilan Hotel Ternate post thumbnail image

Kedatanganku ke Hotel Ternate

Perjalananku ke Ternate sebenarnya hanya untuk menghadiri seminar kecil di pusat kota. Namun, karena semua hotel di dekat lokasi acara sudah penuh, aku terpaksa menginap di hotel tua dekat kawasan pesisir. Walaupun bangunannya tampak usang, resepsionis mengatakan masih ada satu kamar tersisa: kamar nomor sembilan.

Saat itu aku tidak tahu apa pun tentang kamar tersebut. Namun, ketika kunci diberikan, resepsionis menatapku dengan ragu. Ia sempat membuka mulut seperti ingin memperingatkan sesuatu, tetapi akhirnya hanya berkata, “Kalau ada suara aneh, abaikan saja.” Kalimat itu langsung membuatku gelisah, tetapi aku tetap membawa koper menuju lantai dua.

Lorong menuju kamar sembilan terasa lebih dingin dibandingkan bagian hotel lainnya. Lampunya berkedip sesekali, dan aroma lembap memenuhi udara. Ketika aku melewatkan beberapa pintu, nomor sembilan tampak lebih gelap—seolah bagian lorong itu menarik cahaya ke dalamnya. Bahkan, sebelum aku membuka pintu, aku seperti mencium bau garam bercampur logam.

Namun, meski suasananya janggal, aku tetap masuk. Malam itu, semua akan berubah.


Pertanda Pertama di Dalam Kamar

Ketika aku menyalakan lampu kamar, ruangan itu tampak biasa saja. Tempat tidur tunggal, meja kecil, dan jendela yang menghadap ke halaman belakang hotel. Namun, ada satu hal yang langsung kuperhatikan: cermin besar di sudut kiri ruangan. Cermin itu bentuknya oval, namun permukaannya tampak kusam seperti dipenuhi embun.

Ketika aku mendekat, embun itu bergeser sedikit. Seolah ada sesuatu di balik kaca yang menghembuskan napas. Aku mundur perlahan karena tidak ingin memikirkannya lebih jauh.

Setelah mandi dan menata barang, aku duduk di tepi tempat tidur. Namun seiring waktu, ruangan itu terasa semakin dingin. Selain itu, lampu di kamar berkedip sekali tiap beberapa menit. Meskipun aku mencoba mengabaikannya, kegelisahan mulai tumbuh.

Ketika aku menutup mata, tiba-tiba terdengar suara gesekan halus dari arah cermin. Suara itu seperti seseorang mengusap permukaannya dari dalam.


Kemunculan Pertama

Aku membuka mata dan menatap ke arah cermin. Awalnya tidak terlihat apa-apa, tapi perlahan muncul sebuah bentuk gelap di sudut kanan pantulan. Bentuk itu tidak bergerak. Ia hanya berdiri diam.

Aku menatap ke sudut kamar yang sama—kosong.
Namun, ketika aku kembali menatap cermin, bentuk itu menjadi lebih jelas. Sebuah bayang samar, tinggi, kurus, dan memanjang seperti ditarik paksa.

Aku membeku. Bayangan itu tidak memiliki wajah. Hanya cekungan gelap di tempat seharusnya mata berada. Meski tidak bergerak, aku bisa merasakan tatapannya menusuk melalui cermin. Bahkan, udara di kamar menjadi sangat dingin dan napasku mulai terlihat seperti kabut tipis.

Aku menutup mata untuk beberapa detik, lalu membukanya kembali. Bayang itu menghilang.
Meski begitu, suasanya tidak kembali normal. Justru sebaliknya—suara langkah kecil terdengar dari arah kamar mandi.


Peringatan dari Petugas Hotel

Keesokan paginya, aku turun untuk sarapan. Resepsionis menatap wajahku yang tampak lesu. “Kau tidak tidur, ya?” tanyanya. Aku hanya menggeleng. Ia ragu sejenak, lalu berkata, “Kamar nomor sembilan… memang sering begitu. Banyak tamu melihat bayang samar muncul di sana.”

Aku menelan ludah. “Kenapa tidak ada yang memperbaikinya?”
Ia menunduk. “Karena itu bukan kerusakan. Itu… peninggalan.”

Ketika aku bertanya lebih jauh, seorang petugas kebersihan yang lewat tiba-tiba menyela dengan wajah pucat. “Kalau tidur di kamar itu, jangan taruh apa pun di depan cermin. Dia tidak suka tempatnya terhalang.”

Kalimat itu membuatku merinding. Tidak suka tempatnya terhalang?
Siapa “dia”?


Kembali ke Ruangan yang Menolak Cahaya

Ketika aku kembali ke kamar siang itu, suasana masih terasa beku meski matahari sedang terik-teriknya. Bahkan, sinar yang masuk lewat jendela tampak meredup begitu menyentuh lantai kamar.

Cermin di sudut ruangan kembali dipenuhi embun. Namun kali ini, embun itu membentuk garis-garis seperti sidik jari yang panjang dan tipis. Sidik jari itu bergerak perlahan ke bawah, meninggalkan jejak.

Dengan gugup, aku mencoba mengalihkan perhatian. Namun suara aneh kembali muncul—suara seseorang berjalan pelan tanpa alas kaki. Suara itu tidak berasal dari lorong, tetapi dari dalam kamar.

Ketika aku menatap sudut kamar, bayang hitam kecil melintas dengan sangat cepat. Seperti seseorang berlari menembus dinding. Jantungku berdegup kencang. Aku tidak ingin mengakuinya, tetapi aku tahu sesuatu sedang memperhatikan setiap gerakanku.


Cerita Kelam Dari Masa Lalu

Sore itu, karena tidak tahan dengan rasa takut, aku mendatangi petugas kebersihan yang sebelumnya memperingatkanku. Lelaki tua itu akhirnya bercerita.

Menurutnya, bertahun-tahun lalu seorang tamu perempuan menginap di kamar nomor sembilan. Ia datang sendirian dan menghabiskan banyak waktu di depan cermin itu. Setiap malam, ia duduk menatap bayangannya sendiri dalam kondisi lampu mati.

Setelah tiga hari, petugas menemukan perempuan itu tewas di depan cermin dengan posisi duduk. Matanya terbuka lebar, dan tubuhnya masih menghadap kaca. Tidak ada tanda kekerasan. Namun wajahnya tampak seperti pernah melihat sesuatu yang tidak seharusnya dilihat manusia.

Sejak itu, banyak tamu melaporkan melihat bayang samar di sekitar ruangan. Bahkan cermin itu pernah dicopot, tetapi keanehan justru semakin parah. Karena itu, pihak hotel mengembalikan cermin tersebut ke tempat asalnya.


Bayang yang Mulai Mendekat

Malam kedua adalah malam paling mengerikan. Karena aku sangat lelah, aku mencoba tidur lebih awal. Namun setengah jam kemudian, suara ketukan pelan terdengar dari arah belakang kepala ranjang. Ketukan itu teratur, seperti pesan yang ingin disampaikan.

Ketika aku membuka mata, lampu kamar padam. Hanya cahaya dari luar jendela yang membuat ruangan tampak biru gelap. Aku merasa ada yang berdiri di sudut kamar.

Dengan napas berat, aku menoleh ke arah cermin.
Dan di sanalah dia.

Bayang samar itu kini jauh lebih dekat, hanya beberapa langkah dari ranjang. Bentuknya lebih padat, dan meski wajahnya masih berupa cekungan hitam, aku bisa melihat garis mulutnya mulai terbentuk—sebuah senyum panjang dan tipis.

Tubuhnya seperti terbuat dari kabut tebal, namun gerakannya sangat nyata. Ia melangkah maju satu langkah… lalu satu lagi.


Ketika Bayangan Menyentuh Kulitku

Aku mencoba bangun, tetapi tubuhku tidak bisa bergerak. Seolah ada tangan tak kasatmata menahan bahuku. Bayangan itu terus mendekat sambil mengeluarkan suara napas yang sangat dingin.

Ketika ia berada tepat di samping ranjang, sesuatu yang tidak terlihat menyentuh lenganku. Sentuhan itu sangat dingin, seperti es yang menempel pada kulit. Namun bersamaan dengan dingin itu, muncul suara pelan dari arah cermin: bisikan panjang, namun tidak berbahasa manusia.

Bayangan itu mengangkat kepala sedikit, seolah sedang mengamati wajahku. Sementara itu, garis senyumnya semakin lebar.

Dan tepat ketika ia hendak menyentuh wajahku, lampu kamar menyala kembali.


Cermin Yang Tidak Bisa Ditutup

Aku bangkit dengan napas terengah-engah. Tubuhku gemetar hebat. Karena tidak ingin melihat cermin itu lagi, aku menutupnya dengan kain handuk besar. Namun baru dua detik kemudian, handuk itu terjatuh sendiri.

Aku mencobanya lagi—dan jatuh lagi.
Kain itu seperti didorong dari dalam kaca.

Ketika aku berdiri di depannya dan mencoba menutupnya untuk ketiga kalinya, aku melihat sesuatu yang membuatku ingin menjerit.
Dalam pantulan, bayang samar itu berdiri tepat di belakangku—padahal ruangan kosong.

Ketika aku memutar tubuh, tidak ada siapa-siapa.
Namun ketika aku kembali menatap kaca, bayangan itu semakin dekat dengan wajahku.


Tengah Malam: Denting Gelas Yang Retak

Pada pukul 2:13 dini hari, suara denting retakan tiba-tiba terdengar dari meja kecil. Gelas air yang tadi kosong kini retak di bagian tengah. Retakannya membentuk pola seperti jari.

Sekali lagi aku mendengar suara langkah pelan. Suara itu kini tidak menyeret, melainkan seperti seseorang yang sedang mengitari ranjang. Setiap kali langkah itu bergerak, hembusan angin dingin menyentuh kulitku.

Ketika aku menarik selimut, ujung selimut itu tiba-tiba tertarik ke arah lantai oleh sesuatu yang tidak terlihat. Gerakannya kuat—seolah seseorang mencoba menarikku turun.


Bayang Samar Menampakkan Bentuk Asli

Ketika aku melompat dari ranjang dan menyalakan senter ponsel, seluruh kamar tampak penuh kabut tipis. Kabut itu berputar pelan dan mengumpul menjadi satu titik—tepat di depan cermin.

Dalam hitungan detik, kabut itu membentuk tubuh.
Tubuh itu mirip manusia, tetapi lengannya terlalu panjang, dan kepalanya tidak memiliki bentuk sempurna.

Ketika wajahnya terbentuk, aku melihat matanya—dua lubang gelap yang dalam.
Dan mulutnya terbuka sangat lebar, lebih lebar dari manusia normal. Dari dalam mulut itu, terdengar suara tangis… dan tawa kecil bercampur menjadi satu.


Akhir dari Malam Itu

Aku tidak ingat bagaimana aku keluar dari kamar. Yang kuingat hanyalah aku sudah berada di lobi hotel dengan tubuh gemetar, sementara resepsionis menatapku dengan wajah penuh rasa bersalah.

“Kau melihatnya, ya?” katanya pelan.
Aku tidak bisa menjawab.

Ia melanjutkan, “Kamar itu tidak pernah benar-benar kosong. Bayang samar itu… selalu mencari tamu baru untuk digantikan.”

Ketika aku hendak pergi meninggalkan hotel, tiba-tiba aku merasa ada yang mengintip dari jendela lantai dua.
Ketika aku melihat ke atas…
Bayangan itu berdiri di belakang tirai kamar nomor sembilan.
Menatapku.

Berita & Politik : Atur Waktu Efektif untuk Tingkatkan Produktivitas Harian

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post